
JAKARTA – Sumatra Barat (Sumbar) terkenal dengan keindahan alamnya dan menjadi destinasi favorit para wisatawan, baik dari dalam maupun luar negeri. Salah satu daya tarik utamanya adalah beragam danau yang memiliki karakteristik unik.
Misalnya, terdapat Danau Maninjau di Kabupaten Agam, sebuah danau vulkanik seluas 94,5 kilometer persegi yang terletak di ketinggian 460 meter di atas permukaan laut (mdpl). Danau ini merupakan yang kedua terluas di wilayah Minangkabau dan terkenal dengan Puncak Lawang serta Kelok 44.
Kemudian, ada Danau Kembar, yang terdiri dari Danau Diatas dan Danau Dibawah, yang hanya berjarak sekitar 300 meter satu sama lain. Kedua danau ini terletak di kawasan Bukit Barisan, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok.
Meskipun namanya adalah “Danau Diatas,” letaknya justru lebih rendah daripada “Danau Dibawah.” Kedua danau ini berada di ketinggian sekitar 1.566 mdpl, dengan titik terdalam Danau Diatas mencapai 44 meter, sedangkan Danau Dibawah mencapai kedalaman 309 meter.
Danau Singkarak juga menjadi salah satu ikon Sumbar dan terletak di dua kabupaten, yaitu Solok dan Tanah Datar. Danau ini adalah yang terluas kedua di Pulau Sumatra setelah Danau Toba di Sumatra Utara, dengan luas mencapai 107,8 km2 dan titik terdalamnya mencapai kedalaman 268 meter.
Danau Singkarak terbentuk melalui proses tektonik yang dipengaruhi oleh Sesar Sumatra dan merupakan bagian dari cekungan Singkarak-Solok. Selain sebagai objek wisata, air dari Danau Singkarak juga digunakan sebagai sumber Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Singkarak.
Selain danau-danau yang telah disebutkan, Sumbar juga memiliki beberapa danau lain yang tidak kalah indah, meskipun tersembunyi di tengah hutan hujan tropis Minangkabau. Lokasi danau-danau ini mungkin lebih sulit dijangkau oleh pengunjung, memerlukan usaha ekstra untuk mencapainya.
Danau Unik
Danau Laut Tinggal terletak secara administratif di Desa Situak Ujung Gading, Kecamatan Lembah Melintang, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatra Barat. Pengunjung umumnya memilih pintu masuk terdekat menuju danau ini, yaitu dari Desa Sitobu, Nagari Rabi Jonggor, Kecamatan Gunung Tuleh, yang berbatasan dengan Kabupaten Mandailing Natal, Sumatra Utara.
Jarak dari Desa Sitobu, Nagari Rabi Jonggor, menuju Danau Laut Tinggal sekitar 20 kilometer, dan danau ini berada di atas ketinggian Gunung Malintang, yakni sekitar 1.980 mdpl. Kawasan ini juga dikenal sebagai Gunung Bendera oleh masyarakat sekitar karena siluetnya yang mirip dengan bendera berkibar. Lokasi Danau Laut Tinggal terletak di punggung Pegunungan Bukit Barisan dan masuk ke dalam hutan lindung desa.
Untuk mencapai Danau Laut Tinggal dari Kota Bukittinggi, pengunjung dapat menghabiskan waktu sekitar tiga jam berkendara menuju Kota Simpang Empat. Selanjutnya, perjalanan dilanjutkan ke Desa Paraman Ampalu, Kecamatan Gunung Tuleh, melewati daerah yang terdapat perkebunan kelapa sawit. Waktu tempuh dari Simpang Empat ke Paraman Ampalu sekitar satu jam. Setelahnya, perjalanan dilanjutkan ke arah Rabi Jonggor.
Biasanya, di Nagari Rabi Jonggor ini, para pengunjung mulai menyiapkan berbagai perlengkapan untuk perjalanan menuju Desa Sitobu, yang merupakan titik awal menuju Danau Laut Tinggal.
Perjalanan menuju Danau Laut Tinggal di Sumatra Barat memerlukan persiapan khusus karena tidak ada angkutan umum yang melayani rute tersebut. Oleh karena itu, disarankan bagi pengunjung untuk membawa kendaraan pribadi atau menyewa.
Desa Sitobu, yang merupakan titik awal menuju danau, mayoritas dihuni oleh suku Mandailing. Ketika tiba di desa tersebut, pengunjung diharapkan untuk melapor kepada perangkat desa setempat sebelum melanjutkan perjalanan menuju danau. Hal ini penting karena kawasan Danau Laut Tinggal belum memiliki pengelola khusus.
