Naik KA Bumel, Ngokkkk…….

KA Bumel Yogyakarta - Kutoarjo, bentuknya seperti ini. Bahan bakarnya areng stengkul.

BESOK tanggal 28 Oktober 2023, PT KAI (Kereta Api Indonesia) memperingati HUT-nya yang ke 78. Selama 78 tahun melayani rakyat, berbagai kemajuan telah dicapai oleh BUMN transportasi darat ini. Dari KA yang berbahan areng stengkul (batubara), solar, sampai listrik yang digunakan MRT-LRT dan KCJB dewasa ini. Di masa sekolah di  Yogyakarta (1964 – 1970), penulis kenyang naik KA bumel berbahan bakar areng stengkul, yang bunyi klaksonnya khas sekali: ngoookkkkk……juss juss jess jess…..

Berselang 41 hari setelah Proklamasi, Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI) dibentuk pada 28 September 1945. Setelah mendapatkan pengakuan sebagai sebuah negara oleh Belanda (Penyerahan Kedaulatan), aset-aset milik pemerintah Hindia Belanda termasuk perusahaan KA-nya diambil pemerintah Republik Indonesia pada 1950. Sejak itu tak ada lagi sepur SS (Staatsspoorwegen) dan VS (Verenigde Spoorwegbedrijf ). Yang ada hanyalah DKARI yang populer disebut DKA.

Dan inilah uniknya orang Indonesia. Ketika KA sudah dikuasai pemerintah, banyak orang naik KA tak mau bayar. Alasannya, “Masak naik sepur milik bangsa sendiri harus bayar?” Presiden Sukarno pun geleng-geleng kepala, begitu sederhanya pemikiran rakyat yang baru saja menikmati kemerdekaan. Jangan-jangan mereka terbius lagu: naik kereta api tut tut…..ke Bandung Surabaya bolehlah naik dengan percuma. Tak jelas, apakah lagu tersebut tahun 1950-an sudah tercipta oleh Ibu Sud.

Dibanding dengan bis, naik KA jauh lebih murah. Tahun 1964 tarif Jenar-Yogyakarta atau sebaliknya, ongkosnya hanya Rp 15,- Dalam usia bocah penulis beli separo (untuk anak-anak), harganya cuma Rp 7.500,- Sampai usia 14 tahun masih beli separo dengan karcis edmonson (karcis bentuk potongan karton ukuran 8 X 3 Cm) kondektur tak mempermasalahkan, paling diledek, “Wis arep njaluk rabi tuku karcis kok ming separo (sudah mau minta kawin kok beli karcis separo). Para penumpang sebelah menyebelah tertawa.

Pertama kali naik KA Bumel sekitar tahun 1956, ketika diajak bapak simbok ke Pacitan, dari Jenar sampai Solo. Kemudian tahun 1960, dari Jenar – Yogyakarta diajak bapak kunjungi famili yang lahiran. Baru tahun 1964, ketika penulis menuntut ilmu di Kota Gudeg, kenyanglah naik KA Bumel, yakni dari Jenar ke Yogyakarta atau Yogyakarta – Jenar. Seminggu sekali itu penulis lakukan, baik ketika mau sekolah ke kota maupun pulang kampung.

Ketika sekolah di PGA Muhammadiyah yang liburnya hari Jumat, penulis tiap Kamis sore pukul 13:30 naik KA Yogyakarta – Kutoarjo turun di stasiun Jenar. Tapi ketika sekolahnya pindah ke PGAA Negeri yang libur hari Minggu, penulis pulang kampung Sabtu sore naik bis, dan Senin pagi kembali ke Yogya naik KA Bumel. Jaman itu belum ada ATM dan Bank BCA, sehingga ketika butuh duit mendesak, penulis naik KA Grenjeng (KA Barang) turun di Stasiun Karangjati, temui simbok yang dagang di Pasar Krendetan. Setelah dapat uang kembali naik KA atau bis tujuan Yogya.

Begitu seringnya naik KA, penulis jadi hafal mana saja stasiun yang jadi tempat pemberhentian KA bertarif murah meriah itu. Jika dari Yogyakarta, stasiun pemberhentian berikutnya adalah: Pathukan, Rewulu, Sedayu, Sentolo, Kalimenur, Wates, Pakualaman, Kedundang, Wojo, Karangjajati, baru Jenar. Bila KA dari Yogya pukul 13:30, tiba di Jenar pukul 16:00.

Ketika naik KA Bumel tujuan pulang kampung, biasanya kantong benar-benar bokek. Sering penulis jadi penumpang gelap. Jika naik KA Barang, duduk di bordes, paling ngasih ala kadarnya pada tukang rem. Pernah juga naik KA Surabaya – Bandung di tempat sambungan lokomotif dan gerbong. Biasanya kondektur takkan pernah ke sini-sini. Dan pernah penulis menyaksikan, tiba-tiba sambungam gerbong itu lepas sebelah. Maka ketika berhenti di Kutoarjo, saya segera memberitahukan ke petugas KA, “Pak, itu sambungan ke lokomotif lepas.!” Selanjutnya penumpang gelap yang sudah jadi “pahlawan” itu telah menghilang.

Jaman itu KA mewah Bima (Biru Malam) sudah ada (1967), yang mampu naik hanya pejabat, anggota DPR dan pengusaha. Ada juga KA Purbaya (Purwokerto-Surabaya), yang warna gerbongnya merah-putih-ungu seperti kue lapis. Yang paling populer adalah KA Kuda Putih Solo – Kutoarjo, ongkosnya Yogya-Jenar hanya Rp 23,- KA jarak jauh paling populer adalah Senja Utama  Solo – Jakarta. Jaman itu, penulis yang sudah pegang Kartu Pers majalah Kembang Brayan (1970), naik tujuan Yogya-Jakarta dan sebaliknya, asalkan tunjukkan Kartu Pers dapat diskon tiket sampai 50 persen.

Ignanasius Yonan jaman itu belum jadi Dirut PT KAI, sehingga penumpang KA masih berjubel seperti ditetel (dipadatkan). Belum ada penumpang pas bangku. Penumpang yang berdiri pun dilayani, sehingga ketika kecapekan dalam jarak jauh banyak yang tidur di lantai. Pedagang asongan pun boleh masuk gerbong, sehingga suasana dalam KA bagaikan pasar laiknya.

Dipelopori Ignasius Yonan, kereta api Indonesia berubah drastis menjadi angkutan nyaman. Penumpangnya selalu pas bangku,  semua KA ber-AC meskipun hanya kelas ekonomi. Tak ada pedagang asongan masuk gerbong, bahkan ruang untuk salat pun disediakan. Sayang, gara-gara tak setuju pembangunan KCJB (Kereta Cepat Jakarta Bandung) dia tak lama menjadi Menteri Perhubungan, dan digeser menjadi Menteri Pertambangan.

Di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi banyak KA modern bermunculan. Ada KA bawah tanah MRT di Jakarta, LRT di Palembang dan  Jakarta. KA Wisata Paranomic Jakarta – Yogyakarta juga ada, meski hanya “nggandul” KA Taksaka. KA KCJB yang ditolak Ignasius Yonan kini selesai dibangun dan mulai dioperasikan terbatas (uji coba). Uniknya, eks Menpora Roy Suryo juga menolak KA tersebut, sehingga istilah “kecebong” olehnya diartikan KA Cepat Bohong-bohongan.

Sulawesi yang selama ini tak punya jalur KA, oleh Presiden Jokowi dibangunkan jalur Makasar – Pare-pare yang nantinya nyambung sampai ke Manado. Begitu juga di Kalimantan Timur. Seiring dengan pembangunan IKN, kini disiapkan jalur KA IKN – Balikpapan sejauh 40 Km. Dengan demikian ASN di IKN bisa tinggal di Balikpapan.

Dengan adanya KA di Kaltim, penulis jadi ingat presenter TV One yang sok tahu. Beberapa tahun lalu, saat dialog interaktif dengan pemirsa TV, sang penyiar bertanya pada pemirsa di Pontianak Kalbar. “Bagaimana Pak, lintasan KA di Pontianak?” Yang ditanya pun menjawab geli, “Mbak, di Pontianak bahkan seluruh Kalimantan, belum ada jalur KA.” Penulis ikutan seperti Asmuni Srimulat jadinya, “Mbak ini cantik, tapi goblok!” (Cantrik Metaram).

 

Advertisement