
JAKARTA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan bahwa makroalga atau rumput laut memiliki kandungan karbon yang dapat dijadikan sebagai sumber energi alternatif, seperti gas hidrogen, biogas, bioetanol, atau bahkan char yang dapat diubah menjadi bahan bakar padat.
“Kandungan karbon dalam makroalga dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi,” ujar Novi Syaftika, seorang peneliti di Bidang Teknologi Industri Proses dan Manufaktur BRIN, dilansir dari Antara, Kamis (27/7/2023).
Tahun ini, Novi memimpin tim penelitian yang bertujuan untuk memanfaatkan rumput laut Indonesia sebagai bahan baku produksi gula untuk bioetanol atau produk lainnya.
Novi menyatakan bahwa saat ini hanya beberapa spesies dari lebih dari 700 spesies rumput laut di Indonesia yang telah dimanfaatkan untuk industri pangan, seperti agar-agar atau karagenan. Namun, potensi rumput laut sebagai sumber energi biomassa belum dieksplorasi sepenuhnya.
“Dengan kandungan dan keunikan makroalga, penghasilan produk non-energi tetap menarik, seperti pigmen atau senyawa bioaktif yang dapat digunakan dalam bidang kesehatan,” katanya.
BRIN telah melakukan kolaborasi dengan berbagai universitas, baik di tingkat nasional maupun internasional, untuk melakukan penelitian dan kajian terkait pemanfaatan rumput laut sebagai sumber energi dan produk bernilai lainnya.
Dalam proses kolaborasi tersebut, berbagai metode konversi telah digunakan, termasuk metode termokimia seperti hidrothermal process, supercritical water gasification, dan pyrolysis, serta metode biologis.
Tak hanya itu, BRIN juga telah melakukan beragam penelitian lainnya, termasuk produksi pigmen, senyawa aktif, dan sintesis katalis untuk meningkatkan reaksi yang sesuai dengan produk yang diinginkan.
Kerja sama riset ini telah berlangsung selama dua tahun bersama dengan para mitra, dan telah menghasilkan lebih dari sembilan publikasi ilmiah internasional, beberapa prosiding di konferensi internasional, lokakarya nasional, magang mahasiswa, serta draf paten nasional.




