Mengenal Post Holiday Blues dan Cara Mengatasinya

Covid-19 selain merenggut jutaan nyawa dan memapar ratusan juta warga dunia, juga menyisakan gangguan mental, baik penyintas maupun orang-orang yang belum pernah terpapar. Selama 2020 sampai Juni saja tercatat 227.000 orang di Indonesia mengalami gangguan mental di tengah pandemi Covid-19.

JAKARTA – Setelah menikmati liburan Lebaran, seringkali muncul perasaan negatif yang disebut post holiday blues. Psikolog klinis dan pendiri Ohana Space, Veronica Adesla, menjelaskan bahwa post holiday blues adalah perasaan tidak menyenangkan seperti sedih, cemas, lelah, dan kecewa yang muncul setelah liburan.

Perasaan ini biasanya berlangsung selama beberapa hari dan membuat seseorang kurang semangat kembali ke rutinitas seperti biasanya.

“Biasanya, kemunculan perasaan ini sifatnya sementara, berlangsung selama beberapa hari sehabis liburan panjang,” kata Veronica dilansir dari Antara, Jumat (28/4/2023).

Akibatnya, seseorang mungkin merasa cemas, tidak bersemangat, kurang fokus, atau tidak optimal dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Namun, Annisa Mega Radyani, psikolog klinis dari Ohana Space, menjelaskan bahwa post holiday blues adalah hal yang normal dan bukan gangguan psikologis yang berbahaya.

Selama liburan, seseorang mungkin mengalami emosi menyenangkan yang intens karena aktivitas liburan dapat mengaktifkan hormon-hormon seperti serotonin dan dopamin yang membuat tubuh merasa nyaman dan rileks.

“Saat liburan, mungkin akan muncul emosi-emosi menyenangkan yang intens. Aktivitas tersebut mengaktifkan hormon-hormon dalam tubuh, seperti serotonin atau dopamin yang membuat tubuh merasa nyaman, rileks,” ujar Annisa.

Namun, ketika aktivitas tersebut berhenti karena harus kembali ke rutinitas biasa, hormon-hormon tersebut mungkin akan berkurang dan menyebabkan perasaan negatif dan ketidaknyamanan setelah berlibur.

Annisa mengungkapkan bahwa hingga saat ini, post holiday blues tidak memiliki tingkatan keparahan atau level yang spesifik.

Biasanya, gejala post holiday blues dirasakan selama satu atau dua minggu setelah berlibur dan dianggap wajar.

Namun, jika gejala ini berlangsung lebih dari dua minggu, maka kemungkinan sudah cukup parah dan dapat menyebabkan masalah psikologis lainnya.

Mengatasi Post Holiday Blues

Untuk mengatasi post holiday blues, Annisa menyarankan beberapa cara. Pertama-tama, mengakui bahwa kita mengalami gejala ini.

Selanjutnya, menyediakan waktu untuk beradaptasi dengan kondisi kembali ke rutinitas, misalnya dengan mengurangi target kerja di minggu pertama.

“Baiknya sediakan waktu juga. Jadi, mulai sesuaikan kondisi kita lagi. Mungkin di minggu pertama kembali bekerja, kita nggak perlu buat banyak target yang besar,” ujar Annisa.

Annisa juga menyarankan untuk membuat daftar rencana kecil dan menyelesaikannya satu per satu agar terhindar dari tekanan.

Selain itu, menjaga pola hidup sehat dengan cukup tidur, makan sehat, dan berolahraga juga dapat membantu mengatasi post holiday blues.

Tetap menjaga hubungan dengan orang-orang yang ditemui selama liburan juga dapat membantu meringankan gejala.

“Selanjutnya, tetap pertahankan sama orang-orang yang (saat liburan) sudah ketemu. Ngobrol saja sedikit-sedikit, tetap kontak pelan-pelan dengan orang yang membuat kita nyaman,” kata Annisa.

Veronica menambahkan bahwa mengatur jadwal untuk mencoba hal-hal baru dan merencanakan liburan berikutnya juga dapat membantu mengatasi post holiday blues.

“Mengatur jadwal untuk mencoba sesuatu hal yang baru dan menyenangkan untuk dilakukan,” tuturnya.

Advertisement