AKBP Akhiruddin yang Tercecer

AKBP Akhiruddin Hasibuan (kaos hijau), bukannya melerai malah memberikan instruksi pada anaknya, Aditya untuk menganiaya Ken Admiral. Pembentukan karakter polisi agaknya perlu dibenahi.

SEMENJAK kasus Irjen Ferdy Sambo, Kapolri Listyo Sigit Prabowo terus bersih-bersih demi mengembalikan citra polisi. Tapi ketika kepercayaan masyarakat mulai pulih, eh…..ada polisi nakal yang masih tercecer. Blio-nya adalah AKBP Akhiruddin Hasibuan, Kabag Binops pada Direktorat Narkoba Polda Sumut. Gara-gara kasus anak lelakinya, Aditya Hasibuan, menganiaya mahasiswa diviralkan, borok-borok Akhiruddin pamen polisi kaya ngaku miskin, jadi terungkap.

Kasus Ferdy Sambo terjadi pada Juli 2022. Gara-gara perwira tinggi Polri itu mengotaki sekaligus jadi praktisi pembunuhan Brigade Joshua, borok-borok di tubuh Polri  terbongkar satu persatu. Kejahatan para oknum perwira tinggi terungkap, termasuk Teddy Minahasa mantan Kapolda Sumbar yang ngobyek jualan narkoba. Dalam sidang di Pengadilan Ferdy Sambo  divonis mati sementara Teddy Minahasa baru dituntut mati. Oknum polisi lain yang ikut berlomba-lomba dalam kejahatan semua dapat bagian, dari hukuman yang berat sampai yang ringan.

Kapolri Listyo Sigit pun kemudian bersih-bersih di tubuh Polri. Maka pengamat politik Burhan Muhtadi dari Indikator Politik mencatat, kasus Sambo yang menjadikan citra merosot tinggal 54,4 persen pada Agustus 2022, pada Nopember 2022 meningkat jadi 60,5 persen. Masyarakat ada yang percaya benar-benar (8,7 persen), dan hanya cukup percaya (51,8 persen).

Di kala kepercayaan masyarakat mulai meningkat, eh……pada 22 Desember 2022 nyelonong kasus AKBP Akhiruddin Hasibuan Kabag Binops pada Direktorat Narkoba Polda Sumut. Ketika anaknya, Aditya Hasibuan menganiaya Ken Admiral seorang mahasiswa yang melabrak ke rumah, Akhiruddin Hasibuan sebagai unsur penegak hukum tidak mencegahnya. Meski dia melihat langsung, bukannya menyetopnya, tapi ulah Aditya malah didiamkan saja, ini kan sama saja memberi semangat untuk terus  menganiaya.

Padahal sebagai bayangkara negara, mestinya mencegah segala tindak kejahatan sudah berlangsung secara reflek atau otomatis. Mungkin anaknya yang benar, tapi  masak polisi kok membiarkan tindakan main hakim sendiri? Lalu Akhiruddin ini polisi cap apa? Karena ulahnya itulah ada wacana untuk memeriksa kejiwaannya. Jangan-jangan dia punya bakat untuk menjadi pasien RS Jiwa Kramat Magelang.

Kasus penganiayaan Ken Admiral itu berlarut-larut sampai pertengahan April lalu, karena saksi korban berada di Inggris sebagai mahasiswa yang sedang kuliah di luar negeri. Di zaman now, semua orang bisa jadi wartawan. Maka untunglah ada warganet berakun Twitter @mazzini_gsp yang memviralkan video penganiayaan tersebut pada 25 April lalu. Hasilnya, Polda Sumut pun bertindak cepat, dan Aditya pun ditangkap dan jadi tersangka dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara.

Kasus ini jadi mirip-mirip Dandy Prasetyo lawan David, karena sama-sama berlatar belakang asmara. Dampaknya juga serupa meski tak sama. Ayah Aditya juga disorot dan dikuliti PPATK dengan akibat pencopotan dari jabatannya. Setelah diperiksa Propam Polda Sumut kini AKBP Akhiruddin ditahan, dan berakhirlah kariernya sebagai polisi.

Sejak berpangkat sebelum AKBP, sebetulnya Achiruddin Hasibuan sudah dilirak-lirik PPATK karena lalulintas keuangannya yang mencurigakan. LHKPN terakhir dibuat sejak jaman tempo dulu, yakni 2011 lalu dengan jumlah Rp 460 juta. Dialah oknum pamen Polri yang berlagak miskin padahal uangnya di bank puluhan miliar. Tak masuk akal memang, polisi miskin kok petentang-petenteng kendarai moge dan punya mobil Robicon.

Seperti Dandy Prasetyo dan Rafael Alun Trisambodo ayahnya, kini Aditya dan Akhiruddin ditahan  dan bakal sama-sama masuk penjara. Sayangnya PPATK hingga kini belum berani memastikan dari mana saja aliran dana yang masuk ke rekening Achiruddin. Mengingat jabatannya di bagian reserse narkoba, jangan-jangan satu madzab dengan Teddy Minahasa. Kini Teddy Minahasa sudah binasa, dan giliran Akhiruddin Hasibuan juga berakhir kariernya karena harus menjadi narapidana. (Cantrik Metaram)

Advertisement