Berenang Bareng Hiu Paus di Teluk Saleh

Wisatawan menyelam bersama hiu paus di perairan Sumbawa, NTB. (Foto: KKP)

JAKARTA – Pulau Sumbawa merupakan salah satu dari dua pulau terbesar di Provinsi Nusa Tenggara Barat selain Lombok. Ada empat kabupaten dan satu kota di Sumbawa. Pulau seluas 14.386 km2 ini merupakan rumah bagi suku Bima dan Sumbawa.

Gunung Tambora, dengan ketinggian 2.851 meter di atas permukaan laut, adalah titik tertinggi di pulau yang terkenal dengan kayu cendana, madu hutan, dan kuda poni atau sandelwood pony. Selain itu, objek wisata perairan di pulau ini juga menarik, salah satunya adalah Teluk Saleh.

Teluk Saleh, yang memiliki luas sekitar 2.000 km2, terletak di Desa Labuhan Jambu, Kecamatan Tarano, Kabupaten Sumbawa. Ekosistem perairannya yang kaya memiliki terumbu karang, hutan bakau, dan padang lamun.

Menurut data dari Universitas Mataram, luas terumbu karang di Teluk Saleh sekitar 31.000 hektare, dengan kondisi terbaik terdapat di sekitar Pulau Liang. Selain itu, luas padang lamun di kawasan ini mencapai 3.200 hektare, menutupi seluruh pesisir dengan luas terluas di kawasan Santong.

Terdapat pula sekitar 2.700 hektare hutan bakau dengan 31 jenis mangrove dari 20 famili, yang didominasi oleh jenis rhizopora. Keadaan ini menjadikan Teluk Saleh sebagai area yang disukai untuk berkembang biak berbagai jenis ikan.

Setidaknya, terdapat 71 spesies ikan yang dapat ditangkap oleh nelayan di Teluk Saleh. Ikan-ikan seperti tongkol, tuna, baronang, kerapu, dan kakap merah merupakan ikan yang paling banyak ditangkap oleh nelayan setempat.

Selain itu, Teluk Saleh juga menjadi tempat favorit hiu paus (Rhincodon typus) untuk berkembang biak. Hiu paus memiliki ukuran tubuh yang mencapai panjang 18-20 meter dan berat maksimal sekitar 15 ton, meskipun rata-rata beratnya sekitar 12 ton.

Menurut World Wildlife Fund, hiu paus merupakan spesies terbesar dalam keluarga Rhincodontidae dan juga salah satu makhluk laut terbesar. Berbeda dengan hiu lainnya, kepala hiu paus cenderung datar dan mengikuti bentuk tubuhnya dengan mulut yang besar.

Hiu paus tidak memiliki gigi yang tajam seperti hiu putih, melainkan gigi kecil yang tidak diandalkan untuk memakan mangsa. Untuk memakan mangsa, hiu paus cukup membuka mulutnya yang besar sambil berenang, sehingga dalam waktu singkat ribuan ikan kecil dan jutaan plankton dapat langsung dimakannya.

Waktu Terbaik

Teluk Saleh merupakan salah satu perairan di Indonesia yang menjadi tempat favorit hiu paus untuk berkembang biak, selain Teluk Cenderawasih dan Teluk Triton. Keberadaan perairan hangat dan kelestarian hutan mangrove, terumbu karang, dan lamun di ketiga teluk tersebut menjadi faktor penting bagi hiu paus hidup dengan nyaman.

Hal ini disebabkan oleh ketersediaan plankton dan ikan sebagai sumber makanan sepanjang tahun. Kehadiran hiu paus, atau yang juga disebut pakek torok oleh masyarakat setempat, sudah diketahui sejak puluhan tahun yang lalu.

Namun, hiu paus tidak termasuk dalam daftar tangkapan nelayan setempat karena ukurannya yang besar. Namun, sejak publikasi mengenai kehadiran hiu paus di Teluk Saleh semakin banyak, banyak orang yang penasaran dan tertarik untuk mengunjungi Teluk Saleh untuk melihat hewan yang dilindungi ini dari dekat.

Untuk mencapai Teluk Saleh, dapat ditempuh melalui jalur darat dari Sumbawa Besar, ibu kota Kabupaten Sumbawa, dengan waktu perjalanan sekitar dua jam melalui jalan nasional Sumbawa-Bima.

