JAKARTA – Badan Wakaf Indonesia (BWI) telah mengembangkan Peta Jalan Wakaf Nasional. Ketua Pelaksana BWI, Prof Mohammad Nuh menjelaskan bahwa Peta Jalan Wakaf Nasional bertujuan untuk melakukan transformasi dalam pengelolaan wakaf, yang awalnya berfokus pada peningkatan jumlah wakif atau orang yang berwakaf.
“Memperbanyak orang yang berwakaf itu oke, tapi itu saja belum cukup. Oleh karena itu, kita ingin mentransformasi dari wakaf dan wakif menjadi pengelolaan yang lebih profesional, yang lebih produktif karena yang dibagikan ke mauquf alaih atau penerima manfaat wakaf itu hasil dari pengelolaan wakaf,” ujarnya usai acara Rakornas BWI 2023 di Jakarta, Senin malam (4/12/2023).
Nuh mengatakan bahwa yang dapat dibagikan dalam wakaf adalah hasil dari pengelolaan pokok atau induk wakaf. Oleh karena itu, pengelolaan hasil wakaf yang produktif menjadi fokus utama, karena yang dapat dibagikan adalah hasil produktivitas wakaf tersebut. Nuh menganggap bahwa ini masih belum cukup untuk mencapai transformasi.
“Tetapi itu saja belum cukup, kita ingin melakukan transformasi yang ketiga, yaitu cara menyalurkan penerima manfaat (wakaf) itu benar-benar memiliki dampak yang maksimal. Sehingga, kalau itu kita bisa lakukan maka wakaf akan mudah untuk kita transformasikan untuk menjadi transformasi yang keempat yaitu wakaf 4.0,” tuturnya, dilansir dari detik.com.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa penerima manfaat wakaf atau mauquf alaihi akan diupayakan untuk menjadi pemberi wakaf atau wakif. Hal ini karena mereka telah dibantu oleh hasil dari wakaf produktif. Oleh karena itu, penerima wakaf awalnya akan menjadi pemberi wakaf, sebuah harapan untuk masa depan.
Terakhir, Nuh menegaskan bahwa untuk memperkuat hal tersebut, tidak ada cara lain selain dengan memperkuat nazir dan membuat mereka semakin kompeten. Karena, nazir berperan sebagai pengelola harta wakaf.