Perjalanan ke danau ini memerlukan persiapan ekstra karena rutenya yang sangat menantang, hampir mirip dengan pendakian gunung. Meskipun jaraknya hanya sekitar 20 km dari Desa Sitobu, perjalanan ini akan memakan waktu hampir dua hari untuk mencapai Danau Laut Tinggal. Total lama perjalanan dari awal hingga kembali ke desa terdekat biasanya memakan waktu 4-5 hari.
Sebagai hasilnya, penting bagi pengunjung untuk memiliki kondisi fisik yang prima dan setidaknya memiliki pengalaman dalam menjelajahi hutan atau melakukan pendakian gunung. Meskipun demikian, wisata seperti ini lebih cocok bagi mereka yang memiliki minat khusus dalam kegiatan di alam terbuka, seperti pendaki gunung dan penjelajah rimba.
Namun, ini tidak berarti bahwa orang awam tidak dapat mengikuti perjalanan ke Danau Laut Tinggal. Mereka masih dapat menikmati liburan asalkan mereka mendapatkan panduan dari orang yang mengenal rute dengan baik, yang biasanya berasal dari warga desa setempat. Lebih baik jika perjalanan dilakukan dalam kelompok berjumlah 8-10 orang.
Penuh Tantangan
Pengunjung Danau Laut Tinggal diharuskan mematuhi serangkaian peraturan. Mereka harus membawa tas ransel berukuran besar yang berisi perlengkapan logistik, pakaian secukupnya, jas hujan, jaket hangat, obat-obatan, senter, golok, dan alat komunikasi seperti handy talkie.
Selain itu, penting juga membawa tenda perkemahan, peralatan memasak, tongkat pendakian, dan tidak boleh melupakan kantong sampah untuk menjaga kebersihan lingkungan sekitar. Selama empat jam pertama perjalanan, pengunjung akan disertai oleh kicauan beragam burung dan teriakan khas owa siamang.
Hutan lindung Desa Sitobu kaya akan flora langka, seperti berbagai jenis anggrek hutan, kantong semar (Nepenthes gymnamphora), keluarga tanaman paku-pakuan, dan talas raksasa yang tingginya hampir mencapai 2 meter. Setelah berjalan selama empat jam, pengunjung akan tiba di Desa Simpang Lolo yang hanya dihuni oleh satu kepala keluarga karena banyak yang terpaksa pindah setelah desa mereka dilanda banjir bandang.
Perjalanan kemudian dilanjutkan ke daerah bernama Sosopan, yang berjarak sekitar 6 km ke depan dan melalui tepian sungai kecil, Batang Kanaikan, yang airnya sangat jernih dan di sepanjangnya terdapat batu-batuan besar seukuran mobil.
Di Sosopan, pengunjung dapat beristirahat sejenak atau bermalam karena terdapat pondokan yang ditinggalkan oleh penghuni sebelumnya. Yang unik, di tempat ini banyak ditemukan mata air panas alami. Warna airnya bervariasi, ada yang jernih dan ada yang sedikit keruh karena mengandung belerang, bahkan di sebuah kolam, warnanya bisa berubah menjadi sangat keruh.
Sosopan merupakan titik terakhir sebelum mencapai Danau Laut Tinggal. Dari sini, perjalanan akan memakan waktu sekitar 6-7 jam lagi dengan rute yang semakin menanjak. Terkadang, pengunjung perlu berpegangan pada akar atau batang pohon, dan jalur sering kali tertutup oleh semak dan pepohonan, sehingga diperlukan golok untuk membersihkannya.
Selama perjalanan, mata kita harus waspada untuk menemukan tempat berpegangan karena banyak batang dan akar berduri, termasuk rotan. Setelah melewati rute menanjak, jalan setapak mulai menurun, yang merupakan pertanda bahwa kita akan segera mencapai tujuan.
Setelah melalui dua jam perjalanan menuruni lereng yang curam, segala perjuangan akan terbayar lunas saat kita tiba di tepi Danau Laut Tinggal yang memiliki luas sekitar 3 km2. Air di tepi danau sangat jernih, dan saat mendekati tengah danau, warnanya berubah menjadi hijau toska. Keindahan alam sekitarnya masih terjaga dengan pepohonan tinggi yang hijau.
Di antara pepohonan, terdapat pandan hutan (Pandanus tectorius) yang tingginya bisa mencapai 10-15 meter dengan daun menjulur sepanjang 1-3 meter. Akar tunjang pandan hutan menjulur keluar dari tanah, mirip pohon bakau, dan bisa mencapai ketinggian 5 meter.
