
KETIGA pasangan capres dan cawapres dalam Pilpres 2024 yang diusung koalisi parpol terkonsentrasi untuk memperebutkan perolehan suara di Pulau Jawa yang merupakan separuh dari jumlah rakyat yang memiliki hak pilih.
Di hari pertama pendaftaran paslon capres/cawapres, Kamis (19/10), baru dua paslon yang mendaftarkan di Gedung KPU, Jakarta Pusat, yakni paslon Amin (Anies Baswedan/Muhaimin Iskandar) dan paslon Gama (Ganjar Pranowo/Mahfud MD).
Paslon Amin diusung Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP) terdiri dari Partai Nasdem, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) hadir lebih dulu di Gedung KPU, Kamis pagi sekitar pukul 08.00.
Sementara paslon Gama yang diusung Koalisi antara PDIP, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Perindo dan Partai Hanura tiba di Kantor KPU sekitar puk ul 10.00 pagi.
Ganjar di depan pendukungnya a.l. menyebutkan, pencalonannya sebagai capres dan pasangannya, Mahfud MD sebagai capres, bukan persoalan keluarga, partai atau golongan, tetapi persoalan besar untuk membangun bangsa dan negara.
Sementara Mahmud mengemukakan, NKRI yang bermartabat dan berdaulat, tidak dipengaruhi pihak lain, berkeadilan dan rakyatnya sejahtera harus diperjuangkan karena jika tidak, sulit mencapai era emas pada 2045.
Mahud MD berseloroh, kemeja putih yang dikenakannya saat itu adalah baju sama yang dikenakan saat ia dicalonkan sebagai cawapres Jokowi pada Pilpres 2019 namun tiba-tiba di mnit-menit terakhir dibatalkan.
“Ini pakaian yang saya kenakan saat gagal menjadi cawapres lima tahun lalu. Ada pesan dari Allah, tunggu lima tahun lagi, “ tutur Mahfud MD yang menciptakan rasa haru para pendukungnya.
Menurut catatan, setelah diminta untuk mengepas setelan pakain yang akan dikenakan untuk mendaftar di KPU pada Pemilu 2019, Mahfud yang menunggu di tempat lain saat petinggi koalisi sedang rapat, tiba-tiba dikabari pencalonannya dibatalkan.
Saat itu berdasarkan informasi yang beredar, ia dijegal oleh sesama kelompok nahdliyin (NU) yang berseberangan, sementara Mahfud MD sendiri dikenal dekat dengan kelompok Gusdurian (Gus Dur).
Sementara paslon Anies dan Muhaimin Iskandar mengemukakan dari perjalanan mereka berkeliling daerah, mereka makin meyakini, rakyat menghendaki perubahan ke arah yang lebih baik.
Tinggal Koalisi Indonesia Maju atau KIM (Partai Gerindra, Partai Golkar, Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional, Partai Solidaritas Indonesia, Partai Bulan Bintang, Partai Gelora dan Partai Garuda yang belum mengumumkan cawapresnya.
“Ojo kesusu, ojo grusa-grusu, “ demikian selalu jawaban Ketum Gerindra Prabowo Subianto yang didapuk sebagai capres KIM jika didesak wartawan kapan paslon akan mendatarkan diri ke KPU dan siapa nama cawapres pendampingnya.
Sederetan nama digadang-gadang oleh KIM bakal calon cawapresnya, mulai dari Menteri BUMN Erick Thohir yang diajukan PAN, Ketum partai Golkar Airlangga Hatarto, Ketum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan sejumlah nama lainnya.
Nama bakal cawapres KIM yang santer disebut-sebut adalah Walikota Solo Gibran Raka Buming Raka berusia 36 tahun yang berdasarkan hasil gugatan uji materi, dikabulkan Mahkamah Konstitusi, Senin (16/10) lalu.
Hasil uji materi tersebut memicu polemik dan pro-kontra terkait kewenangan MK memutuskan persyaratan usia minimal capres/cawapres, tetap 40 tahun, namun pengecualian bagi calon yang pernah atau sedang menjabat kepala daerah.
Berdasarkan suatu hasil survei (18 Okt), elektabilitas paslon Ganjar/Mahfud MD (Gama) dan paslon KIM (Prabowo/Gibran (jika jadi disandingkan), saling berkejaran (di atas 30 persen), sebaliknya paslon Amin (Anies/Muhaimin) sekitar 20 persen.
Elektabilitas, capres sendiri sejauh ini Ganjar unggul dengan 31,04 persen, Prabowo 21,4 persen dan Anies 10,8 persen.
Battle Ground di P. Jawa
Bagi ketiga paslon presiden/wapres, battle ground (medan pertempuran) yang perolehan suaranya harus dimenangkan adalah di P. Jawa dengan jumlah pemilih 115,3 juta atau lebih separuh dari total penduduk yang memiliki hak pilih (204,8 juta).
Jika dirinci, jumlah pemilih terbanyak adalah Jawa Barat (35,7 juta), disusul Jawa Timur (31,4 juta), Jawa tengah (28,29 juta), Banten (8,4 juta), DKI Jakarta (8,25 juta) dan DI Yogyakarta (2,87 juta), sisanya di luar P Jawa.
Mengingat sekitar 163 juta orang atau 80 persen penduduk dengan hak pilih adalah muslim dan separuhnya (81,5 juta) berafiliasi atau beraliran nahdliyin (NU) yang tersebar di Jawa Timur dan Jawa Tengah, perebutan perolehan suara juga bakal terkonsentrasi di kedua provinsi tersebut.
Bagi KIM, pilihan cawapresnya kemungkinan Gibran yang diharapkan mampu mendulang suara di Jawa Tengah, pemilih pemula dan juga limpahan suara para pendukung setia Presiden Jokowi atau Gubernur Jawa Timur, Kofifah Indar Parawansa untuk menggaet warga nahdliyin dan warga Jatim lainnya yang ia pimpin selaku kepala daerah.
Suara nahdliyin sendiri bakal terpecah, sebagian bisa jadi bakal condong ke paslon Ganjar/Mahfud MD, sebagian lagi bergabung ke paslon Prabowo dan pasangan wapresnya (?) atau ada juga yang merapat ke paslon Anies/Muhaimin Iskandar.
Bagi Ganjar, ia mendapat manfaat ganda dengan memilih Mahfud MD sebagai capres pendampingnya, selain diharapkan menarik suara dari para nahdliyin, juga integritas, kompetensi dan kegigihannya sebagai pendekar hukum dikenal luas.
Ketiga paslon tampaknya harus menghitung-hitung dengan cermat perolehan suara dari berbagai segmen, mulai dari letak geografis, aliran (nasional dan religius), generasi tua muda dan lainnya.
Rakyat menanti muncunya pemimpin yang amanah, berintegritas, memiliki nyali untuk melawan ketidakadilan, dan memiliki greget dan komitmen kuat untuk membasmi praktek korupsi.




