JAKARTA, KBKNEWS.id – Keputusan Uni Emirat Arab (UEA) untuk keluar dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) mengejutkan pasar global dan diperkirakan berdampak besar terhadap keseimbangan industri energi dunia.
Langkah ini dinilai dapat melemahkan struktur OPEC sekaligus mengurangi dominasi Arab Saudi sebagai pemimpin utama kartel tersebut.
UEA selama ini dikenal sebagai salah satu anggota paling berpengaruh karena memiliki kapasitas produksi cadangan yang besar.
Kemampuan ini memungkinkan mereka meningkatkan pasokan dengan cepat saat terjadi gangguan, sehingga berperan penting dalam menjaga stabilitas harga minyak global.
Dengan hengkangnya UEA, salah satu pilar utama pengendalian pasar oleh OPEC pun hilang.
Sejumlah analis menilai posisi Arab Saudi kini menjadi lebih rentan. Meski masih memiliki kapasitas besar untuk mengatur pasokan, absennya UEA membuat kemampuan OPEC dalam mengendalikan harga tidak lagi sekuat sebelumnya.
Keputusan ini juga tidak lepas dari ketegangan geopolitik di kawasan, termasuk gangguan ekspor akibat konflik dengan Iran di Selat Hormuz.
Di sisi lain, UEA menginginkan fleksibilitas lebih dalam menentukan produksi demi mencapai target peningkatan kapasitas hingga 5 juta barel per hari pada 2027.
Langkah keluar ini berpotensi menekan harga minyak dalam jangka panjang. Tanpa koordinasi ketat antaranggota, risiko kelebihan pasokan bisa meningkat.
Selain itu, perbedaan kepatuhan terhadap kuota produksi di dalam OPEC selama ini juga disebut menjadi sumber ketidakpuasan UEA.
Meski dampak langsung ke harga minyak belum signifikan, para pengamat memperingatkan potensi volatilitas yang lebih tinggi di masa depan.
Pasar dinilai bisa kehilangan “penjaga keseimbangan” yang selama ini membantu menahan harga agar tidak jatuh terlalu dalam saat terjadi surplus pasokan.





