
PERANG di Ukraina sejak invasi negara tetangganya, Rusia yang sama-sama sempalan Uni Soviet pada 24 Feb 2022 bisa berkepanjangan karena kedua belah pihak emoh berunding sehingga korban pun bakal terus berjatuhan.
“Konflik bakal berlangsung lama. Ini realita Kami tidak bisa mempercayai Ukraina, “ seru Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia yang pernah menjabat presiden (2008 – 2012) dan perdana menteri (2012 – 2020) Dmitri Medvedev, Jumat (26/5).
Lebih jauh ia mengatakan, perundingan dengan pihak Ukraina di bawah Presiden Volodymyr Zelenskyy tidak mungkin dilakukan selama ia masih berkuasa. “Rusia tak akan bernegosiasi, “ ujar Medvedev.
Medvedev yang dulunya seorang modernis liberal saat menjabat presiden, kini tampil sebagai sosok anti Barat dan pandangan dia agaknya mengindikasikan pemikiran para elite di Kremlin.
Ia juga menilai, pihak Barat meremehkan risiko perang nuklir yang bisa terjadi dan mengingatkan, Rusia akan lebih dulu menyerang jika Ukraina dipersenjatai dengan nuklir.
Medvedev juga menuding pihak Barat telah mengobarkan perang proksi (perpanjangan tangan) dengan mengalirkan bantuan persenjataan guna mendukung Ukraina.
Ukraina sendiri saat ini sudah tidak memiliki kekuatan nuklir karena senjata pemusnah massal yang dimilikinya itu sudah diserahkan ke Rusia saat Ukraina melepaskan diri dari Uni Soviet pada 1991 sebagai imbalan jaminan keamanan dari Rusia, AS dan Inggeris.
Sebaliknya, Presiden AS Joe Biden juga mengingatkan Rusia, Perang Dunia III akan pecah jika terjadi konfrontasi langsung antara Aliansi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan Rusia.
Sementara seorang perwira tinggi AS Mark Milley berpendapat, perang akan berlarut-larut karena tidak ada pihak yang di posisi menang dan tidak ada proses negosiasi, sementara Rusia secara militer juga tidak bakal memenangi perang di Ukraina.
Ancaman perang nuklir kian nyata, setelah Rusia mulai memindahkan rudal-rudal balistik berkepala nuklirnya ke Belarusia yang berbatasan dengan Ukraina dan negara-negara Uni Eropa seperti Polandia dan Lithuania.
Upaya mediasi harus terus dilakukan dan saat ini diprakasai oleh Tahta Suci Vatikan yang mengutus Kardinal Mateo Zuppi, mirip upaya mediasi yang berhasil mendamaikan perang saudara di Mozambik di era 1990-an.
Dunia akan hancur lebur jika perang di Ukraina bereskalasi sehingga menyeret negara-negara berkekuatan nuklir untuk terjun.
Semoga para pemimpin negara yang bertikai terutama negara adidaya AS dan Rusia kembali ke meja perundingan untuk mencari solusi perang di Ukraina. (AP/AFP/Reuters/ns)




