
SERANGAN rudal Iran ke kota Erbil, Irak Senin dini hari waktu setempat (16/1) menghancurkan rumah dan jutawan etnis Kurdi, Peshra Dizaye dan rumah serta kantor Intelijen Irak memperluas eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Garda Revolusi Iran (IRGC) yang merupakan bagian kekuatan militer negara di teluk Persia itu sendiri mengakui, pihaknya yang melakukan serangan tersebut bertujuan menyasar markas intelijen Israel di Irak.
Pada saat hampir bersamaan, IRGC juga meluncurkan dua rudal ke markas Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) sebagai balasan atas serangan bunuh diri yang dilancarkan kelompok teroris tersebut di Iran beberapa waktu lalu.
“Iran menghormati kedaulatan dan integritas negara lain, tetapi kami juga berhak dan wajib mencegah keamanan nasional kami, “ ujar Jubir Kemenlu Iran Nasser Kanaani.
Iran dan Irak, dua negara bertetangga, pernah terlibat perang besar  hampir delapan tahun lamanya (1980 – 1988), dipicu sengketa perbatasan yang menewakan sekitar 350.000 sampai 875.000 anggota pasukan dan milisi kedua belah pihak.
Sementara eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah tak terelakkan, kali ini  dipicu konflik di Gaza antara kelompok Hamas vs Israel terkait sengketa klasik antara zionis Israel dan negara-negara Arab sejak 1948..
Serangan Hamas dengan guyuran ribuan roket ke wilayah Israel selatan, penyusupan anggotanya dan penyanderaan 240 warga sipil pada 7 Okt. ’23 dibalas jauh lebih brutal dan mematikan oleh Israel selang sehari kemudian (8/10) dengan membombardir Jalur Gaza yang dihuni warga Palestina
Sampai 17 Jan., selain membuat wilayah Gaza luluh-lantak akibat bombardemen tanpa henti, tembakan artileri dan tank-tank, diperkirakan sudah 24.000 lebih korban tewas, 60.000 luka-luka, lebih separuhnya anak-anak dan perempuan.
Milisi Hezbollah dukungan Iran yang bermarkas di Lebanon, sebagai empati terhadap Hamas, membuka front baru dengan meluncurkan serangan roket ke posisi pos pasukan Israel di Gunung Meron, Israel Utara (6/1).
Serangan itu sekaligus juga dilakukan sebagai balas dendam atas tewasnya Wakil Pemimpin Hamas Saleh-al Arouri bersama empat komandan Hamas dan dua orang lainnya saat berada di Lebanon, diduga akibat serangan drone Israel.
Jubir Israel Mark Regev sendiri tidak memberikan konfirmasi terkait kematian Arouri dan seperti biasa, menyampaikan pernyataan
Mengenal Hezbollah
Milisi Hezbollah dukungan Iran beraliran Syiah, ideologi nasionalisme Islam yang berdiri pada 1985Â aktif melakukan aksi-aksi perlawanan terhadap zionisme Israel, anti semitisme, Barat dan imperialisme, diperkirakan beranggotakan sekitar 60.000 orang.
Sementara di Laut Merah, sebagai bentuk dukungan terhadap Hamas, milisi etnis Houthi di Yaman dengan kapal-kapal cepat miliknya menyerang kapal-kapal  tanker yang ditengarai berlayar dari atau menuju Israel (10/1).
Tak pelak lagi, dua hari kemudian (12/1) dengan dalih mengganggu pelayaran internasional, pesawat-pesawat tempur AS dan Inggeris yang berpangkalan di Bahrain serta armada laut di sekitar Laut Tengah menyerang markas Houthi di ibu kota Yaman, Sanaa dan Taez serta  bandara Hodeida
Milisi Houthi beraliran sekte Syiah Zaidyiah yang didirikan di kota Saada, Yaman pada 1990-an didukung Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh yang berhasil menggulingkan Presiden petahana  Abdurabouh  Mansur yang didukung Arab Saudi. .Houthi mengklaim memiliki 100.000 -an anggota.
Tak pelak lagi, dua hari kemudian (12/1) dengan dalih mengganggu pelayaran internasional, pesawat-pesawat tempur AS dan Inggeris yang berpangkalan di Bahrain serta armada laut di sekitar Laut Tengah menyerang markas Houthi di ibu kota Yaman, Sanaa dan Taez serta  bandara Hodeida.
Pencegatan kapal-kapal tanker yang lalu-lalang di Laut Merah dikhawatirkan akan melonjakkan harga minyak mentah global yang mulai merangkak naik sekitar empat dollar AS dan membuat tarif angkutan peti kemas dari pantai timur AS dan Afrika juga ikut terkatrol naik.
Selain menambah keruwetan situasi keamanan di Timur Tengah, eskalasi konflik juga dikhawatirkan akan terus menyeret kekuatan lain dan yang jelas, menciptakan distorsi perekonomian global. (Reuters/AP/AFP/ns)




