
ELEKTABILITAS capres, perdana menteri atau anggota DPR bisa saja didongkrak melalui aksi pencitraan, janji-janji muluk, sebar hoaks, politik identitas atau money politics, tetapi reaksi pasar tak bisa dikecoh.
Itu agaknya yang terjadi pada Pemilu Turki yang digelar, Minggu (16/5) dimana capres petahana, Presiden Tayyip Recep Erdogan yang diusung Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) meraih 49,4 persn suara, sedangkan lawannya, Kemal Killicdaroglu dari Patai Republik Rakyat (CHP) 44,9 persen.
Untuk pemilihan anggota parlemen (seluruhnya 600 kursi), AKP juga lebih unggul yakni mendapatkan 266 kursi, sedangkan CHP hanya mampu mengumpulkan 169 kursi. Mengingat tidak satu capres pun meraih suara di atas 50 persen, akan digelar pilpres putaran ke-2 pada 28 Mei.
Sementara itu skeptisme pasar tercermin dari anjloknya indeks harga saham perbankan utama Turki hingga 9,6 persen atau berbanding terbalik situasinya dibandingkan dengan kenaikan 26 persen pada pekan sebelumnya atau kenaikan tertinggi sejak akhir 2002.
Kekhawatiran pelaku pasar terhadap kebijakan ekonomi konservatif Erdogan yang bakal diberlakukan lagi jika ia memenangi pilpres termasuk memerangi inflasi dengan suku bunga tinggi diduga yang menjadi penyebabnya.
Mata uang Turki, Lira juga mengalami penurunan selama enam bulan terakhir yakni 19,70 per dollar AS atau mendekati nilai tukar terendah yang menyentuh 19,8 dollar pada Maret lalu.
“Agaknya, 49 persen rakyat Turki memilih krisis ekonomi (dengan memilih Erdogan). Dua pekan ke depan kita akan melihat mata uang Lira runtuh, “ kata pendiri firma penasehat Cribstone Strategic Marco, Mike Harris kepada CNN (16/5).
Hal senada juga disampaikan oleh Manajer Portfolio Utang Negara Berkembang dari Firma William Blair, Dan Wood yag menyebutkan juga, skeptisme pasar juga bisa dilihat di pasar obligasi.
Berdasarkan data dari S&P Global Market Inteligence, sejumlah obligasi pemerintah berdenominasi dollar anjlok lebih dari tujuh sen dollar, sementara spread credit default swap (CDS) atau imbal pertukaran risiko kredit lima tahunan Turki, melonjak dari 141 basis poin menadi 634 basis poin, tertinggi sejak Nov. tahun lalu.
Obligasi yang diterbitkan oleh lembaga pemberi panjaman bagi pemerintah Turki dilaporkan juga mengalami tekanan. Akhbank memangkas obligasi 2026 lebih dari tiga sen dollar untuk diperdagangkan di bawah 93 sen dollar atau terendah sejak November 2022. “Anda bisa melihat, investor tidak mendukung Erdogan, “ ujar Wood.
“Rakyat atau calon pemilih bisa dibohongi, tetapi pasar uang tidak”. (AP/AFP/ns)




