Prabowo Nagih Janji (4)

Patih Pragota saat podcast bersama Mata Najwa. Ditanya serius Najwa Shihab jawabnya clelekan.

MASIH sambil nangis terisak-isak Wisatha melanjutkan curhatnya pada sang ibu. Berdasarkan informasi yang diterimanya karena beritanya jadi viral, katanya nanti rama Baladewa hendak mewariskan tahta Mandura pada salah satu patihnya, bisa Patih Pragota, bisa pula Patih Prabowo. Padahal sudah menjadi tradisi negara sistem kerajaan, penerus tahta raja adalah anak lelakinya (kecuali Belanda), ini sudah diakui oleh seluruh negara di dunia.

“Lha saya ini lalu dianggep apa? Saya ini kan pangeran mangkubumi, tapi kenapa mulai ada pihak-pihak yang mau menggerogoti hak saya di masa depan.Tolong ibu bantu anakmu yang malang ini. Uhuk, uhuk….” ujar Wisatha dengan bersimpuh di haribaan ibu.

“Sabar nak, sabar. Nanti saya coba cek langsung ke ramamu, Prabu Baladewa. Setahu saya ayahmu ini selalu taat pada konstitusi. Tak mungkinlah menyia-nyiakan anak kandung sendiri.” Jawab Dewi Erawati sambil mengelus-elus kepala si anak tunggal.

Dewi Irawati lalu menelisik, siapa gerangan pemberi info ini? Lalu Wisatha pun tunjukkan video terusan dari Patih Sengkuni. Permaisuri raja Mandura ini njomblak (kaget), buat apa Patih Sengkuni mulai kelayapan ngacak-acak Mandura. Target dia selama ini kan Pendawa-Ngamarta berikut jajarannya. Jangan-jangan video tersebut sekedar konten hoaks seorang Youtuber.

Apakah Patih Sengkuni mau ikut-ikutan? Dewi Erawati memastikan, tak bakalan sampai sebegitunya. Sebab semua tahu, jadi Patih Ngastina saja bisnisnya terus berkibar. Paling menguntungkan ketika rakyat Ngastina harus alih bahan bakar, dari minyak tanah ke gas, yang jadi penyedia tabung gasnyanya juga perusahaan Patih Sengkuni sendiri. Dewi Erawati ingat betul, bisnis gas dan tabung Patih Sengkuni bisa masuk Mandura lewat putra mahkota. Prabu Baladewa mau menolak serba pakewuh (malu) karena raja Ngastina adalah adik iparnya juga. Maksudnya: Banowati itu adik bungsu Dewi Erawati yang terlahir sebagai putri perdana Prabu Salya raja Mandaraka.

“Hapuskan air matamu, Nak. Nanti ibu yang membicarakan dan menyelesaikan bersama ramamu.” Janji Dewi Erawati pada putra kesayangannya.

“Bener lho ya, kanjeng ibu. Apa ibu tega anakmu gagal jadi raja Mandura?” kata Wisatha merajuk.

Emban Cangik dan Limbuk yang mendengar percakapan “ndara tuan” dalam hati mau tertawa berguling-guling. Wisatha kok mau jadi raja, kalau kena rajasinga si penyakit kelamin mungkin iya.  Sebab sudah bukan rahasia lagi, Wisatha ini demen banget dengan cewek Open BO. Uang jajan Rp 1 juta sehari mayoritas juga dibelikan apem atau cucur, bukannya serabi Notosuman.

Yang gelisah atas video Patih Sengkuni ternyata bukan saja Wisatha putra Mandura, tetapi juga Patih njero Prabowo. Sebab selama ini dia selalu nyemir rambutnya agar tampak lebih muda. Kok mendadak Prabu Mandura mengatakan bahwa penerus dirinya sosok yang berambut putih. Soal dahi berkerut Patih Prabowo masih masuk kriteria, tapi rambut putih? Rambut Patih Pragota lebih putih ketimbang dirinya.

“Mah, mulai besok nggak usah beli semir rambut ya.” Kata patih Prabowo pada istrinya, tentu saja Ny. Prabowo.

“Kenapa kok nggak semiran lagi Mas,” sang istri ganti bertanya.
Sambil berbisik Patih Prabowo menjawab, demi elektabilitas! Di samping itu, tanpa menyemir rambut kata Ganjar Pranowo Capres PDIP, itu lambang kejujuran. Apa adanya tanpa polesan, dan rakyat membutuhkan sosok pemimpin yang demikian. Yang tidak suka berpura-pura dan sarat pencitraan. Soalnya ada juga Capres sok dekat dengan rakyat, tetapi menggendong balita saja nampak kaku.

Sesungguhnya penentuan raja Mandura ke depan mutlak di tangan Prabu Baladewa, bukan lewat pemilihan langsung oleh rakyat. Namun demikian Prabu Baladewa bermaksud menggandeng lembaga survei semacam SMRC dan Litbang Kompas sebagai pedoman. Jika Litbang Kompas mencatat lebih banyak rakyat menghendaki Patih Prabowo, ya dialah yang ditunjuk. Sebaliknya jika survei menyebut Patih Pragota paling banyak pendukungnya, Prabu Baladewa akan tunjuk Patih Pragota.

“Kalau begitu nanti lembaga surveinya mau saya sogok saja, agar mengunggulkan saya. Otomatis Prabu Baladewa akan menunjuk saya,” kata Patih Prabowo pada timsesnya, Tumenggung Jaya Candala.

“Itu namanya cuma mau cari enaknya saja boss. Nggak boleh itu, nggak jujur sampeyan.”

Patih Prabowo hanya tertawa. Bagi dia menghalalkan segala cara demi jabatan, itu sebuah keniscayaan. Kalau boleh dia juga akan panggil TV swasta untuk syuting ketika dirinya salat subuh berjamaah, lalu nanti dipakai ilustrasi adzan subuh di TV. Meski ini bukan politik identitas, tapi mempolitisasi agama sudah jelas dan kentara. Jika persnya mempermasalahkan, ya disogok juga biar pers menulis yang baik-baik saja soal dirinya.

Patih Pragota beda lagi, dia tak terlalu ngaya untuk menjadi pewaris negeri Mandura. Dia mau tampil apa adanya, tak perlu polesan ini itu. Ada yang menyarankan agar menyewa Eep Saefullah Fatah sebagai konsultan politik, tapi Patih Pragota menolak. Di samping tak kuat mbayarnya, dia takut Mandura jadi seperti DKI Jakarta saat Pilgub tahun 2017. Dia tak mau wayang yang tak mendukung Pragota tak boleh disalatkan saat meninggal.

“Jadi raja Mandura alhamdulillah, tak jadi raja juga nggak masalah. Ho ho ho ho….” kata Patih selalu dengan tipikal aslinya, ngomong gluwehan (tak serius).

“Jika tak tertunjuk sebagai Raja Mandura, mau meneruskan proyek “lumbung pangan” yang terbengkelai di Mandaraka Pakde?” tanya Najwa Shihab di Mata Najwa.

Lagi-lagi Patih Pragota hanya menjawab itu urusan Patih Prabowo, ditambah kata akhir khasnya: ho ho ho…… Sepertinya jabatan raja Mandura memang bukan ambisinya. Jadi ya sukur, nggak jadi juga nggak takabur apa lagi ngawur. Soalnya Patih Pragota meyakini betul, jabatan itu tak perlu dikejar. Jika sudah waktunya atau memang miliknya, itu akan datang sendiri. Dan itu saatnya mengucap: innalillahi wainna illaihi rojiun. (Ki Guna Watoncarita)

Advertisement