BANDJARAN DURNA (68)

Dengan menyogok srati Tumenggung Reksa Limanto, Haryo Setyaki berhasil membawa keluar gajah Hestitama untuk dieksekusi.

PARA peserta sidang di pesanggrahan Randu Watangan hanya senyum dikulum dengar celoteh Werkudara. Mau tertawa lepas takut dosa karena sama saja melecehkan Prabu Kresna botoh sekaligus konsultan politik Pendawa. Tetapi dalam hati kecilnya yang pating pringkil mereka membenarkan hasil survei amatiran raja Dwarawati tersebut. Durna itu dalam petunjuknya bilang A, tapi dia sebetulnya menginginkan B, jadi mirip parpol PKS-lah. Jika dia bilang salah, sebetulnya malah benar!

Semua masih ingat, bagaimana ketika Bratasena diperintahkan Begawan Durna masuk telenging (pusat kedalaman) samodra demi mencari banyu (air) Perwitasari. Lahirnnya dia bilang demi meningkatkan derajat Bima di masa depan. Padahal dalam hatinya dia berdoa, biar matilah Bima karena tak bisa slulup (menyelam) dalam air. Jangankan berenang, lha wong mandi di  mbrenangan Umbang Tirto Yogya saja dia senengnya mojok di bagian dangkal.

“Jika tak ada yang berani, ya sudah! Pendawa pasti kalah, negeri Ngastina tak bisa kembali, bahkan Ngamarta pun dirampasnya. Apa kalian siap tinggal di Rusun Perumnas Klender?” kata Prabu Kresna sambil matanya menyapu ke semua peserta sidang. Di belakang ada yang ngantuk, mungkin eks anggota DPR.

“Saya siap, kaka prabuuu…..!” sebuah teriakan terdengar dari bagian belakang, sambil tunjuk jari macam anak SD dalam mapel mencongak.

Ternyata dia Haryo Setyaki, sapukawat Dwarawati. Semua peserta sidang saling pandang, sebab mereka tahu siapa Setyaki, siapa pula Begawan Durna. Keduanya ini merupakan sosok yang selalu berseberangan secara ipoleksosbud (ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya). Karenanya bila debat di TV, sekeluar studio Begawan Durna harus dikawal, jika tidak bisa dihajar Setyaki. Istilah kata, ksatria Garbaruci ini sengite ngure-ured (benci sekali) pada Begawan Durna.

Prabu Kresna pemegang fotokopi Kitab Jitapsara yang berlabel “sangat rahasia”, tak bisa memenuhi kesediaan dan kesiapan adik iparnya tersebut. Di samping kontra produktif dengan Kitab Jitapsara, juga ada catatan kaki dalam kitab tersebut yang berbunyi: pembunuh Begawan Durna punya weton (tanggal lahir) sama dengan si korban. Siapa dia, ada dehhh…….Prabu Kresna pantang membocorkannya, karena takut dikutuk dewa jadi mainan lato lato…..tek etek….tek etek!

“Oo, nggak bisa Dimas. Tanggal lahirmu tidak sama dengan Begawan Durna. Kamu 20 Mei, sedangkan Begawan Durna 29 Februari. Kalau mau mending Dimas bunuh saja gajah Ngastina yang bernama Hestitama itu.” Saran Prabu Kresna.

“Sebetulnya ini pelanggaran pasal KUHP, tapi karena yang nyuruh kaka prabu sendiri, saya siap melaksanakan. Tapi jika ada dosanya, tanggungjawab kaka prabu lho ya.” Jawab Haryo Setyaki nadanya menawar.

Gajah Hestitama itu merupakan gajah pusaka kraton Ngastina, gajah kedua (cadangan) setelah Antisura yang menjadi kendaraan pribadi Prabu Duryudana. Maksudnya, Hestitama. Dia baru dipakai manakala gajah Antisura kecapekan atau mabuk gara-gara lupa minum Antimo. Jika sedang tak digunakan, gajah Kyai Hestitama dibiarkan berkeliaran di alun-alun kidul, mirip kebo Kyai Slamet kraton Surakarta.

Prabu Puntadewa yang hadir pakai koyok di pelipisnya, kaget mendengar saran Prabu Kresna. Sepaham dengam Setyaki, membunuh dan menyiksa hewan memang bisa dipidanakan. Dan raja Ngamarta itu tahu persis karena beliaunya juga pelihara anjing kesayangan yang dinamakan Kenci. Prabu Puntadewa memang raja penyayang binatang, sampai-sampai pernah janjian dengan anjingnya: nanti kita masuk surga sama-sama!

“Sabar dimas Setyaki, jangan gegabah….!” seru Prabu Puntadewa.

“Udah telat!” jawab Kresna.

Ya, Prabu Puntadewa gagal menahan Haryo Setyaki, karena yang bersangkutan sudah kabur duluan. Dia keluar dari pesanggrahan karena ingin segera membinasakan gajah Hestitama yang antitesanya Prabu Duryudana. Sungguh dia tak paham latar belakang pemikiran Prabu Kresna ini. Kenapa kok malah harus membunuh seekor gajah yan istilah kata ora dosa ora perkara (tak tahu apa-apa). Apa lagi sudah seminggu ini tanggnnya gatelan lantaran tidak nggebuki orang. Tak ada wayang, gajah pun jadilah.

Sebagai gajah cadangan Hestitama memang tak standby di pesanggrahan Bulupitu, dia tetap di areal kandangnya di alun-alun kidul. Ke sanalah Haryo Setyaki. Lazimnya gajah kan selalu bertubuh gemuk, tapi Hestitama agak kurusan, karena jatah pangannya dikorupsi oleh srati (perawat gajah)-nya. Mungkin dia terilhami pawang harimau bonbin Gembiraloka, yang tega menyunat anggaran makan si loreng sehingga tubuhnya kurus kering.

“He srati Tumenggung Reksa Limanto, nih uang Rp 5.000.000,- gajah Hestitama saya ambil ya. Biar aman mendingan kamu ngumpet, pulang kampung ke Lampung jadi dosen gajah di Way Kambas.” Ujar Haryo Setyaki pada srati yang dulunya memang tenaga pengajar gajah di Lampung.

“Tambahi dong, masak Rp 5 juta doang.” Ujar Tumenggung Reksa Limanto masih mencoba menawar.

Haryo Setyaki hanya bawa uang pas segitunya. Akhirnya Reksa Limanto hanya dimintai nomer rekening BNI-nya dan nanti mau ditransver. Ternyata srati mata duitan itu setuju, dan gembok kandang pun diserahkan pada Haryo Setyaki.  Ksatria Garbaruci itu tersenyum puas, taktiknya meniru Walikota Sudiro tahun 1945 berjalan sukses. Kala itu demi Bung Karno presiden pertama RI yang tak punya mobil dinas, Walikota Jakarta itu nekad mencuri mobil opsir Jepang. Sopirnya disogok dan diminta pulang ke Kebumen, dan mobil curian tersebut diserahkan pada Sang Proklamator. (Ki Guna Watoncarita)

Advertisement