JAKARTA – Sedikitnya 52 orang tewas dan 17 lainnya hilang setelah banjir lahar dingin menghancurkan rumah, gedung, dan fasilitas umum di Provinsi Sumatra Barat.
Pencarian orang hilang dilanjutkan pada Selasa dengan bantuan tambahan alat berat di lokasi kejadian.
“Jumlah jasad yang telah ditemukan saat ini ada 52 orang, dan jumlah yang masih hilang sebanyak 17 orang. Angka ini akan terus berubah karena orang-orang terus melaporkan tentang anggota keluarga mereka yang hilang,” kata Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatra Barat, Ilham Wahab, Selasa (14/5/2024).
Tim penyelamat bekerja di area terdampak banjir lahar dingin di Kabupaten Agam, Sumatra Barat, pada 12 Mei 2024. (Xinhua/Andri Mardiansyah).
Wahab menyampaikan bahwa upaya penanggulangan yang sedang berlangsung akan dibarengi dengan program rekonstruksi dan rehabilitasi.
Para ahli akan dilibatkan untuk mempertimbangkan apakah perlu merelokasi penduduk yang tinggal di daerah-daerah rawan bahaya, seperti di kawasan tepi sungai yang hulunya berada di lereng Gunung Marapi dan Gunung Singgalang, yang terus-menerus mengeluarkan material vulkanis, tambahnya.
Warga berupaya mengeluarkan mobil yang rusak dari genangan pasca banjir lahar dingin di Kabupaten Agam, Sumatra Barat, pada 12 Mei 2024. (Xinhua/Andri Mardiansyah).
Menurut Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letnan Jenderal Suharyanto, bencana alam tersebut telah memaksa lebih dari 3.000 orang meninggalkan rumah mereka dan berlindung di tempat yang lebih aman.
“Perbaikan jalan yang rusak menjadi salah satu prioritas dalam upaya penanganan darurat,” tuturnya.
Hujan deras yang terjadi pada Sabtu (11/5) malam waktu setempat memicu luapan air sungai yang menerjang sejumlah wilayah di Kabupaten Agam, Tanah Datar, dan Pariaman, serta Kota Padang Panjang.