Jika berasal dari Jakarta, dapat menggunakan pesawat yang transit di Bandar Udara Internasional Lombok, kemudian melanjutkan penerbangan menuju Bandara Sultan Muhammad Kaharuddin III Sumbawa, dan selanjutnya menuju Teluk Saleh.

Tidak perlu khawatir tentang akomodasi, sudah banyak penginapan yang bermunculan di sekitar pesisir Teluk Saleh. Kita juga dapat menginap di rumah-rumah penduduk dengan harga sewa per kamar bervariasi, berkisar antara Rp200.000 hingga Rp300.000, yang biasanya sudah termasuk sarapan pagi. Pemilik rumah umumnya juga berperan sebagai pemandu yang membawa kita menuju lokasi hiu paus mencari makan.

Waktu terbaik untuk bertemu hiu paus adalah pada pagi hari sekitar pukul 5.30 waktu setempat ketika mereka sedang mencari makan. Oleh karena itu, kita perlu berangkat sekitar pukul 3.00 dini hari dan naik perahu sewaan dengan biaya sekitar Rp350.000 per perahu.

Perjalanan menuju sejumlah bagan atau tempat nelayan memancing ikan di tengah teluk memakan waktu sekitar dua jam. Biasanya, pemilik bagan juga meminta biaya sekitar Rp150.000 per rombongan yang berkunjung.

Aturan Khusus

Hiu paus biasanya muncul dalam kelompok berjumlah 4 hingga 7 ekor di sekitar bagan untuk mencari makan. Hiu paus ini memiliki sifat yang jinak dan tidak menyerang manusia. Beberapa bagan juga menyewakan pakaian menyelam kepada pengunjung.

Namun, sebelum berinteraksi dengan mamalia besar ini, penting bagi kita untuk mengetahui aturan-aturan yang berlaku. Wisatawan tidak diperbolehkan menggunakan lampu kilat saat mengambil foto di bawah air bersama hiu paus, tidak memakai aksesoris seperti gelang, kalung, dan perhiasan lain terutama yang terbuat dari logam, serta menggunakan tabir surya yang ramah lingkungan.

Selain itu, kontak fisik dengan hiu paus seperti mengejar, menunggangi, menyentuh, dan menarik tubuhnya tidak diperkenankan. Juga, hindari membuat gerakan yang mengagetkan atau bersuara keras.

Ketika berenang di dekat hiu paus, penting untuk menjaga jarak minimal 3 meter dari sisi samping dan kepala ikan, 4 meter dari sisi ekor, serta tidak menghalangi jalur berenang hiu paus. Kegiatan menyelam dan snorkeling bersama hiu paus dibatasi hingga sekitar 60 menit.

Jika hanya ingin mengamati ikan ini dari atas perahu, pastikan mesin perahu mati dalam jarak 30 meter dari lokasi penampakan ikan. Nakhoda dan kru perahu dilarang mengejar hiu paus atau melempar jangkar.

Semua aturan ini tercantum dalam Surat Keputusan Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan nomor 41 tahun 2022 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Wisata Hiu Paus. Kebijakan ini diterbitkan untuk melindungi ikan hiu paus yang terancam punah dan masuk dalam Daftar Merah IUCN (Badan Internasional Konservasi Alam) serta Appendiks I CITES.

Menurut penelitian Conservation International (CI) Indonesia pada periode September 2018 hingga Mei 2019, Teluk Saleh memiliki potensi sebagai kawasan ekowisata berkelanjutan yang menarik minat wisatawan domestik dan mancanegara khususnya untuk hiu paus.

Aktivitas tersebut dapat memberikan pemasukan minimal Rp600 juta per tahun bagi kas desa melalui paket wisata khusus. Tentu saja, ini harus diimbangi dengan upaya konservasi yang ketat, termasuk pengalokasian dana dari pendapatan wisata untuk pelestarian hiu paus.

Maulita Sari Hani, seorang peneliti dari CI Indonesia, menjelaskan bahwa Indonesia dapat belajar dari keberhasilan Maladewa dalam mengelola ekowisata hiu paus dengan baik dan menghasilkan devisa senilai Rp130 miliar.

Pengembangan ekowisata hiu paus juga dapat menggerakkan ekonomi lokal, seperti dengan adanya toko cenderamata, warung makan, penginapan, jasa sewa perahu, penyewaan alat selam dan sebagainya.

Sumber: indonesia.go.id

Advertisement