Banjaran Sengkuni (5)

Haryo Suman diusir Satpam dari ruang parkir. Tapi ketika Satpam itu diberi uang Rp 100.000,- langsung diam tak berkutik.

HARYO Suman melirik areal parkir mobil di halaman Rumah Makan, ternyata cukup luas untuk berantem. Karenanya dia mencoba melayani tantangan Pandu. Ini peluang emas yang harus dimanfaatkan. Ini sungguh tawaran yang praktis ekonomis. Jika ikut sayembara langsung di Mandura kan harus pakai uang pendaftaran segala. Sedang ini sama sekali tidak mengeluarkan biaya, dimintai NPWP juga tidak.

Di samping itu, Haryo Suman pede sekali akan dirinya, karena dilihatnya Pandu ini tampilannya tak meyakinkan. Muka pucet, leher tengeng, tidak banyak omong, mirip Gibran Rakaopan Cawapres Prabowo. Dia pikir, sekali kepret tanpa minta bantuan ekonom Lizal Lamli pun, dengan mudah putra Prabu Abiyasa ini bisa ditumbangkan, dan Dewi Kunthi bisa menjadi miliknya.

“Bener, kamu berani lawan saya?” tantang Pandu sambil singsingkan lengan baju.

“Kenapa tidak? Wayang model kamu, kecil buatku. Tinggal pilih kamu; tangan kiri masuk Rumah Sakit, tangan kanan langsung TPU Pondok Ranggon.” Ujar Haryo Suman sembari mengepalkan tinjunya, baik tangan kiri maupun tangan kanan.

“Jangan sombong kau!”

“Ya lihat saja.”

Demikianlah kedua satria muda itu mulai berlaga dengan memamerkan segala kesaktian masing-masing. Tinggal Dewi Kunthi dan Gendari yang cemas, khawatir baik Haryo Suman maupun Pandu kalah bertanding dengan resiko kematian. Bukankah berjuang memperebutkan jodoh itu demi kenikmatan, bukan mencari kematian.

Ternyata Haryo Suman memang lebih gesit menguasai pertempuran. Pandu yang nampaknya lemes kurang tenaga, hanya dalam hitungan menit sudah berkali-kali berhasil dijatuhkan. Lagi-lagi Dewi Kunthi sangat panik, cemas jika nanti benar-benar diambil alih  Haryo Suman kesatria muda yang masih asing baginya. Mending anak muda Gibran Rakaopan, baru 2 tahun jadi Walikota sudah meloncat kepengin jadi Cawapres.

“Halah, gitu aja sudah KO! Bagaimana,  pertempuran dilanjutkan? Kalau kau menang lawan aku, kakang embok Gendari aku serahkan buatmu.” Ujar Haryo Sengkuni begitu jumawa, saat melihat Pandu nampak keteter.

“Dimas Haryo Suman, jangan lancang kau! Masak kakakmu sendiri dijadikan taruhan, tanpa ngomong dulu sama aku.” Protes Dewi Gendari, tetapi tidak digubris.

“Tenang saja Mbak, aku ada di sini….!” Gayanya kayak Cawapres Gibran Rakaopan.

Ribut-ribut kecil itu didengar oleh Satpam, apa lagi tampak banyak orang berkerumun di arena parkir. Satpam ingin membubarkan mereka yang sedang berantem, tapi Haryo Suman minta waktu barang sedikit. Ini bukan untuk konten Youtube, tetapi pertempuran demi menjaga harga diri. Dia menjamin bahwa tidak akan terjadi kerusuhan.

Tadinya Satpam bersikukuh untuk membubarkan dan mengusir, tapi begitu dikasih lembaran merah Rp 100.000,- langsung diam dan pergi meninggalkan  halaman parkir. Pertempuran babak dua berlanjut antara Haryo Suman melawan Pandu yang terduduk lesu di pojok. Napasnya nyenen-kemis seperti penderita asma habis berlari jauh.

“Hayo bangun! Pertempuran kita lanjutkan, atau kau memang benar-benar menyerah. Ingat, Dewi Kunthi akan menjadi milik gua, ha ha ha…..!” ujar Haryo Suman meledek dan menyepelekan calon penerus kerajaan Ngastina tersebut.

“Jangan takabur kau!” jawab Pandu dan segera menyerang Haryo Suman.

Kata-kata Haryo Suman yang menyepelekan dirinya itu menjadikan semangat Pandu menjadi berlipat-lipat, apa lagi jika ingat “buah duren” yang belum dibelahnya itu hendak dijarah.  Tanpa ampun Haryo Suman terus dijatuhi tinju bertubi-tubi, baik kepala maupun wajahnya dihajar habis-habisan. Hanya dalam tempo beberapa menit Haryo Suman terkapar mencium bumi, napasnya tinggal satu-satu aku sayang ibu……

Haryo Suman tidak segera menjawab, sepertinya sudah hendak mengucapkan selamat tinggal dunia fana! Melihat kondisi adiknya yang demikian, Dewi Gendari segera megejar dan ngrungkebi (merangkul) adiknya yang sudah asawang layon (bagaikan mayat). Tangisnya pecah! Dia tak mau adiknya mati terlantar di negeri orang, sementara dirinya akan menjadi barang rampasan Pandu yang baru saja dikenalnya.

“Bangun, bangun, adikku. Jangan tinggalkan aku sendirian di sini. Ya sudah, aku siap diambil istri Pandu, yang penting kau selamat!” ujar Dewi Gendari sambil menangis terisak-isak.

“Bener kakang embok? Kamu tak keberatan menjadi istri lawanku, Pandu?” kata Haryo Suman dengan sorot mata yang sayu, sementara napasnya tinggal dua-dua aku sayang ayah…..

Haryo Suman kemudian bangkit, lalu angkat tangan yang ditujukan kepada Pandu. Artinya, dia menyerah pasrah tanpa syarat. Saat itu juga Dewi Gendari diserahkan kepada Pandu, dan dia siap kembali ke negeri Gendara dengan tangan kosong. Yang penting kakak kandungnya itu diperlakukan dengan baik. Dipoligami macam orang PKS nggak papa, yang penting adil.

“Masih ada ongkos nggak?” tanya Pandu setelah menerima serahterima Dewi Gendari.

“Masih, masih kok. Cukup buat pulang ke Gendara.” Jawab Haryo Suman.

(Ki Guna Watoncarita)

 

 

 

 

 

 

Advertisement