Setelah shalat subuh, Muhammad Yatim, 38 tahun, sudah bergegas dari rumahnya di bilangan Parung, Bogor. Mengendarai motor bebek setianya, ia meluncur menuju kawasan Bintaro, Jakarta Selatan.
Hari itu, rutinitas mengantar anak ke sekolah harus ia tinggalkan karena panggilan dinas. Malam sebelumnya, seorang dermawan menghubunginya untuk menjemput zakat di kediamannya pagi hari sebelum berangkat ke kantor.
Kondisi seperti itu, tidak satu-dua kali terjadi. Namun demikian semuanya dilakoni Yatim, begitu ia dipanggil, dengan penuh keikhlasan. Isterinya Meli Kaswati, 36 tahun, dan 3 anaknya pun sudah mafhum. Mereka hanya bisa mengantarkan Yatim dengan doa. “Sering kali sebagian muzaki minta diambil zakatnya pagi hari,” ungkapnya.
Sejak tahun 2010, Yatim berdinas di bagian layanan jemput zakat Dompet Dhuafa. Ia tidak pernah pindah ke divisi lain sebagaimana rekan kerja lainnya yang mengalami rotasi. Bukan tanpa alasan Yatim tetap bercokol di posisinya, itu karena memang donaturnya yang meminta. Banyak muzakki yang terlanjur nyaman dengan pelayanannya.
Pernah suatu kali, karena suatu alasan, posisi Yatim diganti dengan tim lainnya. Namun kemudian, donatur yang ingin dijemput zakatnya protes. “Ketika saya digantikan teman, karena ada halangan, ada muzaki yang memilih untuk tidak menyetor zakatnya dan menunggu kesempatan saya untuk mengambilnya,” kisah Yatim.
Awalnya, pekerjaan itu kurang menarik baginya. Namun lama kelamaan malah menjadi menyenangkan dan 5 tahun terakhir pekerjaan menjemput zakat semakin menyenangkan. Salah-satu yang membuat dia senang adalah para muzaki menjadi semakin akrab dan dekat dengannya.
Saking akrabnya, ketika bertemu dengan muzaki, obrolan tidak lagi hanya sekedar masalah zakat, infak, sedekah dan wakaf. Namun, sudah sampai pada masalah pribadi masing-masing.
Namun diakui Yatim, masih ada juga donatur yang simpel. Kita datang, dia serahkan uang dan selesai. Tapi jumlahnya hanya beberapa orang saja dari semua “pelanggan” yang ditangani Yatim.
Ketika ditanya, kenapa muzaki puas dengan layanan yang ia berikan. Ia sendiri juga heran, ia hanya bisa menerka. “Mungkin karena setiap saya terima donasi saya selalu membacakan doa untuk mereka, kemudian saya juga jelaskan program-program Dompet Dhuafa apa saja yang saat ini membutuhkan dukungan dana,” jelas Mas Yatim.
Bahkan tidak jarang agar donatur puas, ayah dari Muhammad Syaid Sabil Al Faqih (12 tahun), Ummu Aulia Dhiatuzzahrah Shifqi (9 tahun), dan Aisyah Putri Nurramadhani (4 tahun), ini membawa rekannya dari bagian program untuk menjelaskan ke donatur tersebut.
Manager Customer Relation Management (CRM) Dompet Dhuafa, Danar Dona, atasan Yatim membenarkan, bahwa kehadiran Yatim di depan donatur sangat spesial. Hal ini menempatkan layanan jemput zakat menjadi salah satu pilihan bagi donatur. Saat memasuki bulan Ramadhan, kesibukan Yatim pun semakin meningkat.





