Penting! Orang Tua Harus Tahu Ciri-Ciri Anak Jadi Korban Perundungan

Ilustrasi bullying. (Foto: CGN089/Shutterstock)

JAKARTA – Bullying, atau perundungan, merupakan bentuk penindasan yang dilakukan oleh seseorang yang merasa lebih kuat terhadap individu yang dianggap lemah.

Praktik bullying kerap terjadi di lingkungan sekolah. Karena itu, orang tua harus memahami ciri-ciri bullying pada anak agar kasus tersebut dapat ditangani.

Dr. Reisa Broto Asmoro, seorang praktisi kesehatan masyarakat, menyampaikan sejumlah tanda-tanda bullying pada anak yang perlu diketahui oleh orang tua.

“Orang tua perlu paham kondisi emosi anak yang mengalami perundungan. Contohnya seperti rasa gelisah, cemas, waspada, bahkan enggan atau takut mengikuti kegiatan-kegiatan di sekolah,” ujar Reisa dalam Siaran Sehat dengan topik “Jaga Anak Kita Dari Bullying” yang disiarkan Kementerian Kesehatan di Jakarta, Senin (26/2/2024).

Reisa kemudian menjelaskan tanda perundungan lainnya, yakni hilangnya teman secara tiba-tiba, anak selalu menghindari situasi sosial, serta barang-barang anak yang hilang atau rusak, baik berupa barang elektronik, pakaian, atau barang pribadi lainnya.

“Kadang kan suka ada bullying yang merampas ya, mengambil barang-barang tersebut,” ujarnya.

Tanda-tanda lainnya, mencakup permintaan uang yang tidak jelas dari anak atau permintaan uang yang di luar batas wajar dari kebutuhan biasa.

“Terus misalnya anaknya juga menurun prestasi akademiknya di sekolah. Anak itu jadi sering bolos, sering minta pulang. Terus banyak merasa tertekan kalau dia berada di lingkungan sekolahnya,” katanya.

Anak yang menjadi korban, lanjut Reisa, ingin selalu ditemani oleh orang dewasa karena merasa tidak nyaman atau tidak aman saat sendirian. Emosi korban juga dapat berubah, terkadang menjadi sangat tertutup atau bahkan agresif.

Reisa juga menyoroti tanda-tanda fisik seperti memar, goresan, atau luka yang tidak wajar, yang bisa menunjukkan adanya kekerasan fisik.

“Apalagi kalau dia menutup-nutupi, sengaja nggak mau ganti baju atau memperlihatkan tubuhnya. Menutup, tiba-tiba pakai hoodie terus, tiba-tiba pakai syal terus, dan lain sebagainya,” kata Reisa menjelaskan.

Tanda-tanda lainnya termasuk mimpi buruk, tidur yang tidak nyaman, dan kehilangan nafsu makan. Reisa menekankan pentingnya tindak lanjut jika anak mengalami keluhan fisik tetapi tidak mau bercerita.

“Atau misalnya cyberbullying, tiba-tiba dia terfokus terus dengan gadgetnya. Atau mungkin malah justru terbalik, dia nggak mau pegang gadgetnya,” katanya.

Reisa menilai perundungan sebagai suatu mata rantai yang harus diputus, karena dampaknya tidak hanya pada korban, tetapi juga pada pelaku dan saksi perundungan.

Mengingat kompleksitas permasalahan, Reisa menekankan perlunya penyelesaian menyeluruh yang melibatkan semua aspek kehidupan sosial anak, termasuk lingkaran pertemanan, keluarga, sekolah, dan masyarakat.

“Tidak ada seorang pun yang pantas dibully. Dan, tidak ada seorang pun yang boleh berdiam diri membiarkan hal itu terjadi. Karena, anak nggak semuanya bisa terbuka,” pungkas Reisa.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here