
BAGI orang Jawa yang pernah mengalami hidup di Jawa (dalam arti: Jatim, DIY, dan Jateng) cukup lama, kata makian kasar bagi teman akrab takkan lagi bermakna kasar, apa lagi menusuk perasaan. Cuma generasi muda Jawa kini yang kurang literasi, yang tak pernah minum air, makan dan BAB di Jawa, bisa kaget mendengar ucapan kasar seseorang, apa lagi ditujukan pada keluarga dekatnya.
Ketika penulis mengikuti Konggres Tandingan Sastra Jawa di Unes (Universitas Negeri Semarang) tahun 2006, di jam rehat mendadak mendengar ucapan begini, “Kowe kok isih urip ora modar-modar. Asu ki……!” Yang ditembak namanya Pak Prenjak, warga Ambarawa kidul Semarang. Tapi dia sama sekali tidak tersinggung dan marah, justru tertawa terkekeh-kekeh, lalu menyalami sobat lama.
Padahal anak Pak Prenjak sempat kaget dan emosi atas ucapan tersebut. Maklum, jika diindonesiakan, kalimat itu mengandung makna: kamu kok nggak mampus-mampus sih. Anjing…..! Nah, anak cap apa yang takkan marah jika ayah kandungnya dimaki orang sekasar itu. Tetapi setelah melihat ayahnya hanya ketawa-ketawa saja, anak Pak Prenjak pun bisa memaklumi. Mungkin batinnya mengatakan, “Oo, gitu ya orang dulu kalau ketemu teman lama.”
Beberapa hari ini sedang ramai jadi pembicaraan, gara-gara dalam rapat intern Gerindra ada orang bertanya soal etik. Tiba-tiba Prabowo menjawab ketus, “Ndhasmu etik!” Pertanyaan itu sepertinya berkonteks dengan serangan Capres Anies Baswedan pada Capres Prabowo beberapa waktu lalu, saat debat para Capres di KPU. Saat itu Anies mempertanyakan sikap Prabowo, ketika Cawapresnya ternyata terjadi pelanggartan etika dari keputusan MK di mana ujung-ujungnya melahirkan keputusan MKMK (Majelis Kehomatan MK).
Kata para elit KIM (Koalisi Indonesia Maju), ucapan Prabowo itu hanya candaan belaka. Tetapi karena sempat “bocor alus” di medsos, ramailah jadinya. Lawan Capres No. 2 menjadikan “ndhasmu etik” itu sebagai gorengan, sedangkan kubu KIM berusaha menetralisirnya. Yang jelas, kadar kekasaran makian tersebut tergantung di mana diucapkan, dan untuk siapa pula makian tersebut.
Dalam bahasa Jawa, makian kasar semacam itu juga ombyokan. Jika boleh mengoreksi, mestinya Prabowo mengatakan, “etik ndhasmu!”, bukan “ndasmu etik”. Jika merujuk bahasa Indonesia dengan hukum DM (Diterangkan Menerangkan) versi sastrawan Balai Pustaka Sutan Takdir Alisyahbana, memang sudah benar. Tapi untuk tata bahasa Jawa, itu terbalik. Namu demikian harus dimaklumi saja, Prabowo meski keturunan Jawa Banyumas kan dari kecil di luar negeri. Belum pernah ada celetukan dia dalam bahasa Jawa. Kalau soal ngomong Inggris tentu saja, dia sudah seperti rambutan Aceh (baca: ngelotok sekali).
Dalam makian bahasa Jawa yang umum, ketika membawa-bawa kepala orang, maka makian yang sering terdengar adalah: ndhasmu atos, ndhasmu njeblug. Kalau orang Betawi: kepala lu peang, kepala lu somplak. Tetapi lagi-lagi, jika diucapkan oleh teman akrab sendiri, yang kena makian semacam itu hanya akan tertawa saja.
Ini sama halnya dengan kata-kata misuh (memaki) harian ala budayawan Butet Kartaredjasa. Memaki asyu bagi dia sudah menjadi menu sehari-hari sebagaimana rokok yang dihisapnya. Tetapi lawan bicaranya tak pernah kaget, apa lagi tersinggung. Sebab kata asyu itu sudah tawar kekasarannya, karena yang mengucapkan sosok Butet Kartaredjasa. Tetapi coba bila yang ngomong demikian Presiden Jokowi atau Menteri, pasti akan menimbulkan reaksi berbeda.
Penulis pernah lama di Yogyakarta (1964-1970) dan Solo (1972-1976), dengan demikian sudah banyak menyerap kata-kata bagus dan makian ala Yogya maupun Solo), termasuk kosa kata cabul-nya. Orang Solo untuk memperhalus kata bajingan, dipelesetkan menjadi: bajindul dan bajinguk. Di Solo menyebut aktivitas seksual diistilahkan sebagai: thuthukan, ngenthu, atau gitikan kata orang Surabaya.
Di Yogya ketika mengancam teman akrabnya bukan dengan kata tak antemi tetapi tak kayang, tak antil. Begitu pula dalam sastra pedalangan, dalang Yogyakarta ketika membawakan adegan Prabu Baladewa sedang marah, kata-kata makian yang keluar tak jauh dari: sundel melem meker meker, atau ongkak angkik bedhagan elek. Kata-kata itu cukup dramatis, tetapi penonton takkan menilai kidalang bermulut urakan.
Begitulah, makian kasar tak selalu bermakna kasar, tergantung di mana tempatnya atau empan papan kata orang Jawa. Maka ketika Prabowo membela diri bahwa Bung Karno suka berjoged, semua itu tergantung di mana tempatnya. Ada foto-foto lama Presiden Sukarno berjoged bersama artis pada jamannya. Bukan sembarang tempat seperti Prabowo, sedikit-sedikit berjoged, sedikit sedikit berjoged, kenapa berjoged cuma sedikit? (Cantrik Metaram)




