
KONFLIK militer antara Hamas melawan pasukan Israel yang terus bereskalasi akibat balas dendam negara Yahudi itu pasca serangan mendadak faksi militer Palestina itu 7 Oktober lalu bakal berdampak pada dunia usaha.
“Konflik tersebut hampir bisa dipastikan bakal memicu kenaikan harga energi yakni minyak mentah dan gas, “ kata Kabid Industri dan Manufaktur Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bobby Gafur Umar baru-baru ini.
Alasannya, menurut dia, walau Palestina dan Israel bukan produsen migas, namun letak geografisnya di apit negara-negara Arab yang menhasilkan sepertiga produk minyak dunia sehingga rantai pasoknya bisa terdistorsi akibat konflik.
Persediaan energi di dalam negeri untuk industri manufaktur terbatas sehingga sebagian energi (minyak dan gas) harus dipenuhi dari impor.
“Indonesia hanya mampu memproduksi 600-ribu barel minyak mentah per hari, sedangkan kebutuhan 1,5 juta barel, sementara produksi gas (elpiji) juga belum bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri, “ kata Bobby.
Jika pasokan minyak dan gas terganggu, pada gilirannya, lanjut Bobby, harga kedua jenis energi tersebut akan naik, lalu hal ini ikut mengganggu kegiatan dan pertumbuhan industri di dalam negeri.
Industri keramik merupakan salah satu industri dalam negeri yang akan terdampak Perang Hamas vs Israel, karena menurut Bobby, proses pembakaran bahan mentah dalam proses awal produksi menggunakan gas yang di luar negeri lebih murah harganya ketimbang di dalam negeri.
“Jika harga gas naik terus, industri keramik yang memiliki daya tahan cukup tangguh di tengah pandemi Covid-19 bakal goyah, “ ujarnya.
Menurut catatan, selain keramik ada enam industri lain yang mendapat fasilitas harga elpiji tertentu berdasarkan Peraturan Presiden No. 121 tahun 2020 yakni industri pupuk, baja, petrokimia, oleokimia, kaca dan sarung tangan karet.
Apindo juga memperkirakan, konflik Hamas dan Isarel bisa memicu inflasi sejumlah haga komoditas global dan menekan nilai rupiah terhadap dollar AS dan jika konflik berkepanjangan, imbasnya juga akan menaikkan harga sejumlah komoditas global.
Seperti yang lalu-lalu, Israel dengan kekuatan militer raksasa yang dimilikinya, bakal “menghukum” Hamas yang dianggap komunitas dunia sukses membuat Israel kecolongan dalam serangan 7 Okt. Lalu.
Dikhawatirkan, juga terus saling berbalasan, konflik antara Hamas dan Israel bakal menyeret negara-negara lainnya sehingga menelan korban lebih bayak lagi di kedua belah pihak dan jika berlarut-larut dan menganggu perekonomian global.
Perang selain berbiaya besar berupa korban manusia dan benda bagi pihak-pihak yang terlibat, juga meyengsarakan seluruh umat manusia.




