Prabowo Nagih Janji (6)

Meskipun dipaksa-paksa oleh Wisatha, Patih Prabowo tetap tidak mau berkaca. Malu katanya.

MENDADAK ramai diberitakan Wisatha menghilang dari Mandura. Yang opyak (merasa kehilangan) pertama kali justru para aktivis tempat hiburan malam di Mangga Besar. Di Istana Mandura sendiri tak ada yang  ngeh, termasuk Prabu Baladewa dan Dewi Irawati. Maklum, putra mahkota yang terancam tereleminasi ini jika pergi ngglenes saja tanpa pamit ayah bunda. Tahu-tahu menghilang, tahu-tahu muncul sekedar untuk minta uang. Mulutnya pun beraroma bir mahal, bukan bir pletok!

Ternyata Wisatha pergi ke pertapan  Balekambang, tempat bertapa Prabu Kresna. Menjelang Perang Baratayuda Jayabinangun, kubu Kurawa memang sibuk merapat ke Balekambang dalam rangka membangunkan sang tapa. Konon kabarnya, barang siapa berhasil nggugah (membangunkan) Prabu Kresna, dialah bakal jadi pemenang Perang Baratayuda di 2024 nanti. Dan ke sinilah Wisatha, sebab Patih Sengkuni yang sedang dicarinya jadi ketua tim kubu Ngastina untuk penggugahan raja Dwarawati tersebut.

“Hai, ngapain anakmas Wisatha ke sini? Balik, balik…..!” ujar Patih Sengkuni sambil membetulkan resleting celananya. Rupanya dia baru saja keluar dari toilet.

“Ternyata benar Eyang, suksesi Mandura akan dilelang pada Patih Prabowo dan Patih Pragota.Bagaimana nasib saya nanti hi hi hi….” jawab Wisatha sambil  mimbik-mimbik (mau nangis).

“Iya, iya! Tapi jangan di sini, nggak enak Eyang. Pulang pulang…..! Nanti di Plasa Jenar saja ya…..” bisik Patih Sengkuni sambil menoleh ke kanan ke kiri khawatir ada yang melihat.

Wisatha keluar dari pertapan Balekambang dengan wajah kecewa. Tiba di perempatan jalan raya, dia terkaget-kaget karena melihat baliho segede gaban memuat gambar Patih Prabowo dengan dirinya. Lalu tulisannya itu yang lebih menyakitkan: Duet Prabowo – Wisatha, Mandura Jaya. Kapan ngomong minta izinnya, kok tahu-tahu dipasang bareng. Ini betul-betul gendeng!

Wisatha jalan lagi dengan kepala bergeleng-geleng. Lalu maju 200 meter dari baliho perdana, eh….ada lagi ketemu baliho dirinya, tapi  bersama Patih njaba Pragota. Kalimat pendukungnya semakin bombastis lagi: Pragota – Wisatha Pemimpin Masa Depan! Wisatha pun tepuk jidat! Apanya yang masa depan? Usia kepala tujuh masih bicara masa depan. Depan pemakaman, kali?

“Bukan Prabowo bukan pula Pragota, pemimpin masa depan itu saya!” ujar Wisatha ngomong sendiri, tapi tanpa pakai cermin.

Melihat kotoran kerbau di tepi jalan lalu dicolek dan ditimpukkan ke muka wajah Patih Pragota, plokkkk! Belum puas rasanya Wisatha menodai baliho Pragota, dia balik lagi ke baliho pertama sambil nenteng tahi kerbau pakai kresek. Lag-lagi baliho Patih Prabowo bersama dirinya ditimpuk pakai kotoran kerbau, plokkkk! Lagi-lagi kena wajah  Patih Prabowo.

“Kalau hanya menodai wajah Prabowo-Pragota masih aman. Yang nggak boleh itu menodai Pratiwi anak Pak RT……” gumam Wisatha sendirian.

Tak cukup sampai di situ. Tiba-tiba Wisatha belok ke toko kaca. Dia pesen cermin besar ukuran 180 Cm kali 60 Cm lengkap dengan piguranya. Tanpa menunggu lama segera jadi itu barang. Bersama mobil bak terbuka milik toko kaca, Wisatha membawa cermin besar itu ke rumah pribadi Patih Pragota. Kebetulan langsung ketemu, karena hari Minggu. Patih Pragota pun terheran-heran, tumben-tumbenan Wisatha datang ke kepatihan. Lebih heran lagi, kenapa Wisatha membawa cermin segala?

“Hai Wisatha, ngapain kau bawa-bawa cermin benggala ke sini? Ho ho ho…..” tanya Patih Pragota belum paham.

“Katanya Pakde patih pengin jadi raja Mandura? Ngaca dulu sini….!” ujar Wisatha memerintahkan, sudah macam boss saja.

Terperanjatlah patih Pragota, kok tidak sopan amat omongan putra Prabu Baladewa ini. Baru kali ini dia mendengar Wisatha ngomong songong. Tapi ketika dikaitkan dengan isyu suksesi pemerintahan, Patih Pragota langsung dhong (paham) dan sangat memaklumi. Sebab revolusi kebijakan Prabu Baladewa tersebut sangat mengancam posisi Wisatha selaku pangeran pati. Namun begitu kan dia masih diberi posisi menjadi patih Mandura. Cukup lumayan, kan?

Untuk bercermin di kaca besar berpigura, siapa takut? Patih Pragota jadi ingat, ini bukan ide orisinil Wisatha, melainkan hanya niru-niru Mata Najwa si Najwa Shihab di kampus UGM tempo hari. Maka dengan pedenya langsung saja Pragota menghadap cermin dan berkata pada dirinya, “Tenang saja kau Pragota, kamu pengin menjadi raja Mandura sekedar memenuhi dorongan Prabu Baladewa. Jadi bukan ambisimu, ho ho ho…..”

“Bukan ambisimu, mbelgedes! Mestinya paman Pragota kan bisa menolak, itu artinya masih menghargai Wisatha sebagai pewaris tahta yang sesungguhnya.” Kata Wisatha dengan ketusnya.

“Ho, ho, ho…….!” hanya begitu jawaban Patih Pragota.

Dibantu sopir toko kaca, Wisatha mengemasi kembali cermin benggala-nya dan dimasukkan ke mobil. Kini mobil tersebut diarahkan ke rumah pribadi patih njero Prabowo. Ternyata beliaunya tak di rumah, karena sedang olahraga naik kuda yang jadi hobinya di ranch Tegal Kurusetra. Satu jam kemudian Patih Prabowo baru kembali. Tapi langsung disambut dengan muka gelap Wisatha.

“Pakde Prabowo pengin jadi raja Mandura ya?” ujar Wisatha tembak langsung.

“Ah, itu kan maunya ayahmu, Prabu Baladewa. Saya sih mengalir saja. Jika memang milik, ya apa boleh buat…” jawab Patih Prabowo santai.

Tiba-tiba Wisatha menurunkan cermin benggala dari mobil dan minta Prabowo untuk berkaca. Sayang seribu kali sayang, dia tidak mau, malu katanya melihat diri sendiri yang penuh dosa. Meski dipaksa-paksa oleh Wisatha, tetap saja menolak. Malah sambil menutup muka Patih Prabowo bersenandung.

“Aku takut akan semua dosa-dosaku, aku takut dosa yang terus membayangiku ……”

“Lho, kok malah nyanyi lagunya Band Ungu?” kata Wisatha keheranan sekaligus kesal.

(Ki Guna Watoncarita)

Advertisement