Perempuan lebih berisiko kena migrain

Perempuan terutama yang memasuki usia dewasa (pubertas) lebih berisiko tiga sampai empat kali terkena serangan nyeri kepala atau migrain.

PEREMPUAN  terutama yang sudah melewati pubertas tiga sampai empat kali lebih berisiko terserang migrain atau nyeri kepala, durasinya  juga lebih lama dan risiko kekambuhannya cukup tinggi.

Selain itu, kata Anggota Kelompok Kerja Nyeri Kepala Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Neurologi Indonesia (Perdosni) Rest Susanti, risiko disabilitas bagi perempuan yang terkena migrain sehingga waktu pemulihannya juga lebih lama.

Risiko tinggi migrain pada perempuan, ujarnya, dipengaruhi oleh hormone estrogen   yang merangsang saraf sehingga memicu migrain. Siklus naik turun kadar estrogen yang terjadi pada masa subur juga berkontribusi meningkatkan kerentanan migrain pada perempuan yang terjadi saat menstruasi dan kehamilan.

Serangan migrain pad perempuan meningkat cepat pada masa pubertas, lalu mencapai puncaknya pada masa reproduksi, lalu menurun pasca menopause, sedangkan obesitas, stress, paparan cahaya dan suara ekstrim juga menjadi faktor risiko.

Migrain adalah nyeri kepala berulang di mana serangannya terjadi di satu sisi kepala antara empat sampai 72 jam dengan kondisi berdenyut dalam intensitas sedang dan berat.

Migrain bisa maki parah jika orang yang mengdapnya melakukan aktivitas fisik dan bisa diikuti gejala mual serta muntah dan lebih sensitif pada suara keras dan cahaya terang.

Dalam sejumlah kasus, menurut Restu, nyeri akibat migrain bisa berdampak pada kualitas hidup seseorang, bahkan menganggu kemampuan fungsional dalam pekerjaan, sekolah atau interaksi sosial.

Untuk itu, penanganan yan tepat dituntut agar serangan migrain dapat diatasi, karena jika tidak, bisa berakibat kondisi makin memburuk sehingga memicu migrain kronis yakni nyeri kepala sampai 15 hari dalam sebulan.

Hal senada disampaikan anggota Pokja Nyeri Kepala PP Perdosni yang juga anggota  departemen neurlogi FK-UI Henry Riyanto yang mengatakan, penanganan tidak tepat dapat membuat kondisi migrain makin memburuk sehingga jika sudah sampai ke stadium  migrain kronis sulit sepenuhnya disembuhkan.

Waspada, jangan anggap enteng migrain! (Kompas/ns)

 

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here