Bosen, Tawuran Melulu!

Tawuran pelajar di Jakarta. Banyak juga yang kemudian pulang tingggal nama.

SEPERTINYA tawuran sudah menjadi “budaya” pelajar masa kini. Hampir setiap minggu muncul berita tawuran dari berbagai kota, termasuk Jakarta yang tak lama lagi akan jadi BIN (Bekas Ibukota Negara). Jika sekedar luka-luka masih untung, sebab banyak juga yang wasalam. Padahal pelajar yang demen tawuran itu sama saja membunuh masa depannya sendiri. Sebab polisi sudah mengingatkan: pelajar terlibat tawuran nantinya akan susah  cari pekerjaan. Makanya hindari tawuran atas dasar solidaritas pertemanan, masyarakat sudah bosen dan muak sebentar-sebentar ada tawuran.

Seminggu lalu (12/06) Polisi menangkap 106 pelajar yang hendak tawuran di kawasan Jalan Pangeran Tubagus Angke, Grogol Petamburan, Jakarta Barat. Ratusan pelajar itu ditangkap saat sedang konvoi sambil membawa perangkat tawuran. Seperti mau perang saja, mereka ini membawa berbagai senjata tajam di antaranya 10 buah celurit, satu buah corbek, dua buah stick golf, dua buah petasan. Nah, ketika mereka konvoi dengan sepeda motornya, polisi langsung menangkapnya.

Sehari kemudian, tawuran benar-benar terjadi di Kabupaten Bekasi, tepatnya di Jalan Raya Kodam Desa Sukadami Kecamatan Cikarang Selatan. Dua kelompok pelajar yang terlibat tawuran dari SMK 1 Pasar Ranji dan SMK Taruna Bakti, Cikarang Selatan. Yang jadi korban berinisial R asal SMK 1 Pasir Ranji Cikarang Pusat. Dia tewas kehabisan darah setelah terkena sabetan senjata tajam.

Jika dikumpulin semuanya, begitu ombyokan peristiwa tawuran antar pelajar di berbagai kota. Tak hanya di Jabodetabek, hampir semua kota besar di Indonesia memiliki “kontingen” pelajar tawuran. Bandung, Serang, Semarang, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Malang, Cirebon, Banyumas bahkan Magelang kota yang dikenal adem ayem. Gara-gara ulah sejumlah pelajarnya yang berotak gethuk, nama Magelang jadi tercemar.

Memang jika melihat data Kepolisian dan Komnas PA, tahun 2020-an ke sini jumlah tawuran pelajar banyak menurunnya. Bandingkan dengan tahun 2012-an ke atas. Sepanjang tahun 2012, KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) mencatat 339 kasus tawuran. Angka ini meningkat dibanding tahun 2011 dengan 128 kasus. Ngerinya, jumlah pelajar yang wasalam sampai 82 orang.

Sedangkan Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak) mencatat ada 229 kasus tawuran pelajar sepanjang tahun 2013. Dari 229 kasus kekerasan antarpelajar SMP dan SMA itu, 19 siswa meninggal dunia. Yang paling mengejutkan, di Padang ibukota provins yang sangat Islami, para pelajarnya juga paling doyan tawuran. Bayangkan, di tahun 2015 saja, tercatat 433 kasus tawuran.  Jumlah terbesar kasus tersebut didominasi oleh pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Tahun 2014 lebih gila lagi, tawuran pelajar jumlahnya sampai 220 kasus.

Kenapa pelajar generasi milenial jadi banyak yang kehilangan akal, berantem sesama kawan dianggap halal. Salah satu pemicunya adalah HP android yang bisa menghadirkan segalanya. Gara-gara saling ledek di medsos, ada yang mendadak jadi sumbu pendek, menantang kopi darat untuk adu urat. Tapi satu lawan satu nggak berani, ngajaklah teman, jadilah tawuran. Karena ketika berantem masih menggunakan pakaian seragam, disebutlah sebagai tawuran pelajar. Kenapa nggak disebut: tawuran peserta didik? Bukankah murid sekarang disebut peserta didik.

Kata para psikolog, guru di sekolah masing-masing punya peranan penting untuk meredam dan mencegah terjadinya tawuran pelajar. Guru harus memberi perhatian yang sama pada seluruh muridnya, bukan hanya kepada murid yang pintar-pintar saja. Rasa kecemburuan si bodo ini  kemudian ditunjukkan dengan cari gara-gara di luaran, sekaligus cari penyakit.  Sasarannya sekolah lain, atau sekolah mana saja yang dijumpai. Saling olok dan ledek, kemudian jadilah…….

Saking emosinya karena terbawa solidaritas pertemanan, para pelajar dari SMP sampai SMA itu jadi tak peduli bahwa ulahnya sangat mengganggu masyarakat. Bukan saja jadi terganggu perjalanannya, tapi juga terganggu perasaannya dan mengkristal jadi sebuah kecemasan, jangan-jangan anaknya juga terlibat dalam “kontingen” tawuran ini. Mereka tak mau putra-putranya pagi-pagi berangkat sekolah, pulangnya dalam kondisi luka bahkan ada yang tewas. Maka masyarakat sudah bosen atas ulah kalian, wahai pelajar tukang tawuran!

Kurikulum merdeka belajar yang bergeser jadi merdeka berantem itu tentu saja menjadi pekerjaan tambahan bagi polisi. Jika masih berupa gejala atau tanda-tanda, lebih mudah mengatasi. Tinggal disita peralatan tawurnya, “kontingen” dipaksa balik atau dikasih “kulsum” (kuliah sepuluh menit) di halaman Polres/Polsek. Tapi jika tawuran sudah pecah, itu lebih susah mengatasi karena anggota yang dikerahkan harus lebih banyak. Belum lagi jika terjadi korban.

Polisi sudah berulangkali mengingatkan, pelajar cap apapun jika sampai terlibat tawuran, ke depannya akan sulit mencari pekerjaan. Sebab ulah mereka  akan masuk dalam SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisian). Perusahaan perekrut tak mungkin hanya mensyaratkan keahlian lewat ijazah, tapi juga kelakuannya. Jika di situ ditemukan keterangan pernah terlibat tawuran pelajar, langsung berkas lamaran disingkirkan.

Biarpun sudah sarjana S1 bila “jejak rekam”-nya sudah ada di Kepolisian, alamat bakal jadi MA alias Menganggur Abadi. Kasihan kan, kerja kantoran dan perusahaan saja ditolak, maka paling ideal tinggalah buka usaha. Itu jika ada modal, jika tidak ya harus puas pakai jaket ijo pakai helm jadi Gosend pengantar barang. Itulah balasan dari tukang tawuran ketika sekolah. (Cantrik Metaram)

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement