PASCA kudeta oleh junta militer awal Februari 2021, penduduk Myanmar hidup di “ujung tanduk” alias nyawa mereka terancam, baik oleh rezim otoriter saat ini mau pun bencana alam.
Dua puluh sembilan penduduk sipil di antaranya sebelas anak-anak yang tinggal di kam pengungsian di Negara Bagian Kachin, Myanmar utara dilaporkan tewas, 57 lainnya terluka akibat serangan udara dan artileri rezim Myanmar, Senin (9/10) lalu.
Jubir Tentara Pembebasan Kachin, Kol. Naw Bu seperti dikutip AP, AFP dan Reuters menyebutkan, serangan tersebut dilakukan menjelang Senin tengah malam (pukul 23:00 waktu setempat akibat bom-bom yang dijatuhkan pesawat rezim pemerintah Myanmar.
Sementara Jubir Pengawas HAM Kachin menyebtkan serangan udara dan artileri diarahkan ke kam pengungsi Mung Lai Hkyet, dekat kota Laiza tidak jauh dari tapal batas Myanmar dengan China.
Etnis Kachin yang berjumlah sekitar 1,7 juta jiwa merupakan salah satu kelompok perlawanan terkuat terhadap rezim junta militer yang berkekuatan sekitar 10-ribu anggota milisi.
Isu pengungsi etnis muslim Rohingya di negara bagian Rakhine yang juga mengalami aksi diskriminasi dan kekerasan oleh rezim junta tidak ada penyelesainnya hingga kini.
Pengeboman terhadap kelompok etnis Kachin tersebut juga mengundang protes dari pemerintah bayangan pro demokrasi National Unity Government (NUG) yang mendesak komunitas int’l mengambil tindakan tegas terhadap rezim junta Myanmar.
“Tindakan tersebut merupakan kejahatan dan pelanggaran HAM, “ ujar Jubir NUG Kyaw Zaw.
Di tegah berkecamuknya konflik di bagian utara Myanmar, lebih 14.000 penduduk penduduk di bagian selatan negeri itu terendam banjir akibat guyuran hujan lebat yang merendam jalur KA dan area datar di wilayah Bago.
Ribuan pengungsi dari wilayah Bago yang berjarak sekitar 68 km timur laut bekas ibu kota Myanmar Yangon terus mengalir sejak Senin lalu dan sebagian mengungsi di Vihara Budha.
Krisis politik di Myanmar yang tak berujung mendapat kecaman keras di Forum ASEAN yang menguncilkan rezim junta negara itu karena telah mengabaikan usulan perhimpunan bangsa-bangsa di Asia Tenggara itu untuk penyelesaiannya.
ASEAN mengusulkan lima butir konsesnsus penyelesaian isu Myanmar, a.l penghentian aksi kekerasan, akses bagi pengiriman bantuan, dialoag inklusif antara pihak yang bertikai, pembentukan utusan khusus ASEAN dan kunjungan utusan tersebut ke Myanmar.
Di tengah tekanan Barat terutama dari AS dan juga ASEAN, rezim junta Myanmar tetap bergeming karena sejauh ini masih mendapatkan dukungan dari China dan Korea Utara.





