Suhu Panas Kurangi Produktivitas Kerja

Prakiraan Cuaca

WALAU penduduk Indonesia sudah terbiasa dengan udara panas atau sengatan sinar matahari akibat perubahan iklim yang saat ini berlangsung (diperkirakan sampai November), dampaknya pada produktivitas kerja dan ekonomi tetap ada.

“Suhu panas tetap harus diwaspadai sejak dini sebagai risiko kerja, sementara pemberi kerja dan individu pekerja perlu memikirkan langkah pengendaliannya, “ kata Kepala Program Organisasi Buruh Internasional (ILO) untuk Indonesia dan Timor Leste Abdul Hakim di Jakarta, Rabu (9/10).

Menurut dia, orang Indonesia sudah terbiasa dengan udara panas sehingga waktu adaptasi yang dibutuhkan lebih mudah, berbeda dengan orang yang biasa tinggal di wilayah nontropis.

Namun Abdul Hakim menyebutkan, terlepas dari mudah atau sulitnya beradatasi, suhu udara panas tetap berbahaya dan risiko yang dihadapi dunia kerja bakal lebih besar jika kmampuan beradatasi lemah dan upaya untuk menekan risiko diabaikan.

ILO sendiri sudah lama memahami bahaya suhu panas adalah risiko kerja dengan merilis laporan riset keterkaitan antara suhu panas bumi dengan produktivitas kerja dan pertumbuhan ekonomi pada 2019 berjudul: “Bekerja di planet yang lebih panas. Dampak Serangan Panas bagi Produktivitas Buruh dan Pekerjaan yang layak”.

Berdasarkan laporan tersebut, 1,4 persen total jam kerja hilang di seluruh dunia pada 1995 akibat tingkat panas yang tnggi atau setara dengan 35 juta pekerjaan penuh waktu, sedangkan kerugian terhadap produk domestik bruto (PDB) saat itu diperkirakan 280 miliar dollar berdasarkan paritas daya beli (PPP).

Berdasarkan analisis ILO, dua persen total jam kerja di Asia dan Pasifik pada 1995 atau setara lebih 30 juta pekerjaan penuh waktu hilang akibat tekanan panas atau 83 persen produktivitas terkosentrasi di sektor pertanian hilang.

Ke depannya, proyeksi ILO menunjukkan, 3,1 persen total jam kerja hilang akibat tekanan panas pada tahu 2030 atau setara 62 juta pekerjaan penuh waktu.

Jadi, jangan dianggap remeh, kehilangan produktivitas akibat bekerja di lingkungan udara panas atau suhu tinggi.

Advertisement