TOKOH muda wanita yang banyak dilirik para bakal Cawapres tak ada lain kecuali Zannuba Ariffah Chafsoh yang lebih dikenal sebagai Yenny Wahid, yang merupakan putri ke-2 Gus Dur mantan Presiden RI ke-4. Capres Ganjar, Prabowo dan Anies, memasukkan Yenny Wahid sebagai salah satu kandidat Cawapresnya. Tapi kesemuanya tak ada yang langsung diterima. Beberapa hari lalu setelah ketemu Capres Prabowo di Jl. Kertanegara, Yenny Wahid bilang bahwa belum memutuskan, sebab masih mau sowan ke makam Gus Dur di Ponpes Tebu Ireng, untuk menunggu petunjuk sang ayah.
Semua tahu kwalitas intelektual seorang Yenny Wahid. Tetapi ketika dia hendak minta petundjuk ayah Gus Dur ke makamnya, orang pun banyak yang bertanya-tanya. Kenapa minta petunjuk tokoh sekaligus ayah sendiri yang sudah yang meninggal? Jaman Orde Baru para menteri baru berani minta nasihat ke kepala negara dengan narasi: minta petunjuk bapak presiden, atau bapak presiden memberi petunjuk. Pak Harto seorang presiden yang kala itu masih hidup. Tetapi kenapa Yenny Wahid malah mau minta petunjuk pada arwah?
NU memang tidak melarang kaum nadliyin bikin slametan orang meninggal dengan dalih bersedekah. Karenanya ustadz Gus Miftah yang terkenal itu, pernah mengakui soal ini. Ketika numpang tinggal berbulan-bulan di mesjid Muhammadiyah, badannya kurus kering. Tapi giliran numpang di mesjid NU, tubuhnya lumayan gemuk karena renes (terjamin) sering dapat makanan produk slametan.
NU meski berdiri lebih belakangan (1926) ketimbang Muhammadiyah (1912) umatnya jauh lebih banyak, lantaran tidak melarang (sinkretisme) orang Islam (Jawa) bikin slametan yang sebetulnya warisan budaya Hindu. Beda dengan Muhammadiyah, slametan orang mati, tahlilan, itu dilarang karena bagian dari bid’ah. Dalam syariah Islam itu sudah termasuk haram.
Lalu bagaimana dengan orang yang suka ke makam menjelang Ramadan dan Idul Fitri? Baik NU maupun Muhammadiyah tak melarangnya, sepanjang hanya mendoakan almarhum/almarhumah agar diterima disisi-Nya. Dalam sebuah haditsnya Nabi bersabda: “Dahulu saya melarang kalian berziarah kubur, tapi (sekarang) berziarahlah kalian, sesungguhnya ziarah kubur dapat melunakkan hati, menitikkan (air) mata, mengingatkan pada akhirat, dan janganlah kalian berkata buruk (pada saat ziarah),” (HR. Hakim).
Yang dilarang adalah, mana kala di pusara makam itu lalu minta berkah pada ingkang sumare (yang meninggal) agar lolos ke Senayan jadi anggota DPR, agar KPK tidak mengusut kasus korupsinya, agar gadis atau janda yang digandrungi menerima cintanya. Ini sudah termasuk perbutan musyrik. Sebab belum tentu sosok yang dimintai berkahnya itu di alam barzah dalam kondisi nyaman. Boro-boro memperjuangkan nasib orang yang di dunia, dia sendiri di akherat nasibnya tidak jelas.
Orang Jawa masih banyak yang suka mendatangi makam keramat dengan motif minta berkah tersebut. Makam Nyai Bagelen di Purworejo (Jateng), makam Mbalakan di Sukoharjo (Jateng), setiap malam Jumat Kliwon dan Selasa Kliwon banyak didatangi peziarah. Makam Mbalakan ini dibangun cukup bagus, bahkan dilengkapi mesjid pula. Konon yang membangun pengusaha/pedagang mobil dari Lawiyan (Solo) karena ketrima (dikabulkan) pinuwun (permintaan)-nya, sehingga dari sekedar bakul sate kini menjadi juragan mobil.
Ketika sadar wisata telah menjadi kebutuhan manusia modern, kini banyak paket wisata ke tempat keramat, sehingga dikenal wisata Walisanga, yakni mengunjungi makam 9 wali yang tersebar di Cirebon (Sunan Gunung Jati), Demak (Sunan Kalijaga), Kudus (Sunan Kudus), Surabaya (Sunan Ngampel), Gunung Muria (Sunan Muria). Atau juga makam raja-raja Mataram di Njimatan Imogiri, DI Yogyakarta.
Apakah mereka ini sengaja ke tempat itu untuk minta berkah atau minta petunjuk arwah? Satu dua mungkin iya, tapi mayoritas sekedar untuk rekreasi, ganti suasana setelah terjebak dalam rutinitas pekerjaan. Jelas mereka orang-orang yang punya dana lebih. Ada yang lewat paket perjalanan, banyak pula yang bawa kendaraan sendiri.
Penulis jadi ingat ketika glidik (kerja) pada Minggon “Parikesit” di Solo (1972-1976). Rekan kerja bernama Mas Marmo dia paling hobi berziarah ke makam-makam keramat di sekitar Surakarta, di sana lalu bakar kemenyan dan tabur bunga. Sampai-sampai dia diledek oleh Bandrio putra Bupati Wonogiri kala itu, “Mas Marmo ki blanjane entek mung kanggo tuku kembang menyan (gaji habis hanya untuk beli kemenyan dan kembang).
Tapi sebagai pemeluk teguh agama Hindu, Mas Marmo bergeming. “Kemping” di dalam goa di kaki Gunung Lawu sudah merupakan hal biasa baginya, bahkan tidak menikah sampai meninggal. Namun karena keluarganya mayoritas Islam, prosesi kematiannya pun dipaksa secara Islam dan dikebumikan di pemakaman Islam pula. (Cantrik Metaram)





