Doa dan Keajaiban, Kisah Para Penyintas Selamat dari Banjir Bandang Libya

Orang-orang berdiri di sebuah jalan yang rusak akibat badai kuat dan hujan lebat --yang hingga menyebabkan banjir di Kota Shahhat, Libya, Senin (11/9/2023). (Foto: ANTARA/REUTERS/Omar Jarhman)

DERNA – Beberapa orang yang selamat dari banjir bandang di Libya menggambarkan suara yang menyerupai ledakan ketika bendungan pecah, menyebabkan aliran air deras dengan cepat membanjiri lantai atas berbagai bangunan serta mengalir melalui atap rumah.

Air deras itu mengalir selama beberapa jam di dalam ruangan yang hampir mencapai langit-langit bangunan.

Di Kota Derna, yang terletak di bagian timur Libya, badai menyebabkan sungai meluap dan dua bendungan pecah, menyebabkan banjir yang melanda kota pada pagi Senin (11/9/2023).

Sejumlah orang yang selamat harus mencari tempat perlindungan karena rumah mereka hancur akibat banjir tersebut.

Banyak dari mereka yang selamat masih mengenakan piyama dan sandal karena mereka harus menyelamatkan diri secara mendadak dan tak terduga saat peristiwa itu terjadi.

Salah seorang penyintas, Raja Sassi (39), berhasil menyelamatkan diri bersama istri dan putri kecilnya setelah air mencapai lantai atas rumah mereka. Namun, ia juga mengungkapkan bahwa beberapa anggota keluarganya tidak selamat.

“Awalnya kami hanya mengira bahwa ini hujan deras biasa, tetapi di tengah malam, kami mendengar ledakan besar dan ternyata bendungan pecah,” katanya, seperti diberitakan Reuters.

“Pusat kota kini dipenuhi oleh banyak jenazah,” tambah Raja Sassi.

Istrinya, Nouriya al-Hasadi (31), terus memeluk putri kecil mereka selama mereka berusaha menyelamatkan diri. Dia menganggap keberhasilan mereka untuk selamat sebagai sebuah keajaiban.

Safia Mustafa (41), seorang ibu dari dua anak laki-laki, menceritakan bahwa mereka berhasil meninggalkan rumah mereka sebelum bangunan itu runtuh.

Mereka naik ke atap dan menyelamatkan diri dengan melintasi atap rumah-rumah tetangga di sekitarnya. Putranya, Obai, yang berusia 10 tahun, menceritakan bahwa dia berdoa kepada Allah agar mereka selamat.

Saliha Abu Bakr, seorang pengacara berusia 46 tahun, mengatakan bahwa dia dan kedua saudara perempuannya selamat dari bencana itu, tetapi ibu mereka tidak beruntung.

Air dengan cepat membanjiri gedung tempat tinggal mereka, bahkan mencapai lantai tiga. Selama tiga jam, dia bertahan dengan berpegangan pada perabot untuk tetap mengapung.

“Saya bisa berenang, tapi ketika saya mencoba menyelamatkan keluarga saya, saya tidak bisa melakukan apa-apa,” kata Saliha Abu Bakr.

Setelah itu, banjir surut, dan mereka meninggalkan apartemen itu sebelum bangunan itu akhirnya runtuh dengan ibu mereka masih di dalamnya.

Sumber: Antara

Advertisement