Ukraina Mulai Serang Rusia

Ukraina tidak lagi hanya bisa bertahan tetapi juga mampu melakukan serangan terhadap posisi-posisi Rusia setelah menerima pasokan sistem rudal ATACMS dari AS yang berjangkauan 300 Km.

PERANG di Ukraina yang sudah berlangsung sejak invasi Rusia ke negara itu pada 24 Feb. 2022 bakal berlarut-larut setelah Ukraina diperkuat rudal-rudal taktis  untuk digunakan menyerang balik.

Ukraina, untuk pertama kalinya, pada Rabu (18/10) mengaku telah menggunakan rudal taktis AGM-140 ATACMS buatan Amerika Serikat untuk menyerang dua pangkalan udara Rusia di wilayah yang didudukinya di Luhansk timur dan Beryanks bagian selatan.

Presiden Ukraina Volodymir Zelenskii sendiri yang menyebutkan, Operasi Capung menggunakan rudal-rudal taktis ATACMS berhasil menghancurkan sembilan helikopter, sejumlah peluncur rudal dan gudang persenjataan musuh.

“Terima kasih Amerika Serikat, saya senang perjanjian (pengiriman rudal) dengan Presde Joe Biden berjalan baik, “ ujar.

Sebaliknya, media Rusia mengutip telegram dari unit pasukan Rusia di wilayah pendudukan Zaporizhia menyebutkan, sejumlah serpihan rudal ATACMS di TKP, mengonfirmasi kecurigaan mereka tentang penggunaan rudal tersebut.

Selama ini, baik pihak AS mau pun Ukraina menyembunyikan adanya bantuan rudal ATACMS tersebut selain peluncur roket HIMARS (Sistem Roket Mobilitas Tinggi), tank Abrams MIA, rudal anti pesawat Stinger dan rudal anti tank Javelin.

Sistem rudal permukaan ke permukaan ATACMS buatan Lokheed Martin berjankauan sampai 300 Km dengan bahan bakar propelan padat, tinggi 4,0 meter, diameter 610mm dan dibandrol Rp22,8 miliar per unit.

Di satu pihak, pasokan persenjataan canggih bagi Ukraina bisa mengubah situasi di medan tempur, namun yang dicemaskan terjadinya eskalasi pertempuran, karena dengan persenjataan baru tersebut Ukraina mampu melancarkan ofensif, tidak sekedar bertahan seperti sebelumnya.

Yang jelas, jika terjadi eskalasi pertempuran, jumlah korban bakal terus meningkat, dan yang  paling sengsara tentu saja rakyat yang tidak berdosa.

Angka korban Perang Rusia vs Ukraina yang berkecamuk sejak 24 Feb. 22, menurut laporan the New York Times sampai Agustus lalu tercatat sekitar 500-ribu orang.

Korban militer di pihak Rusia, hampir 300.000 orang, sekitar 180.000 orang di antaranya tewas, 120.000 orang luka-luka, sebaliknya, Ukraina kehilangan 70.000 anggota tentaranya dan sampai 120.000 lainnya terluka.

Kerugian tak hanya dialami kedua belah pihak yang bertikai, tetapi juga berbagai negara yang rantai pasok impor pangannya terganggu dan melonjaknya harga energi global.

Perang hanya menyengsarakan, yang untung cuma perusahaan dan pialang alutsista. (AFP/Reuters/ns)

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement