Langit Kelabu Jakarta

Langit Jakarta selalu abu-abu, karena polusi udara yang juga berasal dari luar daerah. Maklum, udara tak punya KTP sehingga terus bergerak tak pernah diam.

KATA penyanyi dan pencipta lagu Chrisye (1949-2007) tak selamanya mendung itu kelabu (lagu Kidung -1978). Rasanya  sekarang sudah tidak cocok lagi untuk kota Jakarta. Udara kotor (polusi), di mana langit selalu nampak abu-abu, sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Belakangan ini udara kotor Jakarta sudah berbaur dan bercampur dengan mulut kotor Rocky Gerung. Untung saja 10 Agustus kemarin tak sampai terjadi  penggropyokan rame-rame terhadapnya, sebagaimana ancaman Relawan Jokowi.

Yang jelas udara kotor di langit Jakarta tetap eksis, langitnya tetap abu-abu. Media online CNBC Indonesia kemarin memberitakan, kualitas udara Jakarta, kembali masuk kategori “tidak sehat”. Menurut Air Quality Index (AQI), Jakarta menduduki posisi pertama sebagai kota dengan udara terkotor di dunia. AQI mencatat bahwa kualitas udara Jakarta berada di angka 156 dan menduduki posisi pertama sebagai kota udara terkotor di dunia.

Berdasarkan pantauan CNBC Indonesia pada pukul 15.00 WIB 10 Agustus kemarin, posisi Jakarta jauh di atas Dubai, Uni Emirat Arab, yang hanya mencatatkan nilai AQI 140 dan Lahore, Pakistan dengan nilai 134. Sedangkan Jakarta mendapat ranking nomer satu dengan nilai: 165, bahkan di tahun 2019 Jakarta juga sudah pernah menduduki ranking pertama. Maka andaikan lulusan SMA, Jakarta sudah bisa masuk PTN tanpa tes yang dulu biasa disebut PMDK (Penelusuran Minat Dan Kemampuan).

Di musim kemarau ini, dari pagi sampai sore langit Jakarta nampak terlihat abu-abu, bahkan di malam hari sudah barang tentu jadi menghitam! Diprediksi ini akan berlangsung sampai Oktober 2023 seiring dengan datangnya musim penghujan. Di pagi hari terutama, langit Ibukota kembali membiru, karena udara kotor itu ikut larut bersama air hujan, masuk sumur resapannya Gubernur Anies, sebagian ikut mengalir ke laut lewat gorong-gorong raksasa. Mungkin Jakarta sendiri yang salah mengambil keputusan, tapi itu faktanya.

Udara yang kotor di Jakarta itu, jika merunut penelitian Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), ih……mengerikan! Isinya adalah PM2.5, yakni partikel udara yang berukuran lebih kecil dari atau sama dengan 2.5 mikrometer. Partikel PM2.5 tersebut termasuk debu, jelaga, kotoran, asap, dan tetesan cair. Benda-benda ini hanya dapat dilihat dengan mikroskop elektron.

Dokter spesialis paru dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Erlina Burhan juga mengakui, kualitas udara di Jakarta sedang tidak baik-baik saja. Dengan nilai PM 2.5 itu artinya 24 kali batas aman WHO. Menurut Erlina, kondisi tersebut amatlah buruk. Kualitas udara yang buruk tersebut jika dihirup secara terus menerus  akan memicu timbulnya berbagai macam penyakit. Misalnya kardiovaskuler, gangguan atau masalah di saluran pernapasan, risiko kanker, dampak neurologis, menurunkan fungsi paru-paru hingga memiliki risiko bayi lahir prematur.

Tapi mau bagaimana lagi, orang tak bisa hidup tanpa menghirup O2  meski mutunya buruk sekalipun. Tak mungkinlah tahan napas untuk menghindari udara buruk. Untungnya udara buruk itu tidak identik dengan bau busuk yang masuk ke hidung. Maka berbahagialah warga Ibukota, meski sehari-hari menghirup udara buru kadang-kadang ada kandungan bau teri yang digoreng tetangga, atau bau duren yang sedang dibelah rumah sebelah.

Lalu apa yang membuat udara di Jakarta tak layak untuk dihirup? Ada banyak faktor, salah satu sebabnya adalah asap batu bara. Berdasarkan studi Vital Strategies, pembakaran batu bara menjadi salah satu penyebab buruknya kualitas udara di Jakarta. Hampir seperlima polusi berasal dari pembakaran batu bara. Ini tak heran, Jakarta dikepung oleh  8 PLTU batu bara dalam radius 100 km. Bahkan pada tahun 2020 lembaga penelitian Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) mencatat bahwa Jakarta juga dikelilingi 118 fasilitas industri yang turut berkontribusi terhadap pencemaran udara di Jakarta.

Ini nyambung dengan keterangan Gubernur Anies Baswedan ketika masih menjabat. Pada Juli 2022 dia bilang bahwa polusi udara di Jakarta terjadi juga karena produk asap dari luar daerah Ibukota. “Itu karena udara dan angin tak punya KTP, sehingga dia tak menetap di satu tempat, dia bebas bisa ke mana-mana.” Kata Anies agak melucu.

Andaikan angin atau udara punya KTP, Dinas Kependudukan DKI pastilah sibuk luar biasa, karena harus melayani angin minta KTP baru karena sudah berusia 17 tahun. Begitu juga angin atau udara yang sudah manula, berusia 60 tahun ke atas harus diberikan KTP seumur hidup. Memangnya angin dan udara punya umur? Udara yang mengandung kentut saja beberapa detik sudah bikin kepala pusing, apa lagi sampai tahunan. (Cantrik Metaram).

Advertisement