78 Tahun lalu: Bom atom Hiroshima dan Nagasaki

Tragedi umat manusia dijathkannya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang (6 dan 9 Agustus 1945) semoga tidak terulang lagi.

UMAT manusia memperingati tragedi perang akibat dijatuhkannya bom atom oleh Amerika Serikat di kota Hiroshima, Jepang,  6 Agustus dan Nagasaki, 9 Agustus 1945, menewaskan ratusan ribu orang.

Mudah-mudahan, penggunaan bom atom, yang pertama dan terakhir, karena bom atom yang saat itu hanya berkekuatan beberapa puluh kilo ton, menewaskan 129.000 sampai 246.000 penduduk di kedua kota.

Bom berjulukan “little boy” yang dijatuhkan dari pesawat pembom B-29 Superfortress, 6 Agustus menyebabkan kota luluh-lantak, sekitar separuh dari total korban tewas pada hari pertama, selebihnya menyusul sampai beberapa bulan kemudian akibat luka bakar, cedera, terpapar radiasi.

Tragedi  sama terjadi tiga hari kemudian, 9 Agustus 1945, AS sengaja memilih kota Nagasaki sebagai korban kedua bom atomnya, karena kota industri ini menjadi pendukung produksi mesin perang Jepang yang harus dihancurkan.

Bom dijatuhkan di Nagasaki lebih cepat dua hari dari rencana semula yakni 11 Agustus dengan pertimbangan, pada hari tersebut cuaca diperkirakan buruk sehingga bisa menganggu jalannya operasi.

Pemerintah AS mulai mengembangkan senjata atom melalui Proyek Manhattan yang dilakukan sangat rahasia oleh Korps Insinyur AD negara itu untuk memenangkan Perang Pasifik melawan Jepang.

Pada 16 Juli 1945, uji coba bom atom pertama berhasil dilakukan di Situs Trinity, Alamogordo dekat New Meksiko bersamaan dengan kemenangan pasukan AS dan sekutu-sekutunya melawan Jerman di palagan Eropa.

Sekitar 50.000 orang berkumpul di Taman Perdamaian di Hiroshima, Minggu (6/8) untuk memperingati dan mengenang tragedi umat manusia 78 tahun lalu yang merenggut ratusan ribu penduduk.

Sebagian yang hadir adalah para lansia berusia di atas 80 tahun yang menjadi penyintas dan juga saksi mata peristiwa tersebut.

Sementara PM Jepang Fumio Kishida dalam pernyataannya mengecam Rusia yang melontarkan ancaman dengan senjata nuklir dalam perang dengan Ukraina yang masih berlangsung saat ini.

“Jepang, satu-satunya negara yang menjadi korban akan terus memperjuangkan dunia yang bebas dari senjata nuklir, “ ujarnya, namun ia mengakui terciptanya keterbelahan masyarakat int’l terkait perlucutan senjata dan ancaman nuklir Rusia sehingga mempersulit upaya tersebut.

Kishida pada bagian lain pernyataannya berharap agar kehancuran dunia akibat penggunaan senjata nuklir tidak terjadi lagi, sementara hal senada ajuga dilontarkan oleh Sekjen PBB Antonio Guterres yang menyebutkan, masih ada negara yang dengan jumawa mengancam penggunaan kekuatan nuklirnya.

“Warga dunia harus bersatu untuk menyatakan, penggunaan senjata nuklir tidak bisa diterima, “ ujarnya.

Menurut catatan, walau terus dilakukan kesepakatan pembatasan senjata nuklir (SALT), AS dan Rusia saja masih memiliki masing-masing 5.500 dan 6.000 an hulu ledak nuklir, belum lagi Inggeris, Perancis, Itali, Jerman, China dan Korea Utara.

Jika terjadi perang nuklir saat ini, satu hulu ledak yang berkekuatan antara 50 sampai 100 megaton dan dapat diluncurkan dari situs-situs di darat, udara (pesawat pembom), laut dan bawah laut (kapal selam) akan menimbulkan kerusakan dahsyat bagi dunia dan umat manusia.

“Semoga tidak ada lagi pemimpin negara adikuasa yang berfikir untuk menggunakan senjata nuklir, “.

 

 

 

 

 

 

Advertisement