
AUSTRALIA, tetangga “halaman belakang Indonesia” tidak ingin mengambil risiko terhadap sepak terjang China di perairan Laut China Selatan (LCS) sehingga berusaha melipatgandakan kemampuan militernya.
Untuk itu, seperti dikutip Reuters dan AFP (20/2), negara kanguru itu mengalokasikan dana 54 miliar dollar Australia (sekitar Rp554 triliun) dalam sepuluh tahun ke depan untuk membangun kekuatan AL terbesar sejak Perang Duna II.
Sebayak 26 kapal perang akan dibangun atau dua kali lipat lebih jumlahnya dibandingkan sebelas kapal perang yang dimiliki Australia saat ini. “Ini armada terbesar yang akan kami miliki sejak PD II, “ ujar Menhan Australia Richard Marles.
Menurut catatan, Australia bersama Amerika Serikat dan Inggeris membentuk aliansi pertahanan AUKUS medio Septe. 2021, yang di dalamnya termasuk program kerjasama untuk membangun lima kapal selam nuklir.
Dari catatan Global Fire Power, anggaran militer Australia 2024 bertengger di ranking ke-9 global dengan nilai 52,559 miliar dollar AS atau setara Rp867,76 triliun. Bandingkan dengan angaran militer RI di raking ke-17 sekitar 8,9 miliar dollar AS (Rp139 triliun).
AB Australia berkekuatan 59.000 personil aktif dan 20.000 personil cadangan, AU-nya mengoperasikan 430 unit aneka pesawat, termasuk 63 pesawat siluman generasi ke-5 buatan AS Super Lightning F-35A dan 24 unit F-18 Hornet buatan AS an 22 helikopter serang tseperti Apache buatan AS.
AD Australia mengoperasikan 59 tank Abrams MiA1 buatan AS,1.765 aneka kendaraan lapis baja termasuk buatan lokal Boxer dan 54 meriam tarik.
Armada lautnya didukung 43 kapal perang, terdiri dari enam kapal selam, dua pengangkut heli, tiga destroyer, delapan fregat dam 12 kapal patrol serta empat penyapu ranjau.
Sementara itu, agresivitas China mencemaskan negara-negara tetangganya karena selain masih bersengketa dengan Brunei, Malaysia, Filipina dan Vietnam, juga megklaim 90 persen kawasan seluas dua juta KM2 di LCS dalam sembilan garis putus-putus (nine-dashline) sebagai wilayah teritorialnya.
Si Vis Pacem para Bellum, negara yang cinta damai harus siap perang, ungkap kredo lawas. (AFP/Reuters/ns)




