Pria Ini 6 Tahun Hidup di Kerangkeng

ilustrasi

BANYUMAS – Puji Waluyo, 28 tahun, warga RT2/RW5 Desa Gerduren, Kecamatan Purwojati, Banyumas, Jawa Tengah. Ia sudah 6 tahun dikerangkeng di sebuah bilik kayu oleh keluarganya sendiri lantaran suka mengamuk dan bikin onar di masyarakat.

Sae’un, 33 tahun, kakak ipar Puji Waluyo, Rabu (15/6/2016), mengatakan, adik iparnya mengalami depresi berat sejak tahun 2010.

“Awalnya 2008 dia merantau ke Jakarta. Lalu di tahun 2010 pulang ke Purwojati dan mengadukan kepada keluarga kalau dirinya sedang bermasalah dengan teman di kontrakan yang meminjam uang, tetapi sulit ditagih. Setiap ditagih selalu marah-marah. Gara-gara itu, adik saya justru yang jadi stres,” ungkapnya.

Pikirannya gelisah akibat uang pinjaman sebesar satu juta lebih tak kunjung dilunasi oleh teman sekostnya, akhirnya dia mencoba mencari informasi orang pintar yang bisa meluluhkan hati si peminjam uang agar bisa mengembalikannya.

“Rupanya, pertemuannya dengan orang pintar atau Kasepuhan di Desa Sitinggil, Kecamatan Sidareja, Cilacap, memantapkannya untuk sekalian mendalami berbagai ilmu kebatinan. Namun jiwanya tak kuat, jadilah ia suka mengamuk, membanting piring, gelas, dispenser, kaca jendela rumah dan lain-lain,” terangnya.

Ketika keluar rumah, jalan-jalan, hampir selalu membuat onar di tengah masyarakat.

“Pernah memotong kabel listrik tetangga pakai golok. Sering juga mengambil baju jemuran warga. Karena makin membahayakan dan meresahkan kami rapatkan dengan RT sepakat mengkerangkengnya dengan membuat bilik kayu dan kakinya diikat rantai,” papar Sae’un.

Jika kaki tidak dirantai, kata Sae’un, akan mudah kabur dari bilik kayu. “Dulunya tak diikat rantai, tapi tenaganya yang kuat mampu merusak bilik kayu. Maka sekarang bilik kayunya juga dipersempit, agar ruang geraknya tak begitu bebas,” ujarnya.

Ibu dari Puji, Triyem 48 tahun, menambahkan pihak keluarga sudah berupaya dengan membawanya ke Ruang Sakit Jiwa Sakura, RSUD Banyumas hingga ke pengobatan alternatif serta kasepuhan. Tapi tidak ada kemajuan dalam kesembuhannya.

Puji Waluyo merupakan anak kedua dari lima bersaudara, pasangan Sumiarto Asrun dan Triyem. Pekerjaan Sumiarto Asrun hanya sebagai buruh tani tak sanggup membiayai pengobatan anaknya.

Kades Gerduren, Bambang Suharsono, menyatakan pihak pemerintah desa sudah melayangkan surat Bantuan Penanganan Penyembuhan Cacat Mental atas nama Puji Waluyo. Surat itu ditujukan ke Dinsosnakertrans Kabupaten Banyumas dengan tembusan Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas dan Komisi A DPRD Kabupaten Banyumas.

“Surat itu bernomor: 461/90/VII/2015, tertanggal 27 Juli 2015. Tapi samapi hari ini belum ada bantuan,” jelas Bambang Suharsono seperti dikutip KBK dari KRJogja.

Advertisement