
JAKARTA – (KBKNEWS) – 13/9 – WAKIL Ketua Komisi V DPR RI Syaiful Huda mendesak Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengambil kebijakan radikal dalam merespons rentetan musibah kecelakaan laut yang terus berulang di perairan Indonesia.
Terbaru, ia menyoroti insiden hilangnya kapal penumpang KMP Virgo Transport 8 rute Surabaya menuju Banjarmasin yang membawa 243 penumpang pada Minggu (13/9).
“Kita tidak boleh lagi menganggap musibah di laut sebagai sekadar ‘takdir’ atau faktor cuaca semata. Ini adalah akumulasi dari kelalaian sistemik dan lemahnya pengawasan. Saya mendesak Kemenhub untuk mengambil kebijakan radikal, bukan lagi sekadar teguran administratif atau inspeksi reaktif pasca-kejadian,” ujar Huda.
Selain KMP Virgo, ada kasus kebakaran hingga kapal tenggelam yang melibatkan sejumlah kapal, seperti KMP Mutiara Sentosa II, KM Prince Soya, KMP Putri Yasmin, dan KM Nurul Salsa.
Huda juga menyayangkan lambannya respons pemerintah dalam merespons berbagai kecelakaan kapal penumpang yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Perlu aksi radikal
Politikus PKB ini menilai perlu ada kebijakan atau intervensi yang bersifat radikal dan langkah tegas di lapangan.
Sebab, menurut dia, selama ini sanksi yang dijatuhkan kepada operator pelayaran yang melanggar aturan keselamatan masih terlalu ringan sehingga tidak menimbulkan efek jera.
“Kalau tidak ada langkah yang bersifat mendasar dan tegas kami khawatir kecelakaan laut yang melibatkan kapal penumpang dengan jumlah korban jiwa besar akan terus terjadi di waktu mendatang,” kata dia.
Dalam kesempatan ini, ia menyarankan tiga langkah darurat yang harus segera direalisasikan oleh pemerintah dalam menekan angka kecelakaan kapal penumpang.
Pertama pemerintah diminta menghentikan sementara operasional kapal-kapal yang tidak memenuhi standar keselamatan ketat, khususnya pada rute-rute penyeberangan padat penumpang.
Kedua, pemerintah harus mencabut izin operasi secara permanen bagi perusahaan pelayaran yang terbukti melakukan pelanggaran kapasitas muatan (overload) atau memalsukan manifes, serta memproses hukum oknum regulator yang terbukti terlibat.
“Ketiga kami mendesak adanya integrasi sistem perizinan berlayar dengan data kependudukan secara real-time guna memastikan akurasi data penumpang di atas kapal,” lanjut dia.
Hilang kontak
Diberitakan sebelumnya, kapal Virgo Transport 8 yang membawa sekitar 243 penumpang mengalami hilang kontak di Perairan Laut Jawa saat berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Kapal itu dilaporkan hilang kontak pada Minggu sekitar pukul 02.00 Wita. Saat kejadian, kapal sedang dalam perjalanan dari Surabaya menuju Banjarmasin setelah berlayar sejak Sabtu (12/9).
Tim SAR gabungan masih menyisir kawasan perairan tempat kapal mengalami kecelakaan.
Basarnas mencatat sebanyak enam orang meninggal dunia dalam kecelakaan Kapal Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa.
Dari jumlah tersebut, 97 orang dilaporkan selamat, sementara 140 lainnya masih dalam pencarian.
Kedua, pemerintah harus mencabut izin operasi secara permanen bagi perusahaan pelayaran yang terbukti melakukan pelanggaran kapasitas muatan (overload) atau memalsukan manifes, serta memproses hukum oknum regulator yang terbukti terlibat.
“Ketiga kami mendesak adanya integrasi sistem perizinan berlayar dengan data kependudukan secara real-time guna memastikan akurasi data penumpang di atas kapal,” lanjut dia.
601 Kecelakaan Laut sepanjang 2026
Data dari Basarnas mengungkapkan, 601 kecelakaan kapal tercatat sejak Januari hingga 15 Agustus 2026. Dari ratusan insiden tersebut, 239 orang meninggal dunia dan 203 lainnya masih dinyatakan hilang.
Sebanyak 601 kecelakaan tersebut merupakan jumlah operasi pencarian dan pertolongan (SAR) yang dilakukan Basarnas sepanjang periode tersebut.
“Kami sampaikan di kesempatan ini, berdasarkan hasil operasi yang kami laksanakan mulai Januari hingga 15 Agustus 2026, kami mencatat ada 601 kali operasi SAR dilaksanakan,” kata Syafii.
Dari 601 operasi itu, terdapat 3.607 korban terdampak. Sebanyak 3.165 orang berhasil diselamatkan, sedangkan 239 orang tewas dan 203 orang lainnya dinyatakan hilang.
“Dari jumlah operasi yang dilaksanakan ada korban terdampak 3.607 korban, 3.165 diselamatkan dalam kondisi selamat, 239 dalam kondisi meninggal dunia, dan yang dinyatakan hilang berjumlah 203 orang,” ujarnya.
Pembenahan total instansi terkait yang bertangungjawab pada keselamatan angkutan laut, mulai para operator pelayaran, syahbandar , juga Basarnas perlu dilakukan, khususnya terkait reward dan ketegasan punishment. (kompas.com/ns)




