Harga Beras Operasi Pasar Naik, Picu Inflasi

Kenaikan harga beras SPHP (Stabilisasi Patokan da Harga Pangan) dari Rp9.450 ke Rp10.900 per kg mulai 8 Sept.dikhawatirkan memicu inflasi.

NAIKNYA harga beras Operasi Pasar (OP) program pemerintah untuk Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dari Rp.9.450  menjadi Rp10.900  per kg dikhawatirkan bakal berkontribusi memicu inflasi.

Menurut laporan Kompas (10/9) mengacu pemantauan Badan Pangan Nasional (NFA) dan Perum Bulog, di salah satu gerai ritel modern di Jakarta, tertera harga kemasan lima kg beras SPHP pada akhir Agustus Rp47.250, menjadi Rp54.500 pada 8 Sept.

Kepala NFA Arif Prasetyo Adi mengakui, kenaikan harga beras SPHP kemasan lima kg sebagai bentuk penyesuaian kenaikan yang diatur melalui peratutan NFA No. 6 tahu 2023 tentang Harga Pembelian Pemerintah dan Rafaksi Harga Gabah dan Beras yang diterbitkan 24 Maret lalu.

Menurut Adi, kenaikan SPHP beras tersebut sudah menghitung dampaknya terhadap kenaikan inflasi yang diperkirakan sekitar 0,3 persen.

Sementara BPS mencatat, pada Agustus lalu tercatat deflasi 0,02 persen, sementara untuk kelompok bahan makanan, minuman dan tembakau mengalami deflasi 0,25 persen, sebaliknya beras justeru mengalami inflasi 1,43 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Angka inflasi beras pada Agustus tersebut merupakan yang tertinggi kedua setelah Februari sebesar 2,63 persen, sementara harga beras  kualitas medium berdasarkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Bank Indonesia pada kisaran Rp13.450 sampai Rp13.700 per kg.

Adi mengemukakan, harga beras SPHP Rp10.900 per kg sudah diberlakukan  sejak Jumat (8/9), sementara harga beras premium sulit ditemukan di pasar karena naiknya harga gabah kering panen (GKP) menjadi Rp6.500, bahkan sampai Rp7.300 per kg.

Beras SPHP tidak hanya dijual langsung di pasar tradisional tetapi juga di di ritel modern, sehingga Adi juga meminta Asoiasi

Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) untuk melakukan estimasi kebutuhan beras dalam satu sampai tiga bulan ke depan sehingga dapat disiapkan oleh Bulog.

Sementara menurut Ketua Umum Aprindo Roy N Mandey, kebutuhan beras pada tingkat perdagangan ritel sekitar 70-ribu sampai 75-ribu ton per bulan, sedangkan ritel lokal 20-ribu ton per bulan.

Anjloknya produksi beras sampai sekitar 1,2 juta ton tahun ini akibat kekeringan panjang disebabkan dampak El Nino, mau tidak mau juga mengurangi stok yang dilakukan Bulog sehingga untuk itu akan diimpor sekitar 400-ribu ton dari Thailand, Vietnam atau Kamboja.

Perut tidak bisa menunggu! Apalagi menyongsong Pemilu Serentak 2024, kecukupan dan stabilitas harga beras perlu dijaga agar tidak dipolitisasi oleh kelompok tertentu.

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement