
JAKARTA – Desa wisata saat ini semakin mudah ditemukan di beberapa daerah. Pemerintah tengah giat mendorong pemerintah daerah untuk mengembangkan desa wisata guna meningkatkan pariwisata lokal.
Selain itu, desa wisata juga dapat mempercepat pembangunan desa secara menyeluruh untuk mendorong transformasi sosial, budaya, dan ekonomi desa. Terlebih lagi, setiap desa kini memiliki dana desa yang berasal dari APBN.
Salah satu inisiatif desa wisata budaya tenun adalah Desa Sumber Harapan, Kecamatan Sambas, Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat.
Desa wisata ini mulai dikenal sebagai pusat produksi kain tenun lunggi dari pesisir Kalimantan Barat oleh wisatawan mancanegara, terutama dari negara tetangga seperti Malaysia (Serawak) dan Brunai Darussalam.
“Sekarang, banyak wisatawan asal Malaysia dan Brunei datang ke Sambas. Mereka datang dengan kendaraan pribadi atau dalam rombongan menggunakan bus. Alhamdulillah, kunjungan ke desa kami semakin ramai sejak kain tenun lunggi mulai terkenal,” kata Sasmita, seorang guru di salah satu SMA di kota tersebut, dilansir dari Indonesia.go.id.
Keunikan kain tenun lunggi dari Sambas, menurut Sasmita, terletak pada penggunaan pewarna alami dalam pembuatannya.
“Meskipun harganya mahal, banyak konsumen yang mencari kain tenun dengan pewarna alami,” katanya.
Sebagai penduduk Sambas, Sasmita merasa bangga karena daerahnya kini memiliki produk unggulan, yaitu kain tenun lunggi. Saat ini, kain tenun lunggi dengan pewarna alami banyak diminati oleh konsumen.
Tidak mengherankan, seiring dengan keinginan untuk kembali ke alam, para perajin kain tradisional cenderung menggunakan pewarna alami.
Hal ini karena penggunaan tumbuhan sebagai pewarna alami dalam tenun tradisional meningkatkan nilai jual dan keunikan produk, terutama di pasar internasional.
Di Desa Sumber Harapan, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Universitas Tanjung Pura, terdapat sekitar 30 jenis pewarna yang digunakan oleh perajin kain tenun di daerah tersebut.
Beberapa jenis pewarna alami tersebut adalah tumbuhan mengkudu (Morinda citrifolia), kunyit (Curcuma domestica), engkerebai (Psychoteria sp.), beting (spesies belum diketahui), dan sebangki (campuran kulit kayu dari jenis Neesia spp. dan Tristaniopsis spp.) yang banyak digunakan oleh masyarakat Dayak dari berbagai subsuku di berbagai daerah di Kalimantan Barat.
Penggunaan tumbuhan sebagai pewarna dalam kain tenun lunggi Sambas melibatkan berbagai bagian seperti akar, rimpang, daun, batang, kulit batang, bunga, dan buah, yang menghasilkan beragam warna.
Setelah proses pewarnaan benang, perajin melanjutkan dengan menggulung benang menggunakan alat yang disebut tarawan. Selanjutnya, dilakukan proses pengikatan motif dan menenun menggunakan bahan sutra, yang dikombinasikan dengan benang emas. Motif tumpal atau pucuk rebung menjadi ciri khas kain lunggi khas Sambas.
“Desa wisata tenun di Sumber Harapan menjadi solusi bagi perajin untuk memperluas pasar produk unggulan daerah ini,” ujar Sasmita dengan senyum.
Selain melestarikan budaya turun-temurun, keberadaan desa tenun diharapkan dapat mendukung perekonomian masyarakat lokal dan menciptakan destinasi wisata baru di Kabupaten Sambas.
Dalam Sambas, terdapat lebih dari 1.000 perajin yang tercatat. Salah satu keunikan motif kain tenun lunggi adalah penggunaan benang kuning keemasan, sehingga juga disebut kain bannang ammas.
Kain tenun khas Sambas dibuat dengan beragam warna benang, termasuk penggunaan benang emas yang menjadi ciri khasnya. Motif kain tenun lunggi juga terinspirasi oleh tanaman yang tumbuh di sekitar sungai di Sambas.
Salah satu ciri khas lain dari tenun lunggi Sambas adalah motif pucuk rebung. Motif ini memiliki bentuk segitiga yang panjang dan lancip. Pucuk rebung dipilih karena merupakan proses sterilisasi dari tunas bambu muda.
Penggunaan motif ini memiliki makna yang mendalam, termasuk sebagai pengingat agar masyarakat Sambas terus berusaha maju.
Kedua, orang Sambas harus menjaga pikiran yang lurus, seperti tumbuhnya pucuk rebung yang selalu tumbuh lurus dan tinggi. Ketiga, ketika mencapai puncak kesuksesan, mereka tidak boleh sombong dan arogan, seperti pohon bambu yang tetap merendahkan diri meskipun sudah tinggi.
Motif-motif dalam tenun selalu berkembang sesuai dengan zaman. Di masa lalu, para penenun cenderung menghasilkan karya-karya yang didasarkan pada motif tertentu. Namun, seiring berjalannya waktu dan banyaknya pesanan yang disesuaikan dengan jenis tenun yang diproduksi.
“Karakternya terasa lebih feminin. Songket Palembang memiliki kesan yang lebih gagah,” kata Tini, seorang pegawai Pemerintah Kabupaten Sambas.
Kain tenun lunggi, lanjut Tini, memiliki kelenturan yang memungkinkan penggunaannya dalam berbagai acara, tidak terbatas pada acara-acara tertentu seperti pernikahan atau kelahiran, sehingga cocok untuk segala kesempatan.
Bila melacak sejarahnya, kain tenun mulai dikenal dan praktik menenun secara tradisional di masyarakat Sambas pada masa pemerintahan Raden Bima (Sultan Sambas ke-2) yang bergelar Sultan Muhammad Tajudin, menggantikan ayahandanya Raden Sulaiman bin Raja Tengah.
Sejak saat itu, menenun menjadi seni kerajinan yang diwariskan secara turun-temurun di daerah tersebut. Pada masa penjajahan Belanda, minat dalam menenun dan jumlah kain tenun yang dihasilkan cukup menggembirakan, hampir setiap kampung memiliki perajin dan alat tenun sendiri.
Dalam proses produksi tenun ini, para perajin membentuk kelompok usaha tenun yang disebut Kelompok Usaha Bersama (KUB), antara lain, KUB Mawar di Desa Jagur, KUB Melati di Desa Tanjung Mekar, dan KUB Tabur Bintang di Desa Sumber Harapan.
Nama-nama KUB ini diambil dari motif-motif yang biasa digunakan dalam pembuatan kain tenun Sambas. Seperti halnya pembuatan kain tenun di Indonesia, termasuk bagi perajin tenun lunggi Sambas, dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk menghasilkan selembar kain. Namun, jika motifnya sederhana, mereka dapat menyelesaikannya dalam waktu dua minggu atau lebih cepat.




