
MESKI selama ini Wisatha cuek bebek soal pemerintahan baik di Mandura maupun Ngastina, tapi sudah tahu juga siapa Eyang Sengkuni ini. Setidaknya dari percakapan gethok-tular (baca: kata orang) di tengah masyarakat. Sosok satu ini kan pernah punya nadzar mau jalan kaki Yogyakarta-Jakarta, tapi tak kunjung dilaksanakan. Kabarnya dia memang sudah membayar fidyah pada orang miskin sebanyak 1.000 muts, sehingga Patih Sengkuni sudah gugur dari utangnya tersebut.
Dan sekarang, tiba-tiba Patih Sengkuni menemuinya di tempat karaoke yang lampunya temaram, ditingkah suaranya orang menyanyi “Rungkad” yang bahasanya kacau balau, atau juga lagu abang bakso dicampur lato-lato. Oleh karenanya Wisatha harus berhati-hati. Siapa tahu dia mau memanfaatkan namanya, karena ini menjelang Pilpres 2024. Sebab bagaimana pun juga, dirinya adalah “Gibran”-nya negeri Mandura.
Karenanya banyak orang memanfaatkan, meski Wisatha iki kelasnya hanya gombale Mukiyo.
“Maaf nakmas Wisatha, kamu jangan menghancurkan dirimu sendiri. Masa depan Mandura ada di tanganmu. Tinggalkan dunia yang merusak masa depanmu ini….”, nasihat Patih Sengkuni to the point saja. Suaranya bisik-bisik, agar tak didengar pengunjung yang lain.
“Lho, saya malah tidak merasakan ancaman masa depanku, Eyang. Bagi saya, main karaokean itu justru membuat semakin dekat dengan rakyat. Ini kan trennya pemimpin masa kini Eyang.” Jawab Wisatha sang pangeran Mangkubumi sepertinya belum dhong (paham).
Patih Sengkuni lalu menarik tangan Wisatha, diajak ke sudut ruangan. Di situ ditunjukkan video Prabu Baladewa bersama kedua patihnya, Pragota dan Prabowo. Dalam video itu tampak Prabu Baladewa berjalan kaki bersama Patih Prabowo-Patih Pragota masuk tanggul irigasi persawahan. Uniknya, ketika Prabu Baladewa nampak baik-baik saja kondisi tubuhnya bersama Patih Pragota, Patih Prabowo sudah nampak sekali berkeringat, gemrobyos bermandikan keringat, sementara napasnya menyaingi lokomotif uap jenis D produk Croop Jerman. Hoss hoss hosss…..jugg jugg ujugg……
“Pemimpin Mandura ke depan harus mampu melanjutkan proyek Kuntiboja Pura, sebab ini mimpi Eyang Prabu pendiri negeri ini 78 tahun lalu. Mau tahu ciri-cirinya?” kata raja Mandura itu di depan massa rakyat Mandura yang antusias menyambutnya.
“Mau, mau……Sinuwun, mau!”teriak rakyat dengan tempik sorak membahana.
Prabu Baladewa lalu menunjukkan ciri-ciri penggantinya ke depan. Di antaranya adalah, rambutnya sudah memutih, dahi berkerut-kerut. Dia juga tidak gamang bergaul dengan rakyat kecil. Misalkan gendong balita, yang digendong nyaman ketawa-ketiwi bukan malah nangis gembret-gembret (melolong) histeris karena ketakutan. Ini ciri pemimpin yang dekat dengan rakyat, yang mengalami masa kecil ngrekasa (sengsara).
Wisatha kaget juga ketika mendengar orasi sang ayah bahwa pemimpin Mandura ke depan yang berambut putih dan dahi berkerut. Padahal dirinya kalau sedang pakai semir rambut, warnanya justru yang pirang meniru orang Barat. Jidat miliknya juga belum berkerut, jika sekedar pitak, memang iya! Sebab dulu ketika masih bocah pernah kena ketapel teman gara-gara mencuri jambu di kebun Pak Raden.
“Jadi sampai sebegitunya rama Baladewa berorasi. Lha saya ini mau dianggap apa?” ujar Wisatha dengan wajah termangu-mangu macam daerah wisata di Kabupaten Karanganyar wetan Solo.
“Makanya, kamu sebagai pangeran mangkubumi jangan hanya asyik di tempat hiburan malam. Posisimu sebagai penerus dinasti Mandura terancam…” jawab Patih Sengkuni mencoba mencambuk semangat Wisatha.
Wisatha diam membatu. Dia benar-benar baru tahu bahwa sampai setega itu sang ayah hendak menyingkirkannya. Menyesal dia tak mengikuti berita TV dan media online. Sebab meski punya HP canggih, selama ini hanya untuk nonton TikTok yang berupa humor pendek. Berita online semacam Detikcom atau Kompascom, tak pernah dilihat. Padahal di situ gudangnya informasi perkembangan terakhir berbagai negara di dunia.
Sebagai pakar “people power” sebetulnya Patih Sengkuni ingin ngompori Wisatha untuk menggerakkan massa, menggeruduk istana Mandura. Sayangnya Wisatha ini tak punya basis massa, sehingga susah untuk menggerakkan banyak orang. Kalau hanya sekedar panasbung (panasbung), berapa orang yang bisa dikerahkan, tergantung logistik yang tersedia. Karenanya Sengkuni hanya menyarankan untuk mendekati sang ibu saja, Dewi Erawati. Hanya dia yang punya power untuk mempengaruhi Prabu Baladewa.
“Nakmas Wisatha harus melobi ibumu, Dewi Erawati. Hanya beliaunya yang bisa mengubah pikiran suami. Di mana-mana lelaki itu tunduk pada istri. Takut di embargo malem Jumatnya nanti.” Kata Patih Sengkuni.
“Akan saya coba Eyang. Terima kasih atas infonya yang sangat berharga ini.”
Demikianlah, Wisatha esok paginya benar-benar menemui sang ibu, Dewi Erawati. Bukan minta uang jajan sebagaimana biasa, tapi mau klarifikasi soal info dari Patih Sengkuni. Ini benar adanya, atau sekedar hoaks demi konten cari uang. Tapi apa iya, patih sekelas Sengkuni mau ikut-ikutan jadi Youtuber?
Jika ternyata benar, harus dicegah. Masak hak tahta kerajaan kok dibagi-bagi ke orang lain, memangnya BLT apa? Tahta Mandura hak waris atau suksesi tetap pada Wisatha, titik. Tak bisa dipindah tangankan pada pihak lain yang bukan trah. Trah pun harus tegak lurus pada keturunan lelaki, bukan perempuan. Sekali lagi ditegaskan, ini bukan Kraton Yogyakarta Hadiningrat, melainkan Kraton Mandura Kalokengrat.
“Pagi-pagi kok sudah ke sini, Wisatha. Memangnya uang jajanmu sudah habis? Boros amat, Rp 1 juta sehari bukan sedikit lho. Kau belikan apa sayang?” ujat Dewi Erawati penuh kasing sayang.
“Uhuk, uhuk, uhuk……” jawab Wisatha malah mengis, macam anak balita saja.
Jika adegan wayang sungguhan, pastilah sudah diiringkan gending Tlutur pathet nem surem-sure diwangkara kingikin lir manguswa kang layon…… sebagai penanda wayang sedang susah atau sedih. Tetapi karena ini sedang wayang parodi, iringan suluk dari kaset saja tidak sama sekali. Memang kurang berkesan, apa lagi menggigit.
(Ki Guna Watoncarita)