Batang pohon ini sangat besar dengan diameter minimal 80 sentimeter. Terkadang, akar udara juga menjulur dari batangnya. Pandan hutan juga dikenal dengan sebutan pandan duri, pandan semak, atau pandan pantai, dan sering ditemui di pesisir dan hutan belantara dekat danau.
Masyarakat lokal memanfaatkan daun pandan ini untuk membuat tikar, peralatan makan, dan berbagai keperluan lainnya. Pelepah pandan yang besar digunakan sebagai kayu bakar.
Kawah Purba
Dua ilmuwan asal Jerman, Renate Rabenstein dan Herwig Zahorska, pernah menjelajah dan melakukan penelitian tentang tumbuhan dan kandungan air di Danau Laut Tinggal. Penelitian ini merupakan bagian dari rangkaian studi mereka terhadap sekitar 292 danau di wilayah Asia Tenggara pada awal tahun 2000.
Mereka telah memeriksa 18 dari sekitar 139 danau di negara mereka, termasuk delapan danau di Sumatra, salah satunya adalah Danau Laut Tinggal. Dalam perjalanan penelitian ini, mereka dibantu oleh sepuluh pemandu lokal dan tinggal di sekitar danau selama beberapa hari untuk mengungkap potensi dari danau tersembunyi ini.
Dalam video yang mereka bagikan di platform YouTube, Rabenstein dan Zahorska menunjukkan berbagai kegiatan penelitian mereka, seperti pengambilan sampel dedaunan dan tanah. Rabenstein, dengan bantuan dua pemandu, bahkan pergi ke tengah danau yang memiliki diameter sekitar 1 kilometer menggunakan perahu karet untuk mengumpulkan sampel air yang kemudian mereka teliti. Mereka menemukan bahwa kandungan sulfur di dalam air sangat tinggi dan airnya tidak cocok untuk dikonsumsi manusia. Tingkat keasaman air mencapai pH 2.
“Ini adalah danau kawah hasil letusan purba dan nyaris tak terjamah tangan manusia, kami menyebutnya danau hantu dan berada dalam hutan primer. Tidak ada kehidupan biota di dalam danau yang kedalamannya kami ukur sekitar 62 meter dari bagian tengah danau. Bentuk danau hampir bulat dan sekitar 300 meter di bawah bibir kawah Melintang. Lokasinya kira-kira di ketinggian 1.590 mdpl. Ada air masuk danau meski debitnya kecil,” tulis Rabenstein dalam laporannya yang dimuat di jurnal penelitian Senckenberg Research Institute, 9 Desember 2004.
Pernyataan Rabenstein sejalan dengan informasi yang tersedia di situs Geoheritage Kementerian Energi Sumber Daya Mineral, yang menjelaskan bahwa bentang alam Danau Laut Tinggal adalah sisa kaldera dari Gunung Malintang era Kuarter. Di sekitar danau ini, terdapat batuan seperti andesit dan breksi yang merupakan hasil dari letusan purba gunung tersebut. Perbukitan di sisi selatan danau, hingga mencapai ketinggian 1.940 mdpl, terdiri dari breksi vulkanik dengan kemiringan yang curam.
Selain itu, penelitian lanjutan juga telah dilakukan oleh 31 peneliti muda dari IPB University. Mereka berasal dari berbagai fakultas, termasuk Kehutanan, Perikanan, Ilmu Kelautan, Peternakan, Pertanian, Ekonomi, dan Kedokteran Hewan. Penelitian mereka mencakup aspek keanekaragaman hayati, indeks kesesuaian wisata, analisis daerah operasi, dan daya tarik objek wisata alam.
Selama 11 hari pada bulan Januari 2023, mereka menemukan 55 jenis flora, 13 jenis mamalia, termasuk owa siamang Sumatra (Symphalangus syndactylus). Ketua Tim Penelitian IPB University, Muchtar Abdul Majid, juga melaporkan adanya 25 jenis aviafauna, termasuk satwa yang terancam punah seperti burung rangkong atau hornbill (Bucerotidae), dan elang ular bido (Spilornis cheela).
Tim penelitian ini merekomendasikan kepada pemerintah kabupaten setempat untuk mengembangkan kawasan Danau Laut Tinggal sebagai objek wisata berbasis ekowisata. Usulan ini bertujuan untuk memanfaatkan potensi alam yang ada, sambil menjaga kelestarian hutan sekitarnya yang masih alami dan terjaga, serta memberikan pengalaman perjalanan yang luar biasa bagi pengunjung.
Sumber: indonesia.go.id




