Makanan Pokok Tak Hanya Beras

Program diversifikasi pangan misalnya dengan mengembangkan umbi-umbian yang banyak dijumpai perlu dilakukan agar tidak tergantung beras yang harganya terus membubung tiggi.

PROGRAM diversifikasi pangan yang pernah dicanangkan di era kepemimpinan Presiden pertama RI Ir. Soekarno beberapa dekade lalu  agaknya perlu direvitalisasi lagi guna menghindari  ketergantungan pada beras.

Pasalnya, beras yang merupakan makanan pokok rakyat Indonesia harganya terus merambat naik sejak awal Januari lalu a.l akibat molornya panen raya dari Februari ke Maret sebagai dampak perubahan cuaca akibat el Nino. Harga beras tertinggi saat ini di Papua yakni rata-rata Rp21.500 per kg dan termurah di Jambi, Rp12.575 per kg.

Kenaikan harga beras global akibat sejumlah negara produsen beras utama seperti India mengurangi ekspor karena lebih mementingkan kebutuhan dalam negeri dan kemungkinan juga naiknya permintaan di dalam negeri untuk program bansos menjelang Pemilu 2024 ikut berkontribusi mengatrol harga beras.

Harga beras tinggi dalam setahun teakhir ini tetap bertengger akibat sejumlah faktor a.l. kenaikan biaya produksi khususnya harga pupuk akibat konflik Rusia dan Ukraina dan anjloknya produksi beras nasional.

Dari sisi produksi, pada 2023 anjlok 645.000 ton menjadi 30,9 juta ton dari 31,54 juta ton pada 2022 akibat penurunan luas areal panen sekitar 255.000 Ha atau 2,45 persen.

Berdasarkan data Kerangka Sampel Area (KSA) yang dikutip Kompas (13/2), produksi gabah kering giling (GKG) pada Januari – Maret 2024 dipekirakan 10,1 juta ton atau jauh lebih rendah dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar 16 juta ton.

Proses penurunan produksi padi telah berlangsung selama lima tahun terakhir (2018 – 2023) dengan laju 1,6 persen sebagai akibat penurunan 1.8 persen luas areal tanam, sementara produktivitas relatif tetap yakni 52 kuintal per Ha, sedangkan konsumsi beras  pada lima tahun terakhir berfluktuasi naik-turun.

Kosumsi beras per kapita pada 2018 tercatat 80,461 kg, pada 2019 turun menjadi 78,429 kg, pada 2020 relatif stagnan 78,487 kg, pada 2021 naik menjadi 81,518 kg, lalu pada 2022 turun menjadi  81,044 kg dan pada 2023 naik sedikit menjadi 81,72 kg.

Di Indonesia sebenarnya banyak tanaman umbi-umbian yang bisa dijadikan alternatif makanan pokok, mulai dari beberapa jenis pisang,  umbi-umbian seperti kentang, ubi jalar, singkong, talas, bentul, porang, gembili  dan biji-bijian seperti jagung, gandum, jelai, jawawut dan juga tanaman sagu.

Masalahnya, program pasca panen dan pengolahan bahan pangan selain padi tidak dikembangkan dengan serius oleh pemerintah, bahkan seperti penduduk di Maluku dan Papua yang semula mengosumsi sagu, atau suku Madura yang mengosumsi jagung, kini beralih ke beras.

Sebaliknya, areal tanaman padi terus menciut akibat alih fungsi sawah-sawah subur di P. Jawa untuk pembangunan jalan, industri, mal-mal dan perumahan, sementara program intensifikasi melalui penelitian harus  dikembangkan untuk menciptakan varietas unggul yang produktivitasnya tinggi.

Ayo sosialisasikan lagi diversifikasi pangan, agar rakyat Indonesia tidak bergantung pada beras!

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here