NATO Kepakkan Sayap Sampai Asia

NATO yang beranggotakan 31 negara di Eropa dan Amerika Utara memperluas aksesnya dengan membuka kantor di Tokyo, Jepang guna mengantisipasi perubahan konstelasi militer di Laut China Selatan dan Indo Pasifik terutama menghadapi China.

TIDAK cukup dengan 31 negara di benua Eropa dan Amerika yang menjadi anggotanya, Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) berencana membuka kantor penghubung di Jepang untuk membuka akses ke kawasan Indo Pasifik.

Walau tidak serta merta memasukkan Jepang sebagai anggota NATO, keberadan kantor penghubung di Tokyo pada 2024, menurut ulasan harian Jepang,, Nikkei (13/6) akan mengoordinasikan kerjasama aliansi pertahanan tersebut dengan negara-negara mitranya di Asia Pasifik.

Rencana pembukaan kantor penghubung NATO di Tokyo itu tentu saja dikait-kaitkan media atau pengamat politik sejalan dengan makin memanasnya perebutan hegemoni terutama antara Amerika Serikat dan China di kawasan Laut China Selatan (LCS) dan Indo Pasifik.

China mengklaim sekitar 90 persen wilayah LCS yang masuk sembilan garis putus-putus (nine dash-line) yang dianggapnya sebagai wilayah operasioal nelayan tradisionalnya walau hal ini bertentangan dengan Konvensi Hukum Laut Int’l 1982.

China juga membangun sejumlah fasilitas militer di pulau-pulau buatan di sekitar Kep. Sparftley dan Paracel yang masih dipersengketakan dengan Brunei Darussalam, Malaysia, Filipina, Vietnam dan Taiwan.

Memanasnya perebutan hegemoni kekuasaan juga tercermin dari pembentukan alinsi keamanan antara Australia, Inggeris dan AS (AUKUS) September 2022 untuk mengantisipasi ancaman China.

Sebaliknya, China tentu saja bereaksi keras atas rencana pembukaan kantor penghubung NATO di Tokyo, seperti disebutkan dalam ulasan harian the Global Times, China, menilai, NATO sengaja melakukan tindakan untuk memusuhi dan mengisolasi China.

“Bahkan, mereka tidak menggubris masukan dari salah satu anggota tertua (maksudnya Perancis), “ ungkap the Global Times dan juga mengingatkan, Jepang juga memiliki sejarah militer infasiv pada Perang Dunia II lalu.

NATO sendiri saat ini menjadi aliansi militer yang mencemaskan, tidak saja bagi China, tetapi juga Rusia, mengingat sebagian negara-negara anggota Pakta Warsawa atau negara satelit Uni Soviet bergabung ke sana.

Negara eks Pakta Warsawa yakni Albania, Bulgaria, Ceko, Rumania, Slowakia, Polandia, Hungaria, lalu negara eks  Yugoslavia (Kroasia, Makedonia, Montenegro dan Slovenia),  sedangkan negara sempalan Soviet (Estonia, Latvia, Lithuania), yang kini semua membelot ke NATO.

Rencana pembukaan kantor NATO di Tokyo dilakukan bersamaan dengan latihan kekuatan udara besar-besaran “Air Defender” yang digelar NATO 12 sampai 23 juni diikuti 10-ribu personil dan 250 pesawat udara.

Komandan latihan, Letjen Ingo Gerhartz dari AU Jerman menyebutkan, latihan pertahanan udara  besar-besaran yang dilakukan saat ini bukan unjuk kekuatan tetapi murni untuk menunjukkan efek penggentar (deterren effect).

“Latihan ini akan menunjukkan, NATO memiliki kemampuan membela diri, sehingga diharapna menurutkan niat pihak tertentu yang ingin menyulut konflik, “ ujarnya.

Era Perang Dingin yang sudah ditinggalkan sejak akhir dekade ‘90an kini muncul kembali, di satu pihak AS bersama kekuatan NATO melawan China dan Rusia. (Reuters/ns)

 

 

 

 

 

Advertisement