ASEAN Diharapkan Lebih Membumi

Presiden Jokowi meninjau kesiapan KTT ASEAN ke-43 dalam keketuaan RI 2023 yang digelar di Jakarta, 3-7 Sept. 2023. Pilar untuk menciptakan ASEAN sebagai pusat pertumbuhan akan dirumuskan selama ajang tersebut.

SEGUDANG “PR” perlu diselesaikan dalam kedudukan presidensi RI  di ASEAN pada 2023, selain krisis politik yang berlarut-larut di Myanmar dan untuk membuat perhimpunan bangsa-bangsa Asia Tenggara itu lebih membumi.

Pengamat menilai, ASEAN yang dibentuk atas prakarsa RI pada 1967 belum banyak melibatkan kelompok-kelompok masyarakat sipil dan menciptakan program kongkrit yang bermanfaat bagi warga akar rumput.

Terkait isu substantif yakni krisis politik Myanmar sejak kudeta yang dilancarkan oleh kelompok junta  militer terhadap pemerintah sipil pada Feb. 2021, belum ada terobosan solusi yang bisa dilakukan, sementara Lima Butir Usulan ASEAN (Five-Points Proposal ) ditanggapi dingin oleh junta Myanmar.

Persoalan yang mirip, munculnya hegemoni militer di panggung politik Thailand dan  Kamboja kemungkinan juga bakal menjadi tantangan bagi ASEAN untuk mendorong terciptanya  pemerintah sipil dan masyarakat madani di kawasan.

Sementara di tengah situasi geopolitik yang dinamis saat ini, mengemuka pandangan di forum diskusi “Menuju KTT ASEAN ke-43: Realitas terkait Sentralitas ASEAN” yang digelar di Jakarta (31/8) bahwa ASEAN  belum membuka ruang lebih luas bagi masyarakat sipil.

Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Synergy Policies Dinna Prapto menilai, meski ASEAN mengklaim menerapkan semangat Piagam ASEAN yang fokus pada rakyat, prakteknya hanya berpusat pada aktivitas negara.

ASEAN, menurut dia, kurang mampu merespons isu-isu krusial dan tantangan yang dihadapi masyarakat Asia Tenggara, sedangkan para pemimpinnya hanya mengedepankan konsensus di antara mereka tanpa mengacu pada indikator sentralitas ASEAN.

“ASEAN harus fokus pada rakyatnya, karena ASEAN bukan perhimpunan para pemimpin. Semangat Piagam ASEAN ada pada rakyat, “ ujarnya.

 Empat roh

Sementara Presiden Joko Widodo menjelang KTT ASEAN yang akan digelar di Jakarta, 3 sampai 7 September 2023 menyebutkan empat roh besar sepanjang keketuaan RI di ASEAN saat ini.

Yang pertama, meletakkan visi jangka panjang ASEAN dengan menegosiasikan ASEAN Concord yang akan dijadikan fondasi kuat menghadapi tantangan hingga 2045.

Roh kedua yakni menjadikan ASEAN agar lebih tangguh menghadapi tantangan masa depan untuk membuat ASEAN siap mengambil keputusan cepat untuk mengatasi situasi krisis dan darurat.

Seangkan roh ketiga, menjadikan kawasan Asia Tenggara sebagai pusat pertumbuhan (epicentrum of growth) dengan memanfaatkan aset-aset yang dimiliki yakni perdamaian, stablitas serta demografi penduduk yang produktif.

Di KTT ke-43 ASEAN, kata Jokowi, banyak kerjasama antara ASEAN dengan negara-negara mitra, misalnya terkait ketahanan pangan dengan Australia, India dan Kanada, pembangunan ekosistem baterai dengan ASEAN plus Three (China, Jepang dan Korsel).

Seangkan roh ke-4 dengan mentransformasikan konsep pandangan ASEAN terhadap Indo Pasifik (ASEAN Outlok on the Indo-Pasififc -AOIP) menjadi kerjasama kongkret.

Sementara terkait solusi isu Myanmar, Jokowi seperti yang disampaikannya di berbagai kesempatan, tidak boleh menghambat kerja-kerja ASEAN.

“ASEAN harus fokus membangun komunitas ASEAN di tengah tantangan global yang makin besar. Hasil kerja nyatanya dinantikan oleh 650 juta penduduk ASEAN, “ kata Jokowi.

Semoga keketuaan RI di ASEAN saat ini akan menghasilkan pilar kuat bagi perhimpunan bangsa-bangsa di Asia Tenggara itu menatap dan melangkah dengan pasti untuk menyingkirkan segala tantangan dan rintangan  sampai 2045.

 

 

 

 

 

Advertisement