
INVASI Rusia ke Ukraina sejak 24 Feb.2022 sudah berjalan sekitar 17 bulan, namun kekuatan militer raksasa negara Beruang Merah itu belum mampu menaklukkan lawan, bahkan Ukraina mulai melancarkan serangan balik.
Serangan balik pasukan Ukraina untuk mengusir tentara pendudukan Rusia, menurut Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy beberapa waktu lalu, sudah mulai dilancarkan sejak awal Juni tahun ini.
Pihak Ukraina mengklaim, pasukannya sudah berhasil paling tidak merebut sejumlah desa di wilayah Donetsk termasuk empat desa yang baru direbutnya dalam beberapa hari terakhir ini yakni Blahodatne, Neskuchne, Makarivka dan Storozheve.
Rusia yang menganeksasi Semenanjung Krimea pada 2014, kembali mencaplok wilayah Ukraina di Donetsk, Kherson, Zaporishia dan Luhansk pada akhir September 2022 walau tidak diakui internasional.
Presiden Ukraina mengakui, pasukannya mampu menahan gempuran Rusia bahkan melancarkan serangan balik berkat pasokan besar-besaran persenjataan terutama dari negara-negara anggota Aliansi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) terutama AS.
Tank-tank Leopard Jerman, Chalenger dari Inggeris atau Leclerck buatan Perancis, peluncur roket mobilitas tinggi (HIMARS) M142, rudal panggul anti serangan udara Stinger dan rudal anti tank Javelin (semua buatan AS) cukup ampuh menahan gerak maju tentara Rusia.
Dari perimbangan militer, Rusia dengan 900.ribu personil tetap, didukung 1.500 an pesawat tempur, 12.240 tank, 605 kapal perang, sementara Ukraina hanya memiliki 200.000 personil tetap, 98 pesawat tempur, 2.600 tank dan 38 kapal perang bagaikan gajah dan semut.
Itu sebabnya, para petinggi Kremlin terutama Presiden Vladimir Putin sangat “PD” melancarkan perang kilat dengan menginvasi Ukraina sebelum negara tetangganya itu bergabung ke dalam NATO.
Pasalnya, jika Ukraina suah menjadi anggota NATO, Rusia akan berhadapan langsung dengan seluruh negara anggotanya sesuai statuta aliansi militer itu yang memberikan mandat untuk melindungi setiap anggotanya jika diserang pihak luar.
Perang yang berlarut-larut juga membebani perekonomian Rusia akibat embargo yang dilancarkan AS dan konco-konconya terutama Uni Eropa walau Uni Eropa sendiri yang sebelumnya tergantung pasokan energi Rusia juga terdampak langsung
Yang lebih mencemaskan, jika Rusia terdesak dalam perang konvensional yang masih berlangsung hingga saat ini, lalu Presiden Putin naik pitam dan memerintahkan pasukannya menggunakan senjata nuklir.
Bisa dibayangkan kerusakan yang ditimbulkan, jika Rusia yang memiliki 6.000-an hulu ledak nuklir dan AS dengan 5.000-an, belum termasuk Jerman, Inggeris, Perancis dan Itali saling serang dengan senjata pemusnah massal itu.
Rusia dilaporkan juga sudah memindahkan sebagian arsenal nuklirnya ke Belarusia yang bertetangga dengan Ukraina, minimal sebagai penggertak agar lawan-lawannya merasa jeri.
Semoga para pihak yang bertikai, kembali ke meja perundingan demi keselamatan umat manusia.




