
MENJELANG pendaftaran bakal calon presiden dan calon wakil presiden yang dimulai 19 Oktober nanti, parpol atau gabungan parpol (koalisi) masih tarik-menarik khususnya terkait nama-nama cawapres yang akan diusung.
Dari sederetan nama, seperti Menko Polhukam Mahud MD, Menteri BUMN Erick Thohir, Menparekraf Sandiaga Uno, Mantan Panglima TNI Jenderal Andhika Perkasa, Gubernur Jatim Kofifah Indar Parawansa, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiatuti, baru Ketum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang resmi dicalonkan Koalisi Persatuan untuk Perubahan.
Itu pun membuat heboh karena dilakukan mendadak (3/8) dan melukai mitra koalisi yakni Ketum Partai Demokrat (PD) Agus Harimurty Yudhoyono (AHY) yang sejak semula digadang-gadang akan dicalonkan sebagai cawapres oleh Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP) terdiri dari Partai Nasdem, PD dan Partai Kadilan Sejahtera (PKS).
PKS sejauh ini masih tetap loyal untuk mendukung pencalonannya sebagai bakal capres dari KPP.
PD serta merta menarik diri dari KPP, dan langsung mencabuti seluruh spanduk memuat foto pasangan Anies Baswedan dan AHY yang terpampang di sejumlah sudut jalan protokol di berbagai kota di Indonesia.
Sementara para Ketum parpol pendukung Ganjar Pranowo yakni Megawati Soekarnoputri, Plt Ketum PPP Mardiono, Ketum Partai Persatuan Indonesia (Perindo) Hary Tanoesoedibyo dan Ketum Partai Hanura Osman Sapta Odang bertemu di Jakarta (4/9).
Keempatnya berupaya mengkonsolidasikan kekuatan dengan membentuk tim pemenangan dan mematangkan seleksi nama-nama cawapres yang saat ini sudah mengerucut ke beberapa nama seperti Menparekraf Sandiaga Uno, Menteri BUMN Erick Thohir atau lainnya.
PDI-P yang sudah resmi mengajukan Ganjar menjadi capres sampai hari ini juga belum menjatuhkan pilihannya pada cawapres yang akan mendampinginya, sementara PPP yang juga merapat mendukung Ganjar mengajukan Sandiaga Uno sebagai cawapres pendamping Ganjar.
Tensi Politik Memanas
Tensi politik makin memanas setelah tiba-tiba Partai Nasdem menawarkan Ketum PKB Muhaimin Iskandar atau Cak Imin menjadi bakal cawapresnya, padahal PKB sebelumnya berada dalam KKIR bersama Partai Gerindra di bawah Prabowo.
Soalnya, Cak Imin yang tampak akrab dengan Prabowo tidak dipinang-pinang sebagai bakal cawapres KKIR, bahkan KKIR diperluas menjadi Koalisi Indonesia Maju (KIM) yang membuat posisi Cak Imin untuk meraih tiket cawapres makin tipis, karena ada Ketum Partai Golkar Airlangga Hartarto dan Ketum PAN Zulkifli Hasan yang juga berpeluang untuk maju sebagai cawapres.
Namun nominasi Cak Imin sebagai cawapres oleh Ketum Partai Nasdem Surya Paloh membuat Hari Murti Yudhoyono (AHY) meradang karena dalam piagam koalisi KPP namanya sudah disebutkan sebagai cawapres KPP.
AHY dan ayahnya, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang menjabat Ketua Pembina Partai Demokrat merasa dikhianati karena beberapa hari sebelumnya Capres KPP Anies Baswedan secara pribadi menguatkan wacana pencalonannya sebagai cawapres.
Bahkan sehari sebelum pengumuman resmi pengajuan Cak Imin sebagai cawapres KPP, Anies menegaskan lagi, AHY akan dideklarasikan sebagai cawapres KPP awal bulan ini.
Bagi Partai Demokrat, seperti dikatakan AHY, pihaknya sudah bisa move-on dari apa yang disebutkan penghianatan oleh Anies dan KPP, namun arah ke mana AHY dan partainya akan berlabuh menjadi bahan kajian para pengamat.
Salah satu opsi, AHY dan PD akan merapat ke PDI-P yang mengajukan Ganjar sebagai capres, tentu dengan mengesampingkan kerenggangan hubungan antara Megawati dan SBY di masa lalu.
Megawati pernah merasa dikhianati SBY yang menjabat menko Polkam di kabinetnya, tiba-tiba membelot dan mencalonkan diri, lalu mengalahkannya dalam Pilpres 2004. Saking kesalnya, Mega tidak hadir dalam acara pelantikan SBY menjadi presiden ke-6.
Pilihan-pilihan bagi AHY bersama PD
Opsi lain, AHY akan merapat ke kubu KKIR yang sudah diperluas menjadi KIM dengan masuknya Partai Golkar dan PAN, walau di sana ia bakal bertemu dengan mantan Ketua Umum PD Arnas Urbaningrum yang dipecat akibat kasus mega korupsi proyek Hambalang.
Bisa jadi, AHY akan membentuk koalisi baru, misalnya bersama PPP untuk mengajukan Sandiaga sebagai capres (walau kini sudah berada di koalisi bersama PDI-P mencalonkan Ganjar) dan mengajak Partai Golkar yang saat ini berada di KIM dan PKS yang juga kecewa karena Cak Imin bersama PKB hengkang dari KIM.
PD bisa saja memilih tidak bergabung dengan koalisi PDI-P dan PPP mau pun KIM namun tidak bisa mencalonkan diri karena jumlah perolehan suaranya jau di bawah ambang batas pencalonan presiden.
Jika itu yang dipilih, bisa jadi nama AHY tenggelam sehingga mengakhiri karier politiknya untuk berkontestasi lagi pada pilpres berikutnya (2029).
Sedangkan bagi Koalisi PDI-P, PPP dan juga KIM, pilihan cawapres masih terbuka lebar, selain cukup banyak stoknya, juga dari berbagai pertimbangan.
Pilihan cawapres tentunya bakal didasarkan atas chemisteri atau kecocokan dengan capres, kekuatan elektoral di wilayah tertentu yang menjadi kelemahan capres, segmen pemilih (pemilih pemula, emak-emak) dan lainnya.
Kontestasi pemilu makin seru, rakyat hanya menginginkan para kontestan bertarung dengan fair, terbuka dan jujur, dan agar mereka amanah jika terpilih nanti. (NS/berbagai sumber media nasional)




