RAFFAH – Ribuan warga Palestina di Raffah dipaksa mengungsi oleh Israel sebelum mereka menyerangnya pada Senin (6/5) malam waktu setempat.
Padahal Raffah merupakan salah satu tempat pelarian warga Gaza sejak Israel meluncurkan serangannya pada 7 Oktober 2023 lalu. Derita warga Palestina kian tak terarah, dan harus terus mengungsi ditengah gempauran-gempuran yang berpindah-pindah.
Di antara mereka yang melarikan diri adalah Ruqaya Yahya Baba, 18 tahun, yang ayahnya sudah berangkat untuk mencari tenda yang cukup besar untuk keluarga beranggotakan 10 orang. Dia dan kerabatnya memuat truk pickup yang rusak dengan tas dan koper di pagi hari.
Seperti semua orang yang memadati kota paling selatan Gaza, dia khawatir bahwa ancaman serangan militer Israel yang telah lama diancam akan segera terjadi. “Kami ketakutan dan kelelahan secara fisik dan mental,” kata Baba. “Kami telah mengungsi sebanyak lima kali selama perang ini.”
Keluarganya telah berpindah-pindah sejak terpaksa meninggalkan kota utara Beit Lahia pada hari-hari awal konflik, yang dipicu oleh serangan mendadak pada bulan Oktober yang dilancarkan Hamas ke Israel selatan yang menewaskan 1.200 orang, sebagian besar warga sipil. Rumah terbarunya adalah rumah yang sangat ramai di Rafah timur milik seorang teman keluarga.
Malam sebelumnya adalah malam yang “mengerikan dan menakutkan”, katanya. “Lingkungan kami dihujani bom, dari senja hingga fajar,” ujarnya ketakutan.
Israel sendiri kini berada di bawah tekanan besar untuk menerima gencatan senjata tiga tahap yang disepakati Hamas. Israel mendapat tekanan dari berbagai negara dan PBB, meski akhirnya tetap melakukan serangan-serangan di Raffah.





