
HARGA komoditas pangan terus naik akibat anomali musim sebagai dampak El Nino yang membuat kemarau panjang sehingga produksi pertanian anjlok, dan trennya diprediksi bakal terus melonjak menjelang nataru, Ramadhan dan Idul Fitri 2024.
BPS mencatat, inflasi per November 2023 meningkat secara tahunan (year on year) yakni 2,86 persenĀ atau naik 2,56 persen dari angka inflasi Oktober, sedangkan inflasi bulanan (month to month) lebih tinggi dari bulan sebelumnya atau bulan yang sama pada 2022.
Sedangkan berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi bulanan dan tahunan terbesar terjadi pada kelompok makanan, minuman dan tembakau. Kelompok tersebut mengalami inflasi tahunan 6,71 persen dan berkontribusi bagi 1,72 persen inflasi umum.
Secara bulanan, makanan, minuman dan tembakau mengalami inflasi 1,23 persen dengan andil sebear 0,32 persen terhadap inflasi umum.
Komoditi utama penyebab inflasi pada November 2023 yakni cabai merah dengan inflasi bulanan 42,83 persen dan memberikan andil 0,16 persen pada inflasi umum,Ā cabai rawit (inflasi 43,27 persen) dan andil 0.08 persen terhadap inflasi umum, lalu bawang merah (inflasi 11,49 persen) dan andilnya gai inflasi umum 0,03 persen. Ketiganya menyumbang hingga 0,27 persen terhadap inflasi umum.
Sebaran inflasi merata di seluruhnya 90 kota yang disurvei, bahkan 57 kota di antaranya seperti Tg Pandan, Bangka Belitung mengalami inflasi tahunan (5,9 persen) atauĀ lebih tinggi dari rata-rata inflasi nasional, sedangkan inflasi terendah di Jayapura (1,82 persen).
Menurut Direktur Eksekutif Institue for Development of Economic and Finance (Indef) Tauhid Ahmad memperkirakan, lonjakan harga pangan kemungkinan akan berlanjut palling tidak sampai Februari 2024.
Dari sisi produksi terutama padi, hujan ekstrim atau amusim kering berkepanjangan disebabkan oleh anomali iklim, diprakirakan bakal sering terjadi pada tahun tahun mendatangĀ akibat perubahan iklim yang sedang berlangsung.
Anomali iklim berupa El Nino dan La Nina di Samudera Pasifik serta Dipol Samudera Hindia (IOD) berkontribusi menurunkan produksi beras nasional sehingga serapan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) ikut turun.
Sawah yang kering atau terendam air bakal gagal panen, akibatnya karena produksi menurun, CBP ikut anjlok. Contohnya, saat IOD positif pada 2015, pengadaan CBP dalam negeri anjlok 16,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya (1,96 juta ton). Jumlah impor beras Bulog pun saat itu naik dua kali lipat menjadi 644.357 ton.
Pada pertengahan 2023, BMKG mengumumkan dampak El Nino dan IOD positif secara berbarengan, sehingga BPS memperkirakan produksi beras ikut turun 2,05 persen dari 31,54 juta ton pada 2022 menjadi 30,9 juta ton.
Selain akibat anomali cuaca yang menggerus produksi dan peningkatan konsumsi selama liburan nataru,Ā Ramadhan dan Idul Fitri, di tengah tahun politik menjelang Pemilu Serentak 2024 lonjakan harga pangan juga perlu diantisipasi.




