Hari Pemuda Disumpahi

Salah satu contoh bahasa anak muda sekarang, yang tak peduli lagi dengan tata krama menulis yang benar.

TANGGAL  28 Oktober 2023 lalu bangsa Indonesia memperingati Sumpah Pemuda yang ke-95. Pada tanggal tersebut  95 tahun lalu, sejumlah Pemuda Indonesia berkumpul di Jakarta untuk bersumpah dan bertekad bahwa: bertanah air satu Indonesia, berbangsa satu Indonesia dan berbahasa satu Indonesia. Inilah pondasi bangsa Indonesia menggapai kemerdekaaan, yang baru dicapainya 17 tahun kemudian 17 Agustus 1945.

Berbahasa satu Indonesia, bukan berarti lalu melupakan dan mengabaikan bahasa daerah yang berlaku di Indonesia. Sebab itu merupakan alat komunikasi awal untuk menyampakan cipta rasa dan karsanya sebagai putra-putri bangsa Indonesia. Cuma karena dinamika zaman, dari 718 bahasa daerah itu tak lagi eksis di tengah masyarakat. Banyak yang rusak akibat pengaruh bahasa lain, baik dari dalam maupun luar negeri. Tapi ini resiko yang tak bisa dihindari, akibat para anak bangsa yang aktif berinteraksi dengan suku dan bangsa lain.

Bahasa Indonesia yang telah diakui sebagai bahasa persatuan, berangkat dari bahasa Melayu yang digunakan juga di Malaysia. Karenanya orang Indonesia yang bepergian ke negeri jiran tersebut, tak harus berbahasa Inggris sebagai bahasa internasional. Pakai bahasa Indonesia pun pasti laku di sana, sebab mereka juga menggunakan bahasa Melayu kita. Bahkan sejak 26 Agustus tahun 1972, Indonesia dan Malaysia telah menggunakan ejaan bahasa yang sama, di mana di Indonesia disebut EYD (Ejaan Yang Disempurnakan).

Sebelum EYD diberlakukan, media masa banyak yang menolak rencana Menteri PDK Mashuri tersebut. Di antaranya mingguan Sketmasa terbitan Surabaya. Mereka menolak di antaranya karena akan menjadi pemborosan yang tidak perlu. Semua papan nama harus diganti, begitu juga dokumen-dokumen baik negeri maupun swasta. Tapi pemerintah jalan terus. Hasilnya, di awal-awalnya memang terasa lucu. Kota Ngandjuk menjadi Nganjuk, padahal dalam bahasa Jawa, nganjuk itu maknanya berdiri.

Sesuai dengan perkembangan teknogi, di mana internet bisa menggantikan televisi dan suratkabar dalam bentuk cetak di atas kertas, bahasa juga terkena pengaruhnya. Baik itu bahasa Indonesia maupun Bahasa Daerah. Sekedar contoh, kopi yang bahasa Indonesia dan bahasa Jawa berarti minuman, kopi bahasa sekarang bisa berarti naskah. Awalnya memang ditulis copy sebagai serapan bahasa Inggris, tapi lama sudah menjadi kopi biasa.

Yang menyedihkan, generasi sekarang tak peduli lagi dengan penulisan ejaan yang benar. Di mana kata di harus disambung dan dipisah, mereka sudah tak peduli atau mengerti. Padahal mestinya, di yang menunjukkan tempat harus dipisah, sementara di sebagai kata kerja harus disambung. Kemungkinan, sejak SD mereka tak diajarkan oleh gurunya, karena gurunya sendiri juga sudah tidak mengerti.

Pemakaian huruf besar juga kacau balau. Aturan resminya, huruf besar harus ditulis di paling awal kalimat. Huruf besar bisa ditengah kalimat manakala menyangkut lembaga atau singkatan, atau nama seseorang. Misalnya: Ketua MK Anwar Usman dikecam masyarakat, ada yang menulisnya demikian: ketua MK Anwar Usman di kecam masyarakat. Bahkan pemusik terkenal Ahmad Dhani, pun tak peduli dengan ejaaan Bahasa Indonesia yang benar. Huruf besar, pemisahan kata di, bodo amat bagi dia. Karena yang penting bisa dipahami.

Dan ini terjadi di kebanyakan generasi muda sekarang. Bahasa mereka dalam grup-grup WA, sangat kacau balau. Menulis mbak cukup mba, adik menjadi adek, pak menjadi pa. Apa lagi jika mengutip bahasa Jawa dalam narasi kalimat Bahasa Indonesia.  Misalnya, mangan sing enak menjadi: mangan seng enak. Aja ngentut nang kene, mereka tulis: aja ngent*t nang kene. Padahal kosa kata ngentut dan ngent*t artinya sangat berbeda.

Mereka susah dan tak mau dibetulkan, karena membaca bukanlah hobinya. Mereka rajin menulis di HP juga setelah ada HP canggih yang tak sekedar bisa mengirim SMS seperti sebelumnya. Begitu juga narasi dalam Youtube maupun TikTok, sama kacaunya. Lalu kesalahan ini tanggungjawa siapa? Lagi-lagi gurunya waktu di SD dan SMP sudah tak peduli akan hal beginian.

Anak-anak sekarang termasuk wartawan mudanya, juga tak bisa membedakan kata ingin, bikin, buat dan wafat untuk digunakan secara benar. Maka kemudian ada media online menulis: gadis itu lari ketika ingin diperkosa. Padahal mestinya harus ditulis: gadis itu lari ketika hendak diperkosa. Hendak dan ingin memang bisa berarti sama, tapi dalam kalimat yang berbeda, bisa beda pula maknanya.

Paling parah dan latah adalah pemakaian kata wafat. Semenjak pandemi Corona, pejabat dan media massa menuliskan seenaknya.  Dalam bahasa Indonesia yang benar dan diajarkan guru-guru dulu, wafat dipakai untuk istilah meninggal pejabat tinggi negara sekelas presiden. Untuk raja disebut mangkat, dan orang biasa diistilahkan tutup usia atau meninggal.

Tetapi selama pandemi Corona kemarin, hampir semua pejabat menyebut korban Covid-19 sebagai wafat, termasuk Gubernur Anies Baswedan. Jika pejabat dan pers sudah berbahasa Indonesia salah, dengan sendirinya rakyat akan menirunya. Sebab pers dan pejabat itu sesungguhnya juga gurunya Bahasa Indonesia.

Ada kabar baik dari eks Gubernur DKI yang kini ikut Nyapres. Katanya, bila nantinya berhasil menjadi Presiden RI, beliaunya akan menciptakan 250.000 kosakata baru yang diserap dari bahasa daerah dan bahasa asing. Kira-kira berhasilkah Anies Baswedan mau berlagak seperti Prof. Dr. Anton Mulyono? Jangankan ribuan, ratusan saja banyak yang tak berhasil.

Badan Pengembangan & Pusat Bahasa Kemendikbud pernah meluncurkan kata mangkus sebagai pengganti efektip dan sangkil sebagai pengganti efisien, tetapi tak laku di pasaran. Begitu pula kata perkosa diganti perundungan seksual, juga tak terserap dalam masyarakat. Yang aneh, sekarang spanduk penerimaan murid baru selalu menulis peserta didik untuk murid. Ini kan pemborosan kata, gara-gara oleh pakar apa-apa dibikin sukar.

Tapi separah-parahnya anak muda merusak Bahasa Indonesia, tak perlu disumpahi dalam peringatan hari Sumpah Pemuda ke-95 ini. Yang patut dan layak disumpahi adalah, anak muda yang hanya bermodal jadi walikota beberapa tahun sok-sokan kepengin menjadi wakil presiden. Bangsa Indonesia tidak mau pejabat yang munafik, pura-pura tidak mau tetap sesungguhnya sangat mau. (Cantrik Metaram).

 

 

 

 

Advertisement