Masih membekas di ingatan Inggrit Fernandes 12 tahun silam. Gelisah menghampirinya di ujung masa sekolah. Ujian Nasional (UN) yang menjadi momok saat itu dapat ia tepis, karena ia yakin mampu menghadapinya. Tapi, fase setelah UN itulah yang justru membuatnya galau.
Kondisi ekonomi keluarga yang tengah karut marut membuatnya bimbang, apakah ia akan melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. “Usaha orang tua bangkrut,” ujar Inggrit mengawali kisahnya.
Jangankan biaya kuliah, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari pun keluarga Inggrit harus meminta bantuan sanak keluarga. “Kondisinya serba sulit saat itu,” tambahnya.
Inggrit bimbang. Jika ia melanjutkan kuliah, pasti orang tuanya terbebani. Namun, kondisi dan kesejahtaraan keluarganya tidak akan terangkat jika ia memutuskan cukup sampai SMA. Kakak perempuan Inggrit sudah mengalaminya. Keterbatasan kelaurganya memaksa ia untuk merantau ke Jakarta, menjadi buruh pabrik.
Di tengah kegelisahannya, secercah harapan menghampiri. Saat Inggrit tekun belajar menyiapkan UN, datang informasi yang membangkitkan asanya, BEASISWA. Salah seorang alumni di SMA-nya datang membawakan brosur Seleksi Beastudi Etos Dompet Dhuafa.
Tak menunggu waktu lama, ia segera melengkapi semua berkas dan persyaratan. Perjalanan tiga jam dari kampungnya di Pesisir Selatan, menuju Kota Padang pun ia tempuh. Berbekal uang seadanya ia berangkat ke Padang untuk mengikuti seleksi. Tekad kuat dan semangat membaralah bekal paling berharga yang dibawa Inggrit.
“Saya yakin Allah Maha Melihat setiap hamba-Nya yang memiliki tekad dan kemauan yang keras, sehingga memberikan pertolongan lewat pintu yang tidak terpikirkan oleh makhluknya,” kata Inggrit.
Segala puji milik Allah, Inggrit selangkah meraih sukses. Ia diterima menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Andalas. Ia juga tak perlu panik memikirkan biaya karena ia juga lulus sebagai penerima Beastudi Etos.
Inggrit mengakui, Beastudi Etos memiliki andil yang sangat besar dalam perjuangannya menggapai mimpi. Karena selain uang beasiswa, Inggrit dan ratusan penerima beasiswa Dompet Dhuafa lainnya juga dibekali pembinaan untuk meningkatkan kapasitas mereka. Mulai dari akademik, leadership, hingga entrepreneurship.
“Beastudi Etos mengajarkan kami untuk tidak menyerah pada keadaan. Pembinaan di Beastudi Etos membuat kami berprestasi di bidang akademis dan organisasi,” jelas Inggrit.
Inggrit pun mampu menyelesaikan S1-nya dengan predikat cumlaude dan menempati posisi strategis di oganisasi kampus. Stelah lulus, Inggrit melanjutkan studi ke S2 di Fakultas Hukum Universitas Andalas Padang.
Kini, Inggrit menekuni profesinya sebagai dosen tetap di Universitas Islam Ingragiri Riau. Bahkan, sejak tahun 2013 lalu, wanita kelahiran Padang, 29 Juni 1986 ini, diangkat menjadi Wakil Dekan 1 Fakultas Hukum di tempatnya mengajar. Ia mendapatkan amanah tersebut karena kapasitas akademik dan organisasi yang dimilikinya.
Dengan profesi yang digelutinya, Inggrit pun mampu membantu adiknya berkuliah. Ia berharap bisa terus mengalirkan manfaat, baik untuk keluarga, masyarakat, bangsa dan negara ini. Alhamdulillah, melalui dana zakat yang digulirkan melalui program Beastudi Etos, satu anak negeri berhasil menggapai sukses. [Hassan/Beastudi Etos]





