
PRESIDEN petahana Republik Federasi Rusia Vladimir Putin hampir dipastikan bakal memenangi lagi pemilihan presiden 2024 yang digelar selama tiga hari, mulai Jumat (15 Maret) hingga Minggu. Putin mencalonkan diri untuk kelima kalinya.
Sekitar 112,3 juta penduduk Rusia dengan hak pilih akan mencoblos termasuk di Krimea yang dianeksasinya pada 2014 plus empat wilayah Ukraina dengan mayoritas penduduk pro Rusia lainnya yang bergabung pasca referendum pada 2022 lalu (Luhansk, Donetsk, Zaporizhia, Kherson) dan serta 1.9 juta warga Rusia di LN.
Putin diperkirakan bakal melenggang lagi ke tampuk kekuasaan Kremlin mengingat kandidat lain: Â Nikolay Kharitov (Partai Komunis Rusia), Leonis Slutski dari Partai Demokrat Liberal dan Vladislav Davankov dari Partai Rakyat Baru agaknya sulit menandinginya.
Sementara itu, politisi berliran liberal Boriz Nadezhdin yang menentang Perang Rusia di Ukraina gagal maju sebagai salah satu kandidat capres karena banyak tandatangan yang mendukungnya dianggap tidak sah.
Kematian tokoh perlawanan terhadap Putin, Alexei Navalny (47) dalam pengucilan di kompleks Penjara Arktik, Kota Kharp, wilayah Siberia, 17 Feb. lalu juga dikait-kaitkan dengan kebijakan tangan besi yang dipraktekkan rezim Putin.
Menurut keterangan Lembaga Permasyrakatan Federal Rusia, nyawa Navalny tidak bisa diselamatkan oleh petugas medis yang datang beberapa menit setelah ia jatuh pingsan saat melakukan aktivitas rutin sehari-hari.
Namun kecurigaan atas kematian Navalny muncul karena ia lolos dari usaha pembunuhan oleh penguasa Kremlin dengan racun syaraf Novichok sekitar tiga tahun lalu, kemudian ia dilarikan rekan-rekannya untuk mendapatkan pengobatan di Berlin, Jerman.
Kematian Navalny merupakan kehilangan besar bagi kelompok penentang Putin terutama para imigran Rusia yang bermukim di kota-kota di Eropa yang berunjukrasa dan kehilangan asa  mengusungnya untuk mengalahkan Putin.
Sementara itu, kepemimpinan Putin di Negara Beruang Merah itu yang terpanjang dibandingkan pemimpin Rusia lainnya. Ia diangkat sebagai penjabat presiden pada 1999, presiden sejak 2000 hingga 2008, lalu dari 2012 hingga kini dan sebagai presiden petahana yang mencalonkan diri lagi untuk kelima kalinya pada pilpres 2024
Serukan rakyat mendukungnya
Putin sendiri dalam pidatonya, Kamis (14/3) menyerukan agar rakyat berdiri di belakang pemerintah dan mendukungnya meliwati masa-masa sulit.
“Saya yakin kalian menyadari sulitnya situasi yang dihadapi saat ini, betapa kompleksnya tantangan yang dihadapi di hampir semua sektor, namun kita harus menghadapinya dengan bermartabat dan keluar sebagai pemenang, “ ujarnya.
Pereknomian Rusia terpuruk akibat terkurasnya anggaran negara untuk membiayai invasi ke Ukraina sejak 24 Feb. 2022 , ditambah hengkangnya sejumlah perusahaan asing dari negeri itu dan dikeluarkannya Rusia dari Sistem Transaksi in’tl (SWIFT).
Profesor politik Rusia di Cornell University Bryn Rosenfeld menilai, yang bakal dilakukan Putin pasca pilpres jauh lebih penting ketimbang pelaksanaan pilpres itu sendiri, dan ia cukup lihai untuk menunda kebijakan yang tidak populer hingga pemilu usai.
Konsolidasi dam moblisasi militer, menurut sejumlah pengamat merupakan langkah penting yang harus dilakukan Putin jika perang di Ukraina bakal memerlukan waktu lama.
Yang mungkin akan dimanfaatkan Putin melalui kekuatan militernya adalah melemahnya komitmen dukungan AS bersama kekuatan aliansi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) untuk mendukung Ukraina.
Upaya memenangi perang di Ukraina sekaligus menggerakkan roda-roda perekonomian Rusia agar lebih cepat berputar merupakan PR besar yang harus dikerjakan Putin pada periode kelima era kepemimpinannya jika terpilih lagi.




