
BANDUNG –Â Julian Dwi Setiyono, Masinis KA Lokal Bandung Raya, menjadi satu dari tiga korban tewas tabrakan dengan KA Turangga di Cicalengka, Bandung Jumat (5/1) pagi.
Julian Dwi Setiyono meninggalkan seorang istri, Santika Fujasari, yang dinikahinya pada 3 Maret 2019, dan meninggalkan seorang anak perempuan berusia dua tahun, yakni Ayasha Halwa Zafirah.
Dikutip dari Tribunnews, sebelum menjadi masinis, Julian Dwi Setiyono pernah bekerja di sejumlah tempat, misalnya sebagai staff di PT SARI Enesis Indah, drafter di PT Wethco Indonesia, serta PPPPTK BMTI (TTUC/TEDC) Bandung.
Sekitar tahun 2014, baru dia bergabung dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan menjalani Diksarwira. Diksarwira adalah kegiatan yang merupakan syarat wajib ketika diterima dan akan diangkat menjadi pegawai PT KAI.
Masinis KA Lokal Bandung Raya Julian Dwi Setiyono bersama Santika Fujasari dan sang anak.
Di akun Instagram-nya, Julian Dwi Setiyono mengunggah petikan ceramah dari Ustaz Oemar Mita sebagai postingan terakhirnya.
Dalam petikan video yang di-post Julian Dwi Setiyono, Oemar Mita menyinggung tentang kematian hati.
“Banyak orang yang hidup jasadnya, tapi mati hatinya. Makanya sampai para ulama mengatakan, orang yang paling buruk adalah orang mati hatinya sebelum mati fisiknya.”
“Orang kalau mati hatinya sebelum mati fisiknya, maka apapun yang dia perbuat tidak akan pernah mendatangkan kemaslahatan.”
“Kalau hatinya sudah betul-betul mati, yang dia tuju hanya mengagungkan nafsunya, memenangkan egonya,” kata Oemar Mita dalam video yang diunggah Julian Dwi Setiyono pada 20 Desember 2023 lalu.



