DALAM dunia pakeliran, tak ada cerita wayang mencuri harta. Yang dicuri justru selalu putri atau pusaka kerajaan. Dari topik tersebut kemudian dibangun konflik dan cerita digelar kidalang hingga menjelang subuh. Tapi di Lampung belum lama ini, terjadi pencurian unik. Maling lebih tertarik pada istri korban, ketimbang mobil. Awalnya kedua aset itu memang digondol semuanya. Tapi pada akhirnya yang dibawa hanya istri pemilik rumah, sementara mobil ditinggalkan di jalan.
Lelaki paling apes di Provinsi Lampung itu adalah Mustam (55) warga Moris Jaya, Kecamatan Banjar Agung, Kabupaten Tulangbawang. Sepulang salat subuh berjamaah di mesjid kampung sekitar pukul 05:10, ditemukan rumah sudah dalam kondisi berantakan. Garasi dijebol, mobil Avanza BE 1693 TY miliknya raib. Yang paling mengejutkan, Ny. Warsih (50) bini satu-satunya yang menjadi aset paling berharga ikut pula lenyap.
Dua anak korban yang masih bocah, menyaksikan ketika emaknya dipukul pelaku dan kemudian dipaksa masuk ke dalam mobil, dan wush…….. entah dibawa ke mana itu barang. Mustam pun kemudian melapor ke Polsek Banjar Agung. Beberapa jam kemudian ditemukan mobil di parkiran Pasar Unit II Kecamatan Banjar Agung. Mobil dalam kondisi terkunci sementara bini Mustam tak ada disekap di dalamnya. Lalu dibawa ke mana Ny. Warsih?
Jika suami istri masih muda, dan sang istri cantik jelita, polisi bisa mengembangkan penyelidikan ke berbagai motif. Bisa karena persoalan cinta, pelaku pencurian pernah bersaing dengan Mustam, tapi kalah lalu kemudian menghalalalkan segala cara. Tak dapat gadisnya, sudah punya dua anak pun masih lumayan. Namanya juga cinta, dia akan selalu memaklumi segala kondisi sosok yang dicintai.
Tapi Ny. Warsih ini kan sudah dalam kondisi tua, masak maling mencuri nenek-nenek? Polisi terus berusaha menguak teka teki pencurian unik di Moris Jaya ini. Kenapa yang dibawa bukan mobil Moris Minor Toyota Avanza-nya, tapi justru istri Mustam yang sudah tidak lagi muda.
Berita terbaru menyebutkan, Warsih sudah ditemukan dalam kondisi membusuk di rawa-rawa bekas galian di Kampung Penawar Rejo, Kecamatan Banjar Margo, Kabupaten Tulang Bawang pada Rabu petang, 24 Mei 2023. Kondisi tubuhnya banyak luka. Merujuk pada cerita sebelumnya, bisa diduga ini berkaitan dengan usaha balas dendam pelaku pada keluarga Mustam. Di mana kebenarannya polisi masih mengembangkan penyelidikan.
Kisah ini mengingatkan dalam cerita perwayangan. Dalam dunia pakeliran, baik yang pakem (cerita baku) maupun carangan (kreasi dalang) tak pernah ada cerita  wayang mencuri uang atau perhiasan. Mustakaweni dari Ima Imantaka bukan mencuri gelang-kalung atau tas mewah Hermes, melainkan Jamus Kalimasada. Begitu juga Prabu Dasamuka dari Ngalengkadiraja. Dia nekad mencuri Dewi Sinta istri Ramawijaya karena konon titisan Widowati yang ngempot ayam. Hanya demi kepuasan seksual Dasamuka tega mengorbankan negara dan adik dan anaknya, bahkan negaranya juga.
Jika Indrajala nyolong atau menculik Prabu Puntadewa raja Ngamarta, itu karena dianggapnya tokok keramat yang bisa dijadikan tumbal atau bekakak. Kata penasihat spiritual negara Buluketiga, negri itu baru akan aman sentausa manakala ditumbali jazad Prabu Puntadewa. Berhasilkah misi Indrajala ini? Jelas tidak, karena dia malah mati terbunuh oleh, karena Prabu Puntadewe menjelma jadi Brahala (dewa raksasa) dan mengamuk di negeri Buluketiga.
Bahwa wayang adalah budaya adiluhung warisan para leluhur, tak terbantahkan. Tetapi wayang yang katanya bukan saja tontonan tapi juga tuntunan, kenapa soal penegakan hukum sepertinya tak jalan. Banyak kisah cerita pembunuhan dalam dunia wayang, tapi hukum hanya diselesaikan lewat main hakim sendiri, atau menunggu datangnya karma.
Misalnya Boma Narakasura membunuh Samba sang adik gara-gara urusan istri yang dizinai, Prabu Krena menyelesaikannya dengan main hakim sendiri. Bomanarakasura dibunuh dengan panah senjata Cakra bukan diserahkan ke penegak hukum dan menjalani proses peradilan. Begitu juga Gatutkaca yang membunuh Kalabendana paman sendiri, kasusnya menguap saja. Hukum karma baru terjadi ketika Gatutkaca mati terbunuh oleh senjata Kunto milik Adipati Karno.
Awalnya senjata panah itu tak mampu menembus awan di ketinggian ribuan kaki. Arwah Kalabendana yang sedari tadi ngglibet menyaksikan pertempuran Gatutkaca-Adipati Karno, demi melihat Kunto ngos-ngosan mengejar Gatutkaca, langsung dibantu Kelabendana dan menghujam ke puser Gatutkaca, gugurlah kesatria Pringgodani itu. Kidalang pun lalu mendendangkan suluk tlutur Surem-surem diwangkara kingkin…. pertanda kesedihan mendalam. (Cantrik Metaram)





