Koalisi Kamp David Hadapi China dan Korut

Presiden Amerika Serikat Joe Biden (kiri) bertemu di Camp David, AS (18/8) dengan Presiden Korea Selatan Yoon Suk-yeol dan PM Jepang Fumio Kishida untuk menggalang langkah menghadap ancaman China dan Korea Utara.

PRESIDEN Amerika Serikat Joe Biden, Presiden Korea Selatan Yoon Suk-yeol dan PM Jepang Fumio Kishida bertemu di resort peristirahatan Camp David, AS, Jumat ini (18/8) untuk menggalang langkah menghadapi potensi ancaman China dan Korea Utara.

Koalisi antarnegara yang memicu polarisasi geopolitik global seperti terjadi antara blok Barat dan Timur di era Perang Dingin lalu ternyata masih berlanjut di era now, hanya pelakunya yang bertambah.

Jika di era Perang dingin terjadi bipolarisasi antara AS dan Uni Soviet, di era now bergeser dengan munculnya kekuatan baru China selain Rusia mewakili atau penerus Uni Soviet yang runtuh pada akhir 1991.

Camp David, Maryland di luar Washington DC  yang dibangun pada era kepemimpinan Presiden Frakliyn D Rosevelt (1933 – 1945) adalah lokasi bersejarah yang sering digunakan untuk perundingan damai, salah satunya antara Presiden Mesir Anwar al-Sadat dan PM Israel Menachem Begin pada 1978.

Pertemuan kali ini dibayang-bayangi Perang Rusia dan Ukraina sejak invasi Rusia 24 Febryari 2022  melibatkan AS dan 30 negara anggota NATO lainnya, kebangkitan ekonomi dan militer China serta ancaman akibat uji-uji coba rudal balistik antarbenua (ICBM) dan bom nuklir oleh Korea Utara.

Diprakasai oleh Presiden Biden, pertemuan Camp David kali ini untuk membahas isu keamanan dan kerjasama lainnya adalah yang pertama kalinya dilakkan ketiga pemimpin negara itu setelah sebelumnya bertemu dalam forum KTT G-7 di Hiroshima, 19 -21 Mei lalu.

Kerjasama militer termasuk sistem pertahanan dari serangan ICBM terkait pendanaannya, teknologi dan riset, berbagi data dan sistem peringatan dini  diperkirakan akan menjadi fokus pertemuan trilateral tersebut.

Korsel yang sampai hari ini masih dalam status perang dengan tetangga dan negara serumpun, Korut sejak Perang Korea antara 1950 sampai 1953 tentu paling mencemaskan potensi ancaman tersebut, begitu juga Jepang yang posisi geografisnya berdekatan.

Korut pun melampiaskan protes atas pertemuan Camp David tersebut dengan mengancam akan melakukan uji coba peluncuran rudal-rudal ICBM.

Dinas Intelijen Korsel (NIS) juga melaporkan, Korut sedang memindahkan rudal-rudalnya ke sekitar ibukota, Pyongyang, dan selain itu dilaporkan mobilisasi unit-unit rudal lainnya, kemungkinan untuk menggelar latgab.

China dan Korut melayangkan protes keras atas pertemuan Camp David dengan menuding, AS, Jepang dan Korsel berupaya menarik Asia Tenggara dan negara-negara di kawasan Pasifik dalam kerjasama keamanan.

Sementara Dosen China Foreign Affair University Li Haidong menyebutkan forum Camp David merupakan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) versi Asia atau “mini NATO” dengan memanfaatkan kecemasan atas situasi di Semenanjung Korea.

“Forum tersebut tidak ditujukan untuk menyelesaikan masalah, tetapi malah melahirkan persekutuan yang bakal mendominasi arsitektur keamanan kawasan, “ tuturnya seperti dikutip harian China “Global Times”.

Hal senada dilontarkan Menhan Korut Kang Sun Nam yang mengecam petemuan Camp David dengan menyebutkan, AS terus berusaha memicu perang nuklir di kawasan Asia Timur, terbukti dari pengerahan kapal-kapal perang dan kekuatan udaranya  selama latihan di kawasan tersebut.

Perang kata-kata antara kubu Korut dan China di satu pihak dan AS bersama konco-konconya di pihak lain sudah acap kali muncul,  mudah-mudahan cukup sebatas itu, tidak sampai memicu perang nyata yang menjadi mala petaka bagi seluruh umat manusia. (AP/Reuters/ns).

 

 

 

 

 

Advertisement