Awas! Karhutla di Tengah Kemarau Panjang

Kebakaran lahan gambut terutama di Kalimantan dan sebagian Sumatera di depan mata di tengah kemarau panjang pada 2023. Waspada dan waspada!

KEBAKARAN hutan dan lahan (karhutla) di tengah kemarau panjang yang diprediksi BMKG terjadi tahun ini menuntut kesiapsiagaan aparat terkait terutama di wilayah rentan bencana seperti di Kalimantan dan Sumatera.

Plt Kepala Badan Peanggulangan Bencana dan Pemadaman Kebakaran  Kalteng, Ahmad Toyib di Palangkaraya (12/7 megingatkan, sebagian lahan terbakar di wilayahnya berupa lahan gambut, sementara lahan mineral lebih sedikit dan lebih mudah  diatasi.

Selain mudah terbakar, medan yang sulit karena minimnya akses jalan juga sering menghambat operasi pemadaman api di lahan gambut.

Sementara Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumberdaya Alam Otorita IKN Myrna A Safitri mengemukakan, di wilayah Kalimantan Timur terutama di IKN ada tiga wilayah yang dijaga dari ancaman karhutla yakni Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP), Bukit Soeharto dan area di luar kedua wilayah itu.

Agar menjaga agar gambut tetap basah, pemerintah membangun sejumlah infrastruktur melalui Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM), sementara menurut Deputi Bidang VRGM Tris Raditian, selama pelaksanaan restorasi gambut sejak 2017 – 2022 pihaknya memfasilitasi  pembangunan 7.785 sekat kanal dan 14.087 sumur bor di seluruh Indonesia.

Di seluruh Kalimantan saja akan dibangun 4.157 sekat kanal dan 11.783 sumur bor  yang pembangunannya dilakukan melalui mekanisme penugasan dan dukungan dari pemerintah provinsi.

Sementara di Kalsel, Sekretaris Tim Restorasi Gambut Daerah (TRGD) Kalsel Murakhman Sayuti mengatakan upaya pencegahan karhutla difokuskan di wilayah kesatuan hidrologis gambut (KHG) yang rentan terbakar.

Dari total empat KHG, ada satu penambahan KHG di Kalsel selama 202i yakni KHG Sungai Maluka-Sungai Martapura yang mencakup Kabupatan Tanah Lautdan kota Banjarbaru.

Upaya intervensi yag dilakukan di dalam kawasan KHG ialah program 3R yakni rewetting (pembahasan kembali), revegetation (penanaman kembali) dan revitalization (peningktan kondisi).

Berdasarkan citra satelit, menurut Koordinator Nasional Pantau Gambut Lola Abas, total luas KHG di Kalimantan seluas 0,03 juta HA, yang sangat rentan terbakar tercatat 1,88 juta Ha dan lahan yang berpotensi terbakar 3,89 juta Ha, sisanya berpotensi rendah.

Menurut catatan, bencana asap terbesar yang mengganggu aktivitas masyarakat di seluruh Kalimantan Tengah terjadi pada 1995 akibat kebakaran seluas 1,5 juta Ha lahan gambut di wilayah itu.

Aksi mitigasi dan pencegahan harus terus dilakukan, baik oleh pemerintah pusat mau pun daerah dan segenap penduduk setempat.

 

Advertisement